Logo
>

Saham CLEO Berbanding Terbalik dengan Fundamental, Kok Bisa?

Harga saham CLEO turun 16 persen dalam tiga bulan terakhir, padahal penjualan dan ekspansi pabrik terus meningkat.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Saham CLEO Berbanding Terbalik dengan Fundamental, Kok Bisa?
Kinerja PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO), produsen air minum dalam kemasan (AMDK), kembali menunjukkan tren penguatan. (Foto: Dok. Sariguna Primatirta)

KABARBURSA.COM — Kinerja PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO), produsen air minum dalam kemasan (AMDK), kembali menunjukkan tren penguatan. 

Perusahaan mencatat penjualan sebesar Rp2,09 triliun pada sembilan bulan pertama 2025, tumbuh 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan industri AMDK Indonesia yang secara historis bergerak di kisaran 5 persen per tahun. 

CEO CLEO, Melisa Patricia, menyebut dari sisi kontribusi penjualan, segmen botol menjadi motor utama dengan torehan Rp1,15 triliun atau naik 7 persen secara tahunan. Sementara, segmen non botol juga mencatat kinerja positif dengan peningkatan 4 persen menjadi Rp897,02 miliar. 

Kedua segmen menunjukkan tren penguatan permintaan, seiring semakin luasnya jangkauan CLEO lewat perluasan jaringan distribusi dan penambahan fasilitas produksi.

Sepanjang tahun ini, CLEO juga terus melakukan ekspansi agresif. Perusahaan memperluas jaringan pabrik dan memperkuat rantai distribusi untuk memastikan produk CLEO dapat menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia. 

Selain itu, strategi inovasi juga menjadi pilar penting pertumbuhan Perusahaan. CLEO meluncurkan Cleo Eco Lite, produk baru dengan kemasan lebih ringan dan ramah lingkungan. Produk ini diperkenalkan bertepatan dengan perayaan 22 tahun perusahaan pada 14 November 2025. 

Kehadirannya tidak hanya menjadi pencapaian simbolis, tetapi juga menunjukkan komitmen CLEO terhadap tanggung jawab lingkungan dan kebutuhan konsumen modern.

Di tengah langkah ekspansi dan inovasi tersebut, CLEO tetap mampu mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp305,12 miliar hingga kuartal ketiga 2025. 

Ia menegaskan bahwa strategi perusahaan sejauh ini berjalan sesuai rencana. “Pencapaian ini menunjukkan efektivitas strategi kami, di mana ekspansi dan inovasi melalui peluncuran produk baru telah memberikan fondasi yang kuat bagi kinerja Perusahaan. Kami yakin, dampak positif dari strategi ini akan semakin terlihat pada tahun mendatang,” ujar Melisa dikutip Minggu, 30 November 2025.

Selain memperkenalkan produk baru, CLEO terus memperkuat performa operasional melalui optimalisasi teknologi di seluruh lini bisnis, mulai dari produksi hingga distribusi. Langkah ini membuat proses bisnis semakin efisien, sekaligus menekan biaya logistik dan operasional di tengah kebutuhan suplai produk yang terus meningkat.

Saat ini CLEO mengoperasikan 32 pabrik aktif di berbagai wilayah Indonesia. Untuk memperkuat kapasitas dan memperluas penetrasi pasar, perusahaan berencana menambah 3 pabrik baru yang berlokasi di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru. Ketiga fasilitas ini ditargetkan beroperasi penuh pada 2026 dan akan menjadi motor pertumbuhan baru bagi CLEO di tahun-tahun mendatang.

Secara keseluruhan, laju kinerja CLEO pada sembilan bulan pertama tahun ini mencerminkan kekuatan fundamental perusahaan dalam mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan. 

Dengan fondasi ekspansi, inovasi produk, optimalisasi teknologi, dan jaringan distribusi yang semakin luas, prospek CLEO menuju 2026 dinilai semakin menjanjikan. Perusahaan juga terus mempertegas posisinya sebagai produsen AMDK yang mengedepankan kualitas, inovasi, dan tanggung jawab lingkungan.

Saham CLEO, Bagaimana Kinerjanya?

Namun, jika menilik data perdagangannya di Stockbit. Data terbaru menunjukkan tren penurunan laba bersih dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara harga sahamnya ikut tertekan signifikan dalam tiga bulan terakhir.

Berdasarkan data perdagangan, harga saham CLEO saat ini berada di level 505 dan turun 100 poin dalam tiga bulan terakhir, setara penurunan 16.53 persen. 

Sepanjang periode tersebut, saham CLEO bergerak di rentang sekitar 605 sebagai level tertinggi dan 500 sebagai level terendah. Tekanan ini kontras dengan fundamental jangka panjang perusahaan yang selama ini dikenal defensif di sektor konsumsi.

Dari sisi kinerja keuangan, data menunjukkan bahwa pada 2025 CLEO membukukan laba bersih Rp117 miliar pada kuartal I, Rp91 miliar pada kuartal II, dan Rp98 miliar pada kuartal III. Jika dijumlahkan, perusahaan mencatat annualised laba bersih sebesar 407 miliar pada 2025 dengan total laba trailing twelve months atau TTM mencapai Rp439 miliar.

Namun, jika dibandingkan dengan kinerja 2024 terlihat adanya perlambatan. Pada tahun tersebut, CLEO membukukan laba bersih Rp113 miliar pada kuartal I, Rp107 miliar pada kuartal II, Rp111 miliar pada kuartal III, dan Rp134 miliar pada kuartal IV. 

Sepanjang 2024 total laba bersih annualised mencapai Rp465 miliar dengan TTM yang sama di angka Rp465 miliar. Artinya, annualised 2025 lebih rendah dibanding setahun sebelumnya yang berada di atas Rp460 miliar.

Sementara itu, data historis juga menunjukkan tren pertumbuhan dalam beberapa tahun sebelumnya. Pada 2023, laba bersih CLEO berada di kisaran 62 miliar pada kuartal I, 63 miliar pada kuartal II, 75 miliar pada kuartal III, dan melonjak menjadi 111 miliar pada kuartal IV. 

Annualised laba bersih 2023 mencapai 322 miliar. Kenaikan signifikan dari 2023 ke 2024 sempat menjadi katalis kuat bagi persepsi investor, meski pada 2025 pergerakan tersebut mulai melandai.

Di sisi lain, CLEO tetap menjaga kedisiplinan dalam pembagian dividen. Dividen TTM tercatat 2.50 dengan payout ratio 14.75 persen pada 2025, sedikit naik dibanding 12.90 persen pada 2024 namun masih lebih rendah dibanding 18.7 persen pada 2023. Dividend yield 2025 berada pada level 0.50 persen, meningkat dari 0.34 persen pada 2024 dan 0.3 persen pada 2023, 

Adapun struktur kepemilikan perusahaan menunjukkan saham beredar sebanyak 24 miliar dengan free float 12.36 persen. Total kapitalisasi pasar CLEO berada di kisaran 12,120 miliar yang menempatkannya sebagai salah satu pemain besar di industri AMDK. (*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".