KABARBURSA.COM - Mata uang Garuda semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Rupiah ditutup di level Rp17.966 per dolar AS, melemah 127 poin atau 0,71 persen dibandingkan sehari sebelumnya.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, harga minyak dunia melonjak, dan investor berbondong-bondong mencari perlindungan pada dolar AS. Namun jika ditelusuri lebih dalam, tekanan terhadap rupiah kali ini tidak hanya datang dari luar negeri.
Ada dua sinyal domestik yang menekan langkah rupiah. Sinyal pertama datang dari inflasi yang kembali menunjukkan kenaikan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan April yang sebesar 0,13 persen. Secara tahunan, inflasi telah mencapai 3,08 persen.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, menjelaskan angka tersebut memang masih berada dalam kendali. Namun kenaikan inflasi menunjukkan tekanan harga mulai muncul dari berbagai sisi, mulai dari pangan, energi, harga yang diatur pemerintah, hingga dampak pelemahan rupiah itu sendiri.
Masalahnya, pelemahan rupiah dan inflasi sering membentuk lingkaran yang saling memperkuat. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat. Harga energi dan bahan baku menjadi lebih mahal. Tekanan itu kemudian diteruskan ke tingkat konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa. Semakin tinggi inflasi, semakin besar pula kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Sinyal kedua datang dari neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatat surplus, tetapi dengan kualitas yang mulai dipertanyakan pasar.
Pada April 2026, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar USD89,1 juta. Secara teknis, angka tersebut memperpanjang tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Catatan ini seharusnya menjadi kabar baik karena surplus perdagangan biasanya menghasilkan tambahan pasokan devisa yang dapat menopang nilai tukar rupiah. Namun, pasar melihat sisi yang berbeda.
Dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, surplus April mengalami penyusutan yang cukup tajam. Artinya, bantalan devisa yang selama ini membantu menjaga kestabilan rupiah mulai menipis.
Di saat yang sama, ketidakpastian pasokan global akibat gangguan jalur perdagangan di sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap ekspor dan impor Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Kedua faktor tersebut membuat pasar lebih sensitif terhadap risiko domestik. Inflasi yang naik memperbesar tekanan pada daya beli masyarakat, sementara surplus perdagangan yang menyusut menimbulkan pertanyaan mengenai ketahanan sektor eksternal Indonesia apabila gejolak global berlangsung lebih lama.
Dalam kondisi normal, salah satu faktor tersebut mungkin belum cukup untuk mengguncang rupiah. Namun ketika keduanya muncul bersamaan di tengah penguatan dolar AS dan lonjakan harga energi dunia, tekanan terhadap mata uang domestik menjadi jauh lebih besar.
Karena itu, cerita pelemahan rupiah menuju Rp18.000 saat ini bukan semata soal konflik Timur Tengah atau penguatan dolar Amerika Serikat. Di balik gejolak global tersebut, pasar juga mulai membaca dua pesan dari dalam negeri: inflasi yang kembali meningkat dan surplus perdagangan yang tidak lagi sekuat sebelumnya.
Dua faktor inilah yang membuat perjalanan rupiah menuju level Rp18.000 terasa semakin dekat dibanding beberapa bulan lalu.(*)