KABARBURSA.COM - Ada perubahan menarik yang terjadi di industri telekomunikasi sepanjang Mei 2026. Setelah bertahun-tahun terjebak dalam perang harga dan promosi paket murah, sejumlah operator fokus pada peningkatan nilai yang diperoleh dari setiap gigabyte data yang dikonsumsi pelanggan.
Perubahan paling jelas terlihat di Telkomsel (TSEL). Operator terbesar di Indonesia itu tercatat berhasil meningkatkan rata-rata harga paket sekaligus meningkatkan data yield atau pendapatan yang diperoleh dari setiap unit data yang dijual.
Kenaikan tersebut terjadi setelah Telkomsel menghapus sejumlah paket Combo Special dan Seru dengan masa aktif pendek dan harga lebih murah, lalu menggantinya dengan paket yang memiliki masa berlaku lebih panjang dan harga lebih tinggi.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa Telkomsel tidak lagi agresif mengejar volume semata. Perseroan tampak lebih fokus pada kualitas pendapatan dan monetisasi konsumsi data pelanggan. Dengan kata lain, pelanggan mungkin masih mendapatkan kuota yang besar, tetapi dengan harga yang secara bertahap lebih menguntungkan bagi operator.
Fenomena serupa juga terlihat pada produk Telkomsel Lite. Penghapusan paket mingguan berharga murah mendorong kenaikan harga rata-rata paket sekaligus memperbaiki yield data. Langkah ini menjadi sinyal bahwa disiplin harga masih terjaga di operator dengan basis pelanggan terbesar di Indonesia tersebut.
EXCL Perkenalkan Mini Package
Sementara itu, cerita berbeda terjadi di XLSmart yang kini berada di bawah entitas gabungan XL Axiata dan Smartfren.
Sepanjang Mei, XL memperkenalkan paket-paket baru berukuran lebih kecil melalui lini Ultra 5G+ dan Flex Mini. Akibatnya, rata-rata harga paket dan data yield terlihat menurun secara bulanan. Namun penurunan ini bukan berarti operator kembali terjebak dalam perang harga.
Justru di saat yang sama, XL memperkenalkan paket bulanan Bebas Puas dengan masa aktif lebih pendek dan efisiensi monetisasi yang lebih baik dibanding beberapa paket lama. Artinya, penurunan rata-rata tersebut lebih banyak dipengaruhi perubahan komposisi produk dibanding strategi diskon agresif.
Di sisi Smartfren, rata-rata harga paket dan yield juga mengalami penurunan setelah sejumlah paket kuota besar dihentikan. Namun perubahan ini lebih mencerminkan reposisi produk dibanding tekanan kompetitif yang serius.
ISAT: More for More
Sementara itu, Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) mengambil pendekatan yang berbeda. Operator ini menjalankan strategi "more for more", yakni memberikan kuota yang lebih besar kepada pelanggan dengan harga yang relatif tetap. Akibatnya, data yield dan harga rata-rata paket terlihat menurun secara statistik.
Meski demikian, strategi tersebut tidak serta-merta menunjukkan pelemahan pricing power. Justru langkah itu mengindikasikan upaya mempertahankan loyalitas pelanggan melalui peningkatan value proposition tanpa harus melakukan pemotongan harga yang agresif.
Perubahan juga terjadi di segmen fixed broadband. IndiHome melakukan penyesuaian paket dengan menurunkan kecepatan sejumlah layanan 300 Mbps menjadi 200 Mbps pada segmen harga tertentu. Selain itu, beberapa paket Internet+TV dan paket triple play juga dihapus dari portofolio produk.
Secara statistik, langkah tersebut membuat data yield terlihat menurun. Namun di balik itu, perusahaan sebenarnya sedang menyederhanakan portofolio layanan dan mengarahkan pelanggan ke struktur produk yang lebih efisien.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.