KABARBURSA.COM – Rupiah berhasil bertahan di level 17.200 di tengah asa damai Amerika Serikat-Iran dan keputusan lembaga pemeringkat Moody’s yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level Baa2. Level ini membuat peringkat utang Indonesia masuk dalam kategori investment grade atau layak investasi.
Pada perdagangan Senin, 27 April 2026, rupiah ditutup di level Rp17.211 per dolar AS. Ada penguatan sebesar 18 poin atau 0,11 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.229 per dolar AS.
Di saat yang bersamaan, dolar AS di pasar global bergerak melemah. Indeks dolar tercatat mengalami penurunan seiring pelaku pasar yang mulai menimbang perkembangan geopolitik terbaru. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen utama datang dari ekspektasi pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Rencana pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada akhir pekan ini mulai menggeser fokus pasar dari potensi eskalasi konflik.
Sebelumnya, ketegangan di kawasan Timur Tengah sempat mendorong penguatan dolar dan menekan mata uang lain.
Perkembangan terbaru menunjukkan adanya upaya membuka kembali jalur negosiasi. Iran dilaporkan mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik.
Dalam proposal tersebut, fokus diarahkan pada penyelesaian konflik dengan menunda pembahasan nuklir.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam dinamika pasar global. Jalur ini sebelumnya mengangkut sekitar 20 persen produksi minyak dunia sebelum terganggu oleh konflik. Pembatasan lalu lintas kapal di kawasan tersebut sempat menjadi sumber kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Data terbaru menunjukkan aktivitas di jalur tersebut masih terbatas. Hanya lima kapal yang melintas dalam 24 jam terakhir, termasuk satu kapal tanker produk minyak dari Iran. Kondisi ini mencerminkan bahwa risiko terhadap pasokan belum sepenuhnya mereda.
Outlook Masih Negatif
Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut membentuk pergerakan rupiah. Moody’s mempertahankan peringkat utang Indonesia di level Baa2, meskipun outlook diturunkan dari stabil menjadi negatif.
Keputusan ini memberikan sinyal bahwa fundamental kredit masih berada di level investasi, namun dengan catatan risiko ke depan.
Respons pemerintah terhadap penilaian tersebut menjadi bagian dari sentimen pasar. Pemerintah menyatakan komitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi melalui berbagai kebijakan, termasuk penguatan koordinasi fiskal dan moneter. Upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan terus menjadi fokus utama.
Dalam konteks ini, pergerakan rupiah mencerminkan kombinasi dua arah sentimen. Di satu sisi, pelemahan dolar dan ekspektasi geopolitik memberikan ruang penguatan. Di sisi lain, ketidakpastian global dan penyesuaian outlook kredit membuat pergerakan tetap terbatas di kisaran 17.200 per dolar AS.(*)