KABARBURSA.COM – PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) berhasil menurunkan total liabilitas sepanjang 2025. Namun, perseroan masih menghadapi tekanan likuiditas setelah membukukan arus kas operasi negatif dan mencatat saldo defisit.
Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, total liabilitas BIPI turun menjadi sekitar USD1,01 miliar pada akhir Desember 2025, dibandingkan sekitar USD1,10 miliar pada akhir 2024.
Perbaikan tersebut menunjukkan upaya perseroan dalam mengurangi beban kewajiban. Namun kondisi arus kas operasional justru bergerak ke arah sebaliknya.
Laporan keuangan menunjukkan, BIPI mencatat arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar USD25,9 juta pada 2025. Kondisi ini berbalik dari tahun sebelumnya yang masih mencatat arus kas operasi positif sekitar USD12,4 juta.
Tekanan tersebut juga tercermin pada posisi kas perusahaan. Saldo kas dan setara kas turun menjadi sekitar US$30,94 juta pada akhir 2025 dari sekitar USD69,28 juta pada akhir 2024.
Dalam catatan atas laporan keuangan, manajemen mengakui masih terdapat sejumlah kondisi yang dapat mempengaruhi kelangsungan usaha perusahaan.
"Grup telah mencatat arus kas operasi yang negatif untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025 sebesar USD25.900.313, serta melaporkan saldo defisit pada tanggal 31 Desember 2025 sebesar USD192.018.970,” tulis perseroan dalam keterbukaan inforasi, Ahad, 31 Mei 2026.
Selain itu, perusahaan juga menghadapi tantangan operasional pada sejumlah entitas anak di sektor pertambangan. "Selain itu, hingga tanggal terbitnya laporan keuangan, JMB dan ABE, entitas anak, masih belum memperoleh persetujuan atas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026 yang diperlukan untuk melanjutkan kegiatan operasional pertambangan," tulis perseroan.
Meski demikian, manajemen menyatakan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga keberlangsungan usaha, termasuk pengelolaan likuiditas, efisiensi biaya operasional, serta upaya memperoleh persetujuan yang diperlukan bagi kegiatan usaha pertambangan.
Di pasar modal, saham BIPI ditutup di level Rp176 pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Dalam sepekan terakhir saham perseroan terkoreksi 4,35 persen. Meski demikian, secara year to date (YTD) saham BIPI masih mencatat kenaikan lebih dari 104 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa perbaikan struktur utang belum sepenuhnya menghilangkan tantangan yang dihadapi perseroan. Selain beban operasional yang masih menekan arus kas, keberlangsungan aktivitas tambang dan kemampuan menghasilkan kas dari bisnis inti menjadi faktor yang akan terus dicermati investor dalam beberapa periode mendatang.(*)