KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan luar biasa dan anjlok hingga lima persen ke level 5.882 pada perdagangan hari ini. Posisi ini mengembalikan pergerakan indeks utama bursa ke level terendah sejak tahun 2025 lalu.
Kejatuhan bursa saham ini sejalan dengan pelemahan parah nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.950 per dolar Amerika Serikat (AS).
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyoroti rentetan sentimen negatif yang menghantam pasar modal Tanah Air secara bertubi-tubi.
Ia mencatat para investor asing telah melakukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp66,20 triliun sepanjang tahun berjalan. Kondisi bursa Indonesia ini sangat kontras dengan tren berbagai bursa global yang justru terus mencetak rekor tertinggi baru.
"Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar Liza dalam laporan riset terbarunya yang diterima Kabarbursa.com, Rabu, 3 Juni 2026.
Ia pun menilai kepanikan pasar ini sepenuhnya bersumber dari lima kekhawatiran utama para pemodal.
Kekhawatiran pertama menyangkut kredibilitas tata kelola dan kebijakan usai munculnya prospek negatif dari lembaga pemeringkat Moody's dan Fitch. Tekanan hebat pada nilai tukar rupiah yang semakin mendekati level psikologis Rp18.000 turut memperparah aksi jual. Menyusutnya daya beli kelas menengah juga menjadi ancaman serius bagi laju motor konsumsi domestik.
Aksi keluar dana asing dari pasar modal domestik terus berlanjut nyaris tanpa henti. Risiko terkait kepemimpinan dan komunikasi kebijakan yang memburuk belakangan ini makin memperkuat keengganan investor global. Pasar kini mulai menilai aset Indonesia secara berbeda ketimbang aset negara berkembang lainnya.
"Investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets, mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia," tegas Liza merinci fenomena pelepasan masif aset domestik tersebut.
Arus keluar modal ini menjadi sinyal perlunya perbaikan iklim investasi secepat mungkin.
Kinerja instrumen investasi berbasis saham Indonesia membuktikan pergeseran arus dana tersebut secara gamblang. Instrumen EIDO atau Indonesia ETF mencatat imbal hasil minus 28,6 persen sejak awal tahun 2025.
Pencapaian ini tertinggal jauh dari pasar negara berkembang lain seperti Vietnam yang melesat 63,2 persen dan Taiwan yang meroket 107,2 persen.
Fokus para pemodal kini beralih pada rentetan agenda penting di pertengahan bulan ini. Bursa menantikan hasil peninjauan akses pasar global dari MSCI dan FTSE Russell pada 19 Juni mendatang. Rangkaian evaluasi lembaga internasional ini berpotensi besar menjadi ujian kredibilitas selanjutnya bagi pasar modal Tanah Air.
Meski terus merosot, pasar modal Indonesia sebenarnya masih memiliki sentimen penahan pelemahan lebih lanjut. Sebagian besar risiko yang menakutkan pasar saham saat ini baru berupa kemungkinan belaka. Indonesia secara faktual tetap berhasil mempertahankan status layak investasi atau investment grade dari para penilai global.
"Hingga saat ini S&P masih mempertahankan prospek stabil bagi Indonesia. MSCI dan FTSE juga belum mengubah klasifikasi atau menempatkan kita dalam daftar penurunan peringkat," papar Liza membeberkan secercah harapan bagi para investor.
Menurutnya, pasar terlalu cepat merespons rumor yang belum tentu terjadi.
Ancaman terbesar bagi pasar justru kerap datang dari penerapan kebijakan domestik secara tiba-tiba dan minim sosialisasi. Aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) hingga wacana pajak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sering mengejutkan publik.
Berbagai kebijakan mendadak semacam ini sering memberikan pukulan telak tambahan bagi pergerakan indeks bursa.
Kiwoom Sekuritas menilai pasar secara fundamental sedang mencari alasan rasional untuk segera berhenti menjual kepemilikan saham mereka.
Evaluasi penyeimbangan ulang indeks dari FTSE pada 22 Juni dan klasifikasi pasar tahunan MSCI pada 24 Juni akan sangat menentukan nasib bursa.
Investor kini menghadapi pertanyaan kritis mengenai tingkat objektivitas pasar dunia dalam menilai rasio risiko investasi di Indonesia.
“Investor bukan lagi bertanya ‘mengapa IHSG jatuh’ melainkan apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya,” tegas Liza.(*)