KABARBURSA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan sepanjang 2025 mencerminkan dinamika pasar global yang penuh tantangan. IHSG sempat tertekan tajam pada paruh pertama tahun ini dan menyentuh level terendah di 5.996, sebelum akhirnya bangkit kuat di semester kedua dan mencetak rekor demi rekor hingga mencapai all time high sebanyak 24 kali sepanjang tahun.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjelaskan bahwa tekanan pada awal 2025 dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. “Tekanan di paruh pertama datang dari kondisi global dan geopolitik yang berdampak langsung ke pasar,” kata Iman dalam konferensi pers penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, 30 Desember 2025.
Ia menyebutkan, ketegangan geopolitik, kebijakan tarif dagang Amerika Serikat, pelemahan nilai tukar rupiah, serta konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang membebani pergerakan indeks. Kondisi tersebut memicu volatilitas tinggi dan penurunan kepercayaan pasar pada semester pertama.
Namun memasuki paruh kedua 2025, IHSG menunjukkan rebound yang kuat. Dukungan kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, injeksi likuiditas, serta penyesuaian regulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Self Regulatory Organization menjadi faktor penopang utama pemulihan pasar. Penyesuaian aturan seperti trading halt dan kebijakan stabilisasi dinilai berhasil meredam gejolak dan mengembalikan kepercayaan investor.
Hasilnya, IHSG berhasil menembus level tertinggi baru dengan kapitalisasi pasar mencapai lebih dari Rp16.000 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat signifikan, seiring bertambahnya jumlah investor yang kini telah melampaui 20 juta single investor identification.
BEI menilai peningkatan basis investor domestik menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pasar. Sepanjang 2025, lebih dari 500.000 investor tercatat aktif bertransaksi bulanan, dengan sekitar 250.000 investor aktif melakukan perdagangan harian. Kondisi ini membuat pasar lebih stabil dan tidak terlalu bergantung pada aliran dana asing.
Menghadapi 2026, BEI menyiapkan langkah antisipatif untuk merespons potensi fluktuasi pasar. Penguatan infrastruktur perdagangan, pengembangan produk multi-aset, serta sinergi dengan regulator dan pelaku pasar akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas dan daya saing bursa.
Menurut Iman pengalaman menghadapi tekanan dan rebound sepanjang 2025, BEI optimistis pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi dinamika global pada tahun depan.(*)