KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level Rp17.105 per dolar AS, menjadi posisi terendah sejak krisis moneter 1998. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan global yang dipicu lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik.
Sebagaimana data Kiwoom Morning Equity Kiwoom Sekuritas Indonesia, Rabu, 8 April 2026, yang dihimpun Kabarbursa.com, pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya risiko global akibat konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ancaman gangguan pasokan energi dunia. Tekanan ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.
“Kondisi pasar global sebelumnya berada dalam fase defensif menjelang tenggat ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Ketegangan tersebut meningkatkan risiko gangguan distribusi energi global,” tulis laporan tersebut.
Harga minyak sempat bertahan di atas USD110 per barel sebelum akhirnya turun setelah adanya penundaan rencana serangan militer. Lonjakan harga energi ini menjadi salah satu faktor awal yang memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Analis global mencatat potensi tekanan lanjutan terhadap mata uang emerging market apabila harga minyak kembali meningkat. Negara-negara yang bergantung pada impor energi dinilai lebih rentan terhadap pelemahan nilai tukar dalam kondisi tersebut.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah arus keluar dana asing dari pasar domestik. Pada perdagangan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat aksi jual bersih asing sebesar Rp1,78 triliun.
IHSG kemarin ditutup melemah 0,26 persen ke level 6.971,02 setelah sempat menyentuh level 7.022 pada intraday. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah ketidakpastian global.
Di pasar global, indeks dolar AS sempat melemah ke level 99,86 sebelum kembali stabil setelah sentimen membaik. Pergerakan ini menunjukkan dinamika nilai tukar yang dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter.
“Tekanan terhadap rupiah juga berkaitan dengan meningkatnya ekspektasi inflasi global akibat kenaikan harga energi. Data menunjukkan potensi kenaikan inflasi yang dapat mempengaruhi arah suku bunga global," pungkas laporan tersebut.
Kondisi tersebut menempatkan mata uang negara berkembang dalam posisi rentan terhadap tekanan eksternal. Pergerakan rupiah menjadi salah satu indikator yang mencerminkan dampak dinamika global terhadap pasar domestik.(*)