Logo
>

PTMP Laporkan Kinerja Keuangan: Fundamental Nyaris “Ambruk”

Rugi bersih PTMP melebar pada kuartal III-2025 meski margin kotor masih terbentuk. Tekanan biaya operasional dan arus kas negatif menjadi titik kritis kinerja perseroan.

Ditulis oleh Yunila Wati
PTMP Laporkan Kinerja Keuangan: Fundamental Nyaris “Ambruk”
PT Mitra Pack Tbk. Foto: Dok Perusahaan.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Kinerja PT Mitra Pack Tbk, berkode emiten PTMP, baru saja melaporkan kinerja keuangan kuartal III-2025. Dalam laporan tersebut, tampak fundamental yang nyaris ambruk dengan catatan rugi bersih sebesar Rp39,4 miliar.

    Kinerja PTMP menunjukkan pelemahan yang bersifat struktural, bukan sekadar fluktuasi sementara. Peralihan dari laba bersih senilai Rp10,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu, menjadi rugi bersih, menempatkan Perseroan dalam fase tekanan operasional yang serius.

    Dengan rugi bersih per saham Rp12,30, tekanan ini langsung tercermin pada profitabilitas pemegang saham, terutama jika dikaitkan dengan harga saham di level 83 yang membuat rasio PER menjadi negatif.

    Dari sisi pendapatan, PTMP masih mampu mencatatkan revenue sebanyak Rp147,6 miliar. Tetapi, angka ini tidak cukup untuk menopang struktur biaya. Margin kotor sebenarnya masih terbentuk dengan laba kotor Rp46,3 miliar atau sekitar 31 persen dari pendapatan.

    Artinya, secara produk dan pricing, perseroan belum sepenuhnya kehilangan daya saing. Masalah utamanya justru setelah laba kotor, ketika beban operasional mendorong kinerja turun ke zona negaif. Rugi usaha sebesar Rp20,5 miliar menunjukkan bahwa efisiensi biaya operasional menjadi titik lemah utama, bukan sekadar tekanan dari sisi penjualan.

    Tekanan semakin dalam ketika dilihat EBITDA yang negatif Rp13,3 miliar. Di sini, arus kas operasional inti perseroan tidak cukup untuk menutup biaya dasar operasional, bahkan sebelum memperhitungkan beban bunga dan pajak. 

    Dalam kondisi seperti ini, perusahaan kehilangan bantalan utama untuk menyerap guncangan, baik dari kenaikan biaya bahan baku, tekanan suku bunga, maupun pelemahan permintaan. Beban bunga sebesar Rp3,6 miliar mungkin terlihat moderat secara nominal, tetapi dalam situasi EBITDA negatif, beban ini menjadi sangat signifikan dan mempercepat erosi laba bersih.

    Struktur neraca PTMP masih tampak relatif seimbang di permukaan, dengan total aset Rp290,2 miliar dan ekuitas Rp190,1 miliar. Rasio debt to equity di level 0,53 dan debt to total capital 0,34 menunjukkan bahwa leverage belum berada di zona ekstrem. 

    Namun angka-angka rasio ini menjadi kurang menenangkan ketika dikaitkan dengan kemampuan menghasilkan laba.

    Debt to EBITDA yang negatif dan rasio EBITDA terhadap beban bunga di -3,66 kali menegaskan bahwa masalah utama bukan pada besarnya utang, melainkan pada ketidakmampuan aset dan modal yang ada untuk menghasilkan arus kas yang memadai.

    Posisi kas yang hanya Rp4,2 miliar juga menjadi sorotan penting. Dengan rugi operasional dan EBITDA negatif, bantalan likuiditas ini tergolong sangat tipis. Dalam kondisi normal, kas berfungsi sebagai penyangga jangka pendek. 

    Namun bagi PTMP, kas di level ini mempersempit ruang manuver, terutama jika tekanan operasional berlanjut atau perseroan membutuhkan tambahan modal kerja. Tanpa perbaikan kinerja operasional atau suntikan likuiditas, risiko tekanan arus kas menjadi nyata.

    Dari sisi pengembalian, rasio ROA minus 13,57 persen dan ROE minus 20,71 persen mengonfirmasi bahwa aset dan modal pemegang saham saat ini justru menjadi sumber kerugian, bukan pencipta nilai. Ini adalah sinyal kuat bahwa masalah yang dihadapi perseroan sudah menyentuh inti model bisnisnya. 

    Valuasi pasar pun mencerminkan dilema ini. Dengan PBV 1,38 kali, saham PTMP diperdagangkan di atas nilai buku, meski kinerja fundamental sedang tertekan. Pasar sepertinya masih menyisakan ekspektasi pemulihan, tetapi ekspektasi tersebut belum didukung oleh bukti kinerja terkini.

    Secara keseluruhan, data kuartal III-2025 menggambarkan PT Mitra Pack Tbk sebagai perusahaan yang sedang berada di fase transisi yang sulit. Margin kotor masih ada, struktur modal belum kolaps, tetapi efisiensi operasional dan kemampuan menghasilkan arus kas telah melemah secara signifikan. 

    Tanpa perbaikan nyata pada level operasional, terutama dalam menekan beban dan memulihkan EBITDA ke zona positif, tekanan terhadap likuiditas dan ekuitas berpotensi berlanjut. Kinerja ini bukan sekadar alarm jangka pendek, melainkan sinyal bahwa PTMP membutuhkan langkah korektif yang fundamental agar dapat keluar dari fase kerugian yang semakin dalam.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79