Logo
>

Reli Tajam Saham ARKA, CANI, TINS: Momentum atau Bahaya?

Lonjakan tajam harga saham ARKA, CANI, dan TINS menyita perhatian. Tapi apakah kenaikan ini awal tren baru atau justru sinyal koreksi besar?

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Reli Tajam Saham ARKA, CANI, TINS: Momentum atau Bahaya?
Ilustrasi performa saham TINS, CANI dan ARKA. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Pergerakan sejumlah saham kembali menonjol menjelang penutupan perdagangan setelah aktivitas harga dan volume menunjukkan lonjakan yang kontras dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan harga, likuiditas dan volatilitas itu belum serta-merta mencerminkan tren yang mapan. Pasar justru memasuki fase pengujian berikutnya.

    Pengamat komoditas dan trader dari Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, menilai bahwa lonjakan aktivitas pada saham-saham tertentu perlu dibaca dengan kehati-hatian karena berada pada fase awal siklus pergerakan. Ia menekankan bahwa perbedaan karakter teknikal menjadi kunci dalam membaca prospek jangka sangat dekat.

    “Melihat grafik ketiga saham ini (ARKA, CANI, TINS) memang sedang menunjukkan aktivitas yang sangat kontras dibandingkan periode sebelumnya,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com, Senin, 12 Januari 2026.

    Menurut Wahyu, fase awal seperti ini sering kali menjadi titik paling krusial karena pasar belum sepenuhnya menentukan arah lanjutan. Kenaikan harga sudah terjadi, tetapi keseimbangan baru belum terbentuk. Dalam kondisi tersebut, risiko koreksi dan lanjutan pergerakan berada pada level yang sama-sama tinggi.

    Pada saham PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI), Wahyu menilai pergerakan harga sudah masuk ke zona ekstrem secara teknikal. Lonjakan harga terjadi sangat cepat dalam waktu singkat dan menjauh dari rata-rata pergerakan historisnya.

    “Saham CANI sedang dalam fase parabolic run. Lonjakan harganya sangat tajam hingga menembus 183. Dalam 1–2 sesi ke depan, risiko profit taking sangat tinggi karena harga sudah terlalu jauh dari Moving Average (MA) 50/100/200,” kata Wahyu.

    Secara data, penyimpangan harga terhadap MA tersebut menandakan momentum yang kuat, tetapi sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap aksi ambil untung cepat. Dalam kondisi parabolic, pasar umumnya akan menguji ulang keseimbangan harga melalui koreksi tajam atau fase konsolidasi singkat.

    Sementara itu, untuk saham ARKA, Wahyu melihat karakter pergerakan yang berbeda. Saham ini dinilai sedang berada dalam fase pemulihan dari area bawah dan masih berada dalam tahap uji konfirmasi.

    “ARKA menunjukkan pemulihan dari area bottom (harga 42). Ada upaya menembus resistansi psikologis di area 50. Jika mampu bertahan di atas MA 200 (garis hijau), potensi lanjut menguat terbuka,” ujarnya. 

    Secara teknikal, posisi harga ARKA terhadap MA 200 menjadi parameter utama dalam membaca prospek jangka dekat. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, pasar masih memberi ruang uji lanjutan. Namun, kegagalan bertahan akan mengembalikan saham ini ke fase konsolidasi sebelumnya.

    Berbeda dengan dua saham tersebut, PT Timah Tbk (TINS) dinilai telah menunjukkan struktur pergerakan yang lebih stabil. Data harga dan pola teknikal mencerminkan tren yang lebih rapi dan tidak bergerak secara impulsif.

    “TINS: Sedang dalam strong uptrend yang lebih stabil dibanding dua lainnya. Harga berada di 3.470, didukung oleh kemiringan MA yang tajam ke atas. Prospek jangka pendek masih positif selama tidak ada reversal volume yang masif.”

    Pola higher high dan higher low yang terbentuk pada TINS sejak akhir 2025 memperlihatkan proses penguatan yang bertahap. Struktur seperti ini secara historis cenderung lebih tahan terhadap koreksi mendadak, selama tidak disertai pembalikan volume yang signifikan.

    Dalam menguji keberlanjutan momentum, Wahyu menekankan pentingnya indikator teknikal sebagai alat ukur, bukan sekadar kenaikan harga semata. Salah satu parameter utama adalah posisi harga terhadap MA 50.

    Wahyu menilai bahwa momentum jangka pendek masih berada pada kondisi yang sangat kuat selama harga tidak ditutup di bawah Moving Average (MA) 50. Selama parameter tersebut terjaga, dorongan harga dinilai masih memiliki tenaga, meskipun risiko koreksi tetap membayangi akibat lonjakan yang terlalu cepat.

    Dalam konteks lanjutan tren, ia juga menjelaskan bahwa Golden Cross merujuk pada kondisi ketika MA 50 menembus ke atas MA 200, yang mencerminkan bahwa momentum harga terbaru telah menjadi jauh lebih kuat dibandingkan tren masa lalunya. Namun, sinyal ini tetap membutuhkan konfirmasi lanjutan melalui konsistensi pergerakan harga dan volume pada sesi berikutnya.

    Menurut Wahyu, volume memegang peran yang sangat penting sebagai bahan bakar pergerakan harga. Ia menilai kenaikan harga yang tidak disertai pembesaran volume justru menjadi sinyal divergence negatif, yang menunjukkan bahwa kualitas kenaikan tersebut lemah dan rawan berbalik arah.

    Ia menambahkan bahwa dominasi volume jual pada satu jam pertama perdagangan kerap menjadi sinyal awal dimulainya fase distribusi. Kondisi ini sering muncul ketika pelaku pasar mulai merealisasikan keuntungan setelah fase lonjakan tajam.

    Wahyu juga menekankan bahwa koreksi tidak selalu harus dibaca sebagai sinyal negatif. Koreksi masih dapat dikategorikan sehat apabila terjadi dengan volume yang mengecil saat harga bergerak merah, disertai pembentukan higher low, serta pullback terbatas ke MA 20 sebelum harga kembali memantul ke atas.

    Sebaliknya, ia menilai momentum pergerakan dapat dianggap patah apabila ARKA kembali turun ke bawah level 30 atau CANI melemah ke bawah level 100, karena kondisi tersebut menunjukkan kegagalan mempertahankan struktur kenaikan yang sebelumnya terbentuk.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Citra Dara Vresti Trisna

    Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.