KABARBURSA.COM – PT Bakrie Metal Industries pada 24 Desember 2025, melepas 551,6 juta saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, berkode saham VKTR. Nilai itu setara dengan 1,26 persen dengan nilai transaksi yang didapat oleh Bakrie sebesar Rp466,1 miliar.
Bakrie Metal Industries menjual saham VKTR di harga Rp85 per saham. Tujuan divestasi tersebut adalah pembayaran utang, bukan penilaian ulang atas proyek VKTR. Dengan transaksi ini, porsi kepemilikan Bakrie Metal Industries berkurang dari 15,69 persen menjadi 14,43 persen.
Seperti yang sudah disampaikan, tujuan aksi ini adalah untuk pembayaran utang dan bukan penilaian ulang atas proyek VKTR. Karenanya, pasar memberikan reaksi yang berbeda.
Di sesi awal perdagangan 2 Januari 2025, saham VKTR melesat 17,16 persen atau naik ke level 990. Lonjakan ini memperpanjang tren naik yang sudah terbentuk sejak kuartal IV-2025. Secara teknikal, ini bukan reli sesaat. Struktur grafik harian dan mingguan menunjukkan tren naik yang sangat terkonfirmasi.
Dari grafik Nampak bahwa harga saat ini sedang bergerak jauh di atas seluruh rata-rata pergerakan utama. MA5 berada di kisaran 780, MA20 di sekitar 397, hingga MA200 di 168. Hal ini menandakan bahwa reli VKTR bersifat impulsif dan parabolik, bukan sekadar rebound teknikal.
Indikator teknikal menguatkan narasi tersebut. RSI di level 96,68, Stochastic RSI hampir 95, ADX di atas 82, dan Williams %R mendekati nol menunjukkan kondisi beli berlebih ekstrem. Namun yang menarik, tidak ada satu pun indikator yang memberi sinyal jual.
Momentum masih dominan, tercermin dari MACD yang terus melebar positif serta ROC yang mencapai 395, menggambarkan percepatan harga yang sangat agresif. Dalam kondisi seperti ini, pasar sedang berada dalam fase price discovery yang dipimpin momentum, bukan pertimbangan valuasi jangka pendek.
Demand Lebih Kuat dari Supply
Dari sisi volume, lonjakan transaksi yang menyertai kenaikan harga menunjukkan bahwa penyerapan saham berlangsung agresif, bahkan setelah aksi jual dari pemegang saham besar. Artinya, saham yang dilepas oleh Grup Bakrie tidak menekan harga, justru terserap oleh pasar.
Ini menjadi sinyal penting bahwa demand lebih kuat daripada supply, sebuah karakteristik klasik dari saham yang sedang berada dalam fase distribusi awal menuju euforia, bukan fase distribusi akhir.
Secara fundamental, data keuangan VKTR memberikan konteks yang lebih seimbang. Hingga kuartal III-2025, pendapatan bersih mencapai Rp717 miliar, tumbuh 11 persen secara tahunan, di tengah kondisi penjualan otomotif nasional yang belum pulih. Pertumbuhan ini ditopang oleh lonjakan penjualan kendaraan listrik, sementara segmen manufaktur suku cadang tetap stabil dan resilien.
Namun, pasar juga tidak menutup mata terhadap fakta bahwa laba bersih anjlok 89 persen menjadi hanya Rp1,1 miliar. Penurunan ini bukan karena lemahnya permintaan, melainkan karena kenaikan beban usaha strategis untuk ekspansi, termasuk uji coba produk dengan calon pelanggan.
Di sinilah sinyal VKTR menjadi jelas. Pasar saat ini tidak sedang menilai laba jangka pendek, melainkan sedang membayar mahal narasi pertumbuhan dan positioning strategis di ekosistem kendaraan listrik.
Aksi jual Grup Bakrie justru terbaca sebagai langkah finansial internal, bukan sinyal bearish terhadap prospek VKTR. Sementara itu, pelaku pasar memilih fokus pada momentum teknikal, pertumbuhan pendapatan, dan potensi leverage bisnis ke depan.
Kesimpulannya, sinyal yang diberikan VKTR saat ini adalah sinyal momentum kuat dengan risiko overheating. Selama tren teknikal belum patah dan volume tetap mendukung, pasar masih berada dalam mode akumulasi agresif.
Namun dengan indikator yang sudah sangat jenuh beli dan volatilitas yang tinggi, pergerakan VKTR ke depan akan semakin sensitif terhadap katalis baru. Ini bukan fase saham yang bergerak perlahan, melainkan fase saham yang bergerak cepat, emosional, dan sangat dipengaruhi oleh keyakinan pasar terhadap cerita besarnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.