Logo
>

Rencana ACES Ekspansi ke Luar Negeri, ini Tantangannya

Ekspansi agresif AZKO mendorong ACES memperkuat jaringan domestik sambil mulai membuka peluang ekspansi luar negeri, meski kinerja laba masih tertekan pada masa rebranding.

Ditulis oleh Yunila Wati
Rencana ACES Ekspansi ke Luar Negeri, ini Tantangannya
PT Aspirasi hidup Indonesia Tbk. Foto: Dok ACES.

KABARBURSA.COM – PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES), yang kini mengusung brand ritel AZKO, tengah memasuki fase pertumbuhan strategis yang berbeda dari sebelumnya. Setelah puluhan tahun bertumpu pada lisensi Ace Hardware, perusahaan kini bergerak sebagai brand mandiri. 

Momentum rebranding inilah yang menjadi dasar bagi ekspansi jaringan toko di dalam negeri dan membuka ruang diskusi mengenai kemungkinan ekspansi ke luar negeri.

Hingga September 2025, ACES telah membuka 16 toko baru dan kini mengoperasikan 259 toko di 87 kota Indonesia. Target pembukaan 30 toko baru hingga akhir tahun menunjukkan agresivitas perusahaan memperluas kehadiran fisik di pasar domestik. 

Dengan alokasi belanja modal sebesar Rp200 miliar hingga Rp300 miliar, ekspansi yang dilakukan ACES menunjukkan bahwa pertumbuhan organik menjadi strategi utama untuk memperkuat penetrasi pasar setelah transformasi brand menjadi AZKO.

Rencana ekspansi ke luar negeri muncul sebagai wacana yang tidak lagi sekadar jauh, tetapi berada dalam radar perencanaan jangka menengah perusahaan. Pernyataan Direktur ACES Gregory Sugyono Widjaja bahwa ekspansi internasional “possible” mencerminkan bahwa perusahaan mulai menghitung potensi brand AZKO untuk masuk ke pasar di luar Indonesia, terutama negara tetangga. 

Namun langkah tersebut tetap bersifat eksploratif karena perusahaan masih menilai potensi domestik sangat besar dan belum sepenuhnya digarap.

Jual Bersih Q3-2025 Naik Tipis

Dari sisi kinerja, ACES menghadapi dinamika yang menarik. Penjualan bersih kuartal III 2025 naik tipis 1,69 persen menjadi Rp6,33 triliun. Kenaikan yang moderat ini menandakan adanya stabilitas permintaan meski industri ritel berhadapan dengan tekanan daya beli. 

Namun laba bersih justru turun 16,21 persen menjadi Rp481,09 miliar. Pelemahan ini mengindikasikan adanya tekanan marjin akibat biaya ekspansi, biaya rebranding, dan penyesuaian operasional pada fase transisi brand.

Kombinasi kenaikan penjualan yang moderat dan penurunan laba menjadi indikator penting dalam menilai kesiapan ACES untuk berekspansi ke luar negeri. Ekspansi internasional membutuhkan struktur biaya yang lebih kuat, kemampuan logistik yang matang, dan diferensiasi brand yang jelas. 

Penurunan laba pada masa rebranding menunjukkan bahwa ACES masih berada dalam fase investasi, di mana efisiensi dan stabilitas kinerja harus kembali menguat sebelum perusahaan naik ke tahap ekspansi lintas negara.

Namun peluang tetap terbuka. Transformasi dari Ace Hardware menuju AZKO memberi ACES fleksibilitas penuh dalam menentukan identitas produk, strategi harga, dan pendekatan pasar. Tanpa lagi bergantung pada lisensi luar, ACES dapat menciptakan konsep ritel yang lebih sesuai dengan pasar Asia Tenggara, yang memiliki karakter konsumen mirip dengan Indonesia. 

Pengalaman operasional di lebih dari 87 kota memberi perusahaan modal penting untuk memahami preferensi pelanggan di pasar berkembang.

Kesiapan ACES untuk berekspansi ke luar negeri pada dasarnya bergantung pada stabilitas laba dalam dua tahun ke depan, kemampuan mempertahankan pertumbuhan penjualan di atas lima persen, serta keberhasilan memperluas jaringan domestik secara efisien. 

Jika ekspansi toko dalam negeri pada 2025–2026 mampu meningkatkan skala ekonomi dan menurunkan biaya operasional per toko, peluang ekspansi internasional akan semakin besar.

Dengan posisi saat ini, ACES masih fokus memperkuat fondasi di pasar domestik melalui AZKO. Langkah konsolidasi kinerja, pemulihan margin, dan percepatan pertumbuhan pendapatan akan menjadi penentu apakah perusahaan mampu melangkah ke tahap berikutnya, yaitu membawa brand ritel nasional ke pasar internasional.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79