KABARBURSA.COM – PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) menegaskan bahwa rencana akuisisi 45 persen saham PT Trimitra Coal Perkasa senilai Rp1,6 triliun masih berada pada tahap awal dan belum menimbulkan kewajiban finansial maupun dampak langsung terhadap kondisi keuangan perseroan.
Penegasan tersebut disampaikan manajemen MEJA dalam surat tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) atas permintaan penjelasan terkait rencana transaksi material pada 5 Januari 2026.
Direktur Utama PT Harta Djaya Karya Tbk, Richie Adrian Hartanto S, menyatakan bahwa perjanjian jual beli bersyarat yang ditandatangani pada 22 Desember 2025 belum merupakan transaksi final. “Perjanjian tersebut pada prinsipnya merupakan kesepakatan awal,” ujar Richie Adrian dikutip Selasa, 6 Januari 2025.
Dalam keterangannya kepada BEI, MEJA menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut dilakukan antara Ultimate Beneficial Owner PT Harta Djaya Karya Tbk dan Ultimate Beneficial Owner PT Trimitra Coal Perkasa terkait rencana pembelian 45 persen saham PT Trimitra Coal Perkasa dengan nilai Rp1,6 triliun. Nilai transaksi tersebut masih bersifat indikatif dan merujuk pada transaksi penjualan 55 persen saham PT Trimitra Coal Perkasa kepada pihak lain senilai USD100 juta.
Manajemen MEJA juga menegaskan bahwa rencana akuisisi tersebut belum menimbulkan kewajiban finansial bagi perseroan. “Pada saat ini transaksi tersebut belum menimbulkan kewajiban finansial maupun dampak langsung terhadap posisi keuangan Perseroan,” kata Richie Adrian.
Terkait mekanisme pembayaran, MEJA menyampaikan bahwa akuisisi direncanakan dilakukan melalui skema share swap secara bertahap dengan mekanisme rights issue, sepanjang memperoleh persetujuan regulator pasar modal. Hingga saat ini, jumlah saham yang akan diterbitkan serta jadwal pelaksanaan rights issue tersebut belum ditentukan.
Richie menegaskan bahwa realisasi transaksi sepenuhnya masih bergantung pada terpenuhinya berbagai persyaratan pendahuluan. “Pelaksanaannya masih bergantung pada terpenuhinya berbagai persyaratan pendahuluan,” ujarnya.
Di tengah proses tersebut, pergerakan saham MEJA dalam beberapa waktu terakhir masih menunjukkan tekanan. Saham PT Harta Djaya Karya Tbk tercatat berada di level 147 pada Selasa, 6 Januari 2025 dengan kinerja turun 15 poin atau minus 9,26 persen dalam periode tiga bulan terakhir. Secara historis, saham MEJA sempat bergerak di kisaran 160 hingga 162 sebelum mengalami koreksi, sementara level terendah dalam periode yang sama tercatat di area 82.
MEJA sendiri adalah perusahaan yang bergerak di sektor jasa konsumen tercatat sebagai saham berbasis syariah dan saat ini diperdagangkan di Papan Akselerasi Bursa Efek Indonesia.
Pergerakan harga saham dalam jangka pendek hingga menengah masih berfluktuasi, baik pada rentang satu hari, satu pekan, satu bulan, hingga tiga bulan, seiring dengan sentimen pasar terhadap rencana aksi korporasi dan perubahan pengendali perseroan.
Perseroan menjelaskan bahwa persyaratan akuisisi mencakup persetujuan pemegang saham PT Trimitra Coal Perkasa, hasil due diligence yang memuaskan, persetujuan regulator terkait termasuk Kementerian ESDM, serta persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Harta Djaya Karya Tbk.
Saat ini, MEJA tengah melakukan proses due diligence secara menyeluruh yang mencakup aspek hukum, keuangan, operasional, bisnis, dan komersial dengan melibatkan profesional eksternal. Sejumlah informasi penting terkait perizinan tambang, cadangan dan sumber daya, laporan keuangan, serta potensi risiko lingkungan dan sosial akan disampaikan setelah proses tersebut selesai.
Dari sisi pendanaan, perseroan menegaskan bahwa akuisisi tersebut diupayakan tidak menggunakan kas perseroan. “Tidak ada risiko likuiditas karena diupayakan tidak menggunakan cash Perseroan,” ujarnya.
Manajemen MEJA menyampaikan bahwa rencana investasi ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi usaha seiring dengan masuknya PT Triple Berkah Bersama sebagai pengendali baru perseroan. Diversifikasi dilakukan untuk mengurangi ketergantungan MEJA pada sektor dekorasi interior, eksterior, dan konstruksi, sekaligus membuka sumber pendapatan baru yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Meski berpotensi berdampak signifikan terhadap struktur permodalan dan tingkat dilusi saham apabila seluruh persyaratan terpenuhi, perseroan menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat dampak langsung terhadap operasional maupun kondisi keuangan MEJA.
Diberitakan KabarBursa.com sebelumnya. rencana akuisisi MEJA terhadap perusahaan tambang batu bara itu sebesar 45 persen.
PT Trimata Coal Perkasa merupakan perusahaan yang memiliki aset batubara skala besar di Sumatera Selatan dengan luasan konsesi ±11.640 ha.
Berdasarkan laporan JORC, PT Trimata Coal Perkasa dari konsultan independen Faan Grobelaar & Associates berdasarkan data eksplorasi pengeboran dan pemodelan seam batubara menunjukkan estimasi mineable coal resources sekitar ±693,7 juta ton yang hampir seluruhnya memiliki Gross Caloric Value diatas 5000.
Berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) IUP OP PT Trimata Coal Perkasa yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang, diketahui bahwa perusahaam ini memiliki ijin produksi batu bara selama tahun 2024-2026 sebanyak 2.600.000 ton.(*)