KABARBURSA.COM - PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) mencatatkan pendapatan sebesar Rp2,28 triliun pada 2025, meningkat sebesar
1,31 persen Year on Year (YoY) yang didorong oleh kontribusi signifikan dari segmen rutin dan esoterik.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kontribusi signifikan dari segmen pemeriksaan rutin yang tetap menjadi tulang punggung bisnis, serta peningkatan permintaan pada layanan esoterik yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Di sisi lain, Beban Pokok Penjualan (COGS) PRDA tercatat Rp949 miliar, meningkat 5,42 persen YoY, seiring dengan peningkatan volume tes dan ekspansi layanan di berbagai wilayah.
Peningkatan biaya ini turut dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan medis, reagen, serta investasi pada kualitas layanan dan teknologi diagnostik. Hal ini berdampak pada laba kotor yang tercatat turun tipis 1,43 persen YoY, menjadi Rp1,33 triliun.
Meski demikian, PRDA tetap mampu menjaga profitabilitas operasional dengan mencatatkan Laba Usaha (EBIT) sebesar Rp225 miliar dan Laba Sebelum Pajak (EBT) tercatat Rp264 miliar.
Dengan Beban Pajak pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp58 miliar, Perseroan berhasil membukukan Laba Bersih sebesar Rp207 miliar.
Dari sisi posisi keuangan, total aset tercatat Rp2,70 triliun, menunjukkan kapasitas sumber daya yang kuat untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu total liabilitas sebesar Rp302 miliar dan Total ekuitas tercatat Rp2,39 triliun. Di samping itu, arus kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi tercatat Rp424 miliar. Secara keseluruhan, aktivitas investasi Perseroan memberikan kas sebesar Rp55 miliar.
Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty menyampaikan pendapatan sebesar Rp2,28 triliun pada tahun buku 2025 mencerminkan efektivitas strategi perusahaan dalam mengakselerasi inovasi, memperkuat ekosistem digital, serta mengoptimalkan jaringan layanan.
"Memasuki tahun 2026, Prodia akan semakin memperkuat pengembangan precision medicine-nya melalui ekspansi specialty clinic di bidang Stem Cell, Autoimmune, dan Longevity, serta penguatan ekosistem digital—U by Prodia, Prodia for Doctor, dan WebPortal—untuk meningkatkan engagement pelanggan sekaligus menghadirkan akses layanan yang lebih terintegrasi dan seamless," ujar dia dalam keterbukaan informasi, Jumat, 13 Maret 2026.
Di saat yang sama, lanjut Dewi, Prodia juga memprioritaskan pengembangan pemeriksaan esoterik dan diagnostik klinis kompleks melalui Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC) by Mass Spectrometry Technology yang didukung Clinical Decision Support (CDS), sebagai upaya mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
"Dengan kapabilitas dan infrastruktur laboratorium diagnostik yang komprehensif serta pengalaman panjang dalam pengujian diagnostik," ungkapnya.
"Prodia berada pada posisi yang kuat untuk memimpin pengembangan layanan berbasis precision medicine di Indonesia, melalui integrasi optimal antara layanan klinik dan pemeriksaan diagnostik yang relevan dengan kebutuhan klinis masyarakat yang terus berkembang,” tambahnya. (*)