KABARBURSA.COM - Saham PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) mencatat lonjakan harga dalam sebulan terakhir. Peningkatan harga ini membuat valuasi saham ARKO sudah mencapai level tinggi.
Mengutip data perdagangan Stockbit, harga saham ARKO dalam sebulan periode 20 Maret hingga 20 April 2026 sudah melonjak hingga 40 persen.
Bersamaan dengan naiknya harga itu, data menunjukkan rasio valuasi ARKO berada pada level tinggi. Price to Earnings Ratio (PER) tercatat 413,59 kali, Price to Book Value (PBV) 51,31 kali, serta EV/EBITDA mencapai 750 kali, sementara Price to Sales berada di level 76,98 kali.
Rasio tersebut cukup menggambarkan perbandingan timpang tindih antara harga saham dengan kinerja keuangan yang dihasilkan perusahaan. Berdasarkan angka itu, harga saham dianggap jauh lebih tinggi dibandingkan laba, ekuitas, dan pendapatan yang tercatat saat ini.
Pada aspek profitabilitas, Return on Equity (ROE) tercatat 12,41 persen dan Return on Assets (ROA) 3,77 persen. Margin laba bersih berada di level 16,92 persen, sedangkan margin operasional tercatat -34,38 persen.
Sementara dari segi likuiditas, current ratio dan quick ratio ARKO masing-masing berada di level 0,66 kali.
Di sisi lain, merujuk laporan keuangan yang dipublikasikkan, ARKO mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang 2025 dengan pendapatan sebesar Rp343,32 miliar, meningkat dibandingkan Rp238,91 miliar pada 2024.
Laba bersih emiten energi terbarukan ini juga mengalami kenaikan menjadi Rp63,89 miliar pada 2025, dari Rp41,80 miliar pada tahun sebelumnya.
Pendapatan pada tahun ini diikuti dengan kenaikan laba sebelum pajak menjadi Rp59,96 miliar dari Rp21,12 miliar pada 2024.
Secara operasional, beban pokok penjualan dan pendapatan tercatat Rp253,60 miliar, naik dari Rp180,34 miliar pada tahun sebelumnya. Angka ini membuat laba bruto ARKO sebesar Rp89,71 miliar, meningkat dari Rp58,57 miliar.
Dari sisi neraca, ARKO memiliki total aset mencapai Rp1,69 triliun per akhir 2025. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,31 triliun.
Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan aset tidak lancar sebesar Rp1,41 triliun dan aset lancar sebanyak Rp281,58 miliar. Adapun kotribusi terbesar berasal dari kas dan setara kas Rp99,32 miliar.
Dari sisi liabilitas, ARKO memiliki total kewajiban sebesar Rp1,18 triliun, atau naik dari Rp867,72 miliar pada tahun 2024. Sementara itu total ekuitas juga meningkat menjadi Rp516,20 miliar dari Rp451,62 miliar. (*)