KABARBURSA.COM – Pergerakan saham DADA atau PT Diamond Citra Propertindo Tbk kembali menjadi sorotan setelah harga turun ke level psikologis “gocapan” sejak perdagangan Selasa, 13 Januari 2026.
Hingga Rabu, 14 Januari 2026 pukul 14.40 WIB, saham DADA diperdagangkan di level 51, melemah 2 poin atau 3,77 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya, merujuk data perdagangan di platform Stockbit.
Lebih lanjut, data perdagangan menunjukkan volume DADA mencapai sekitar 500,22 juta saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume harian yang berada di kisaran 372,12 juta saham. Lonjakan volume ini terjadi seiring pergerakan harga yang relatif sempit di rentang 50–54, dengan level terendah menyentuh 50 dan tertinggi di 54.
Secara intraday, tekanan jual terlihat konsisten sejak awal sesi. Harga pembukaan di level 53 sempat bergerak naik, namun tidak bertahan lama sebelum kembali melemah. Frekuensi transaksi tercatat tinggi, mencapai lebih dari 3.600 kali, dengan total sekitar 2,05 juta lot berpindah tangan.
Struktur orderbook memperlihatkan antrean bid paling tebal berada di level 50 dengan jumlah sekitar 37,8 juta lot. Sementara itu, penawaran tersebar bertahap mulai dari 52 hingga 60.
Kondisi ini menunjukkan minat beli masih menunggu di area bawah, sementara pasokan tetap aktif muncul di atasnya. Dalam konteks mikrostruktur pasar, gocapan berfungsi sebagai titik temu antara pelaku yang memilih keluar dan pihak yang bersedia menampung.
Inilah Peta Perpindahan Barangnya di DADA
Perpindahan saham DADA bisa ditelusuri jelas dari rangkaian data perdagangan harian sejak 6 Januari 2026, tepat ketika ada lonjakan volume mendadak.
Pola ini membentuk satu siklus lengkap, dimulai dari fase penyerapan di harga bawah, diikuti eskalasi volume dan nilai, hingga berujung pada distribusi bertahap yang membawa harga kembali ke level gocapan.
Fase awal terbentuk pada 6 Januari 2026, ketika DADA ditutup di level 50 tanpa perubahan harga. Nilai transaksi sangat kecil, hanya sekitar Rp687,2 juta, dengan volume 137,44 ribu saham dan frekuensi 1.680 kali. Harga bergerak stagnan di 50 sepanjang hari.
Pada hari itu, Yuanta Sekuritas Indonesia (FS) dan Korea Investment and Securities Indonesia (BQ). Nilai pembelian masing-masing sekitar Rp94,2 juta dan Rp93,8 juta di harga rata-rata 50. Dengan nilai pembelian tersebut, masing-masing broker membangun posisi sekitar 1,88 juta saham.
Perubahan struktur terjadi pada 7 Januari 2026. Harga melonjak 20 persen ke level 60, disertai lonjakan volume menjadi 93,81 juta saham dan nilai transaksi Rp553,31 miliar, dengan frekuensi 246.100 kali. Pada hari ini, arus dana asing mencatat net foreign sell sekitar Rp6,49 miliar.
Lonjakan harga 20 persen disertai peningkatan tajam volume dan frekuensi transaksi. Pada hari ini, pembelian besar tercatat melalui Stockbit Sekuritas Digital (XL) dengan nilai sekitar Rp30,2 miliar di harga rata-rata 60. Ajaib Sekuritas Indonesia (XC) juga mencatat pembelian sekitar Rp5,6 miliar di harga yang sama.
Eskalasi berlanjut pada 8 Januari 2026. Harga naik ke 63, volume melonjak drastis menjadi 51,39 juta saham, dan nilai transaksi membengkak ke Rp337,65 miliar, dengan frekuensi 155.710 kali. Meski volatilitas tinggi, arus asing relatif seimbang, dengan net foreign buy sekitar Rp221,54 juta.
Pembelian tercatat melalui BCA Sekuritas (SQ) sekitar Rp3,1 miliar di harga rata-rata 65. Aktivitas beli juga muncul melalui MNC Sekuritas (EP) dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) di kisaran harga 65–66.
Puncak tekanan distribusi terlihat pada 9 Januari 2026. Harga terkoreksi tajam 7,94 persen ke level 58, dengan nilai transaksi Rp87,43 miliar dan volume 14,10 juta saham.
Koreksi harga mulai terjadi. Pada hari ini, pelepasan tercatat melalui Stockbit Sekuritas Digital (XL) dengan nilai sekitar Rp2,9 miliar di harga rata-rata 62. Jika dibandingkan dengan harga beli di 60, realisasi tersebut menghasilkan selisih sekitar Rp2 per saham, atau sekitar Rp95 juta. Ajaib Sekuritas Indonesia (XC) juga mencatat penjualan sekitar Rp1,3 miliar di harga rata-rata 60.
Di sisi lain, tercatat net foreign buy sekitar Rp1,80 miliar, menunjukkan penyerapan terbatas di tengah koreksi.
Distribusi membesar pada 12 Januari 2026. Harga kembali turun 8,62 persen ke level 53, disertai lonjakan nilai transaksi menjadi Rp67,07 miliar dan volume 11,75 juta saham, dengan frekuensi hampir 50 ribu kali.
Penjualan terbesar tercatat melalui Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) sekitar Rp4,3 miliar di harga rata-rata 56. Jika posisi tersebut berasal dari pembelian di kisaran 65–66, selisih negatif sekitar Rp9–10 per saham mencerminkan penurunan nilai sekitar Rp650–700 juta.
XL kembali mencatat penjualan sekitar Rp1,5 miliar di harga rata-rata 58, yang dibandingkan harga beli 60 menghasilkan selisih negatif sekitar Rp2 per saham atau sekitar Rp50 juta. Net foreign buy pada hari itu tercatat Rp1,57 miliar.
Pada 13 Januari 2026, harga bertahan di 53. Harga bergerak datar dengan frekuensi transaksi tetap tinggi. Pembelian tercatat melalui YP sekitar Rp1,5 miliar di harga rata-rata 54. SQ dan Sinarmas Sekuritas (DH) juga tercatat di sisi beli pada kisaran harga yang sama.
Di sisi jual, XL mencatat penjualan sekitar Rp2,6 miliar di harga rata-rata 54, diikuti XC dan Mandiri Sekuritas (CC).
Puncaknya terlihat pada 14 Januari 2026, ketika harga kembali turun ke level gocapan di 51. Nilai transaksi menyusut ke Rp23,22 miliar, dengan volume 4,50 juta saham dan frekuensi 14.860 kali. Rentang harga kembali menyempit di 50–54, mencerminkan berkurangnya tekanan jual dibanding fase distribusi sebelumnya.
Dengan kata lain, berdasarkan selisih harga, pembelian di kisaran 50–52 yang direalisasikan di area 60–62 mencatat selisih positif sekitar Rp8–12 per saham sebelum biaya transaksi.
Sebaliknya, pembelian di kisaran 60–66 yang belum sepenuhnya direalisasikan dan kini berada di harga 50–51 mencatat selisih negatif sekitar Rp9–15 per saham secara mark-to-market. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.