KABARBURSA.COM – PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) menilai prospek industri kelapa sawit nasional tetap positif meski diwarnai fluktuasi harga crude palm oil (CPO) dan tekanan global. Permintaan minyak nabati dunia yang terus meningkat serta dukungan program biodiesel dinilai masih menjadi penopang utama sektor ini.
Direktur Utama SSMS Jap Hartono mengatakan perseroan fokus menjaga pertumbuhan berkelanjutan melalui praktik operasional yang disiplin.
“Penerapan praktik perkebunan yang bertanggung jawab serta kepatuhan terhadap regulasi menjadi landasan SSMS dalam mendorong pertumbuhan usaha yang berkelanjutan,” ujar Jap Hartono dalam keterangannya dikutip pada Selasa, 24 Februari 2026.
Menurut dia, strategi adaptif dan fondasi bisnis yang solid menjadi kunci agar perusahaan tetap mampu menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan serta berkontribusi pada industri sawit nasional.
Di tengah dinamika industri, SSMS memperkuat efisiensi operasional dan optimalisasi produktivitas kebun. Pengendalian biaya dan pengelolaan operasional terintegrasi dilakukan untuk menjaga daya saing. Prinsip keberlanjutan juga terus diterapkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Dari sisi ekspansi, SSMS mengakuisisi 63,4 persen saham PT Sawit Mandiri Lestari (SML) senilai Rp1,6 triliun. Langkah ini menambah total cadangan lahan grup menjadi sekitar 136 ribu hektare.
SML sendiri memiliki profil tanaman dengan rata-rata usia 8,5 tahun yang dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas tandan buah segar (FFB). Perusahaan ini juga didukung dua pabrik kelapa sawit dengan kapasitas total 135 metrik ton per jam.
Selain itu, pembangunan Refinery 2 berkapasitas 1.500 metrik ton per hari telah mencapai 70 persen. Jika rampung, total kapasitas pemurnian akan meningkat menjadi 4.000 metrik ton per hari. SSMS juga mengembangkan model integrasi sawit dan peternakan sapi untuk mendiversifikasi pendapatan.
Riset Mirae Asset Sekuritas dan MNC Sekuritas memproyeksikan SSMS memasuki fase kenaikan laba hingga 2028. Produksi FFB diperkirakan mencapai sekitar 24,0 ton per hektare pada 2026, sementara oil extraction rate diproyeksikan berada di kisaran 26 hingga 27 persen. Dari sisi keuangan, penurunan rasio utang dan perbaikan rasio cakupan bunga dinilai memperkuat struktur modal.
Melalui ekspansi lahan, peningkatan produktivitas, serta penguatan integrasi hilir, SSMS berupaya menjaga kinerja di tengah dinamika industri sawit nasional.(*)