Logo
>

Sektor Energi Melemah, IHSG Naik 52 Poin: Bursa Asia Ikut Menguat

Penguatan IHSG pada sesi I ditopang mayoritas sektor yang naik, sementara sektor energi melemah. Bursa Asia ikut menguat setelah pernyataan Donald Trump meredakan ketegangan konflik Timur Tengah.

Ditulis oleh Yunila Wati
Sektor Energi Melemah, IHSG Naik 52 Poin: Bursa Asia Ikut Menguat
IHSG di sesi pertama menguat di saat sektor energi melemah lantaran pernyataan Presiden AS Donald Trump, bahwa konflik Timur Tengah segera berakhir. (Foto: Dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi pertama Selasa, 10 Maret 2026, di zona penguatan. Indeks naik 52 poin atau 0,71 persen ke level 7.389, setelah bergerak dalam rentang intraday antara 7.372 hingga 7.499.

Sepanjang sesi perdagangan, pergerakan indeks relatif stabil di wilayah positif. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 460 saham menguat, 244 saham melemah, dan 254 saham tidak mengalami perubahan harga.

Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat cukup aktif pada paruh pertama perdagangan. Frekuensi transaksi mencapai sekitar 1,22 juta kali dengan nilai transaksi sebesar Rp10,58 triliun dan kapitalisasi pasar perdagangan sekitar Rp13,23 triliun.

Dari sisi sektoral, mayoritas indeks juga berada di zona hijau. Sektor bahan baku mencatat penguatan paling tinggi dengan kenaikan 3,08 persen ke level 2.146. Kenaikan juga terlihat pada sektor industri yang naik 2,49 persen ke level 1.845 serta sektor konsumer primer yang menguat 1,47 persen ke level 1.011.

Penguatan turut terjadi pada sektor transportasi yang naik 1,15 persen ke level 1.794 dan sektor properti yang meningkat 1,11 persen ke posisi 946. Sektor kesehatan bertambah 0,45 persen menjadi 1.819, sementara sektor konsumer non primer naik 0,42 persen ke level 707.

Sektor teknologi dan keuangan juga bergerak positif meskipun dengan kenaikan yang lebih terbatas. Indeks teknologi naik 0,27 persen menjadi 7.753 dan sektor keuangan menguat 0,47 persen ke level 1.387. Sementara itu sektor infrastruktur naik tipis 0,09 persen ke level 1.971.

Di tengah penguatan mayoritas sektor, energi menjadi satu-satunya sektor yang berada di zona negatif. Indeks sektor energi turun 0,16 persen ke level 3.792.

Top Gainers dan Top Loosers

Pergerakan saham dalam indeks Kompas100 menunjukkan beberapa emiten mencatat kenaikan signifikan. Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memimpin daftar penguatan dengan kenaikan 14,39 persen ke level 755.

Saham PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) menyusul dengan kenaikan 9,40 persen menjadi 640, sementara PT Timah Tbk (TINS) menguat 9,36 persen ke level 3.740.

Di sisi lain, sejumlah saham mengalami tekanan pada sesi perdagangan yang sama. Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) tercatat turun 6,34 persen ke level 1.920. Saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) melemah 5,45 persen menjadi 1.300, sedangkan PT Elnusa Tbk (ELSA) terkoreksi 4,76 persen ke level 800.

Trump: Konflik Timteng Segera Berakhir

Pergerakan pasar saham domestik tersebut berlangsung bersamaan dengan penguatan yang terjadi di mayoritas bursa Asia. Indeks saham Asia mencatat kenaikan pada perdagangan hari yang sama setelah muncul pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut konflik di Timur Tengah berpotensi segera berakhir.

Indeks MSCI Asia di luar Jepang naik sekitar 2,6 persen sehingga mengurangi sebagian tekanan yang terjadi sejak awal konflik di kawasan tersebut. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan pelemahan harga minyak global.

Di kawasan Jepang, indeks Nikkei 225 naik 2,31 persen sementara indeks Topix menguat 2,00 persen. Penguatan juga terlihat pada pasar saham China dengan indeks Shanghai naik 0,39 persen dan Shenzhen Composite meningkat 1,57 persen. Indeks CSI 300 yang merepresentasikan saham berkapitalisasi besar di China juga naik 1,09 persen.

Bursa Hong Kong melalui indeks Hang Seng mencatat kenaikan 1,56 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi menjadi salah satu yang mencatat kenaikan paling tinggi di kawasan dengan lonjakan 4,69 persen.

Penguatan juga terjadi di pasar Taiwan melalui indeks Taiex yang naik 1,81 persen serta di Australia dengan indeks ASX 200 yang bertambah 0,93 persen.

Pergerakan pasar saham global tersebut berlangsung di tengah dinamika geopolitik yang masih berkembang di kawasan Timur Tengah. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut konflik dapat segera berakhir dinilai meredakan sebagian tekanan di pasar keuangan global.

Analis pasar di IG Sydney, Tony Sycamore, mengatakan pelunakan retorika dari pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang membantu menenangkan sentimen pasar dalam jangka pendek.

“Meskipun semua ini telah membantu meredakan kepanikan jangka pendek, sulit untuk menyelaraskan gagasan bahwa konflik tersebut benar-benar telah selesai sepenuhnya,” kata Sycamore.

Ia menambahkan bahwa perubahan nada komunikasi dari sebelumnya menuntut penyerahan penuh hingga menyebut misi telah “sangat lengkap” dipandang sebagai perkembangan yang membantu meredakan ketegangan pasar setidaknya dalam sesi perdagangan Asia.

Namun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda. Militer Iran disebut memperingatkan akan meningkatkan serangan rudal sebagai bentuk respons terhadap perkembangan konflik di kawasan tersebut.

Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memberikan respons keras apabila Iran melakukan tindakan yang mengganggu aliran minyak di Selat Hormuz.

Pasar Obligasi dan Mata Uang Global

Di pasar obligasi global, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun tercatat turun sekitar 2,3 basis poin menjadi 4,109 persen. Penurunan tersebut terjadi setelah sebelumnya harga minyak yang melonjak memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Pergerakan ini turut mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan penurunan suku bunga Federal Reserve baru akan terjadi pada bulan Juli.

Analis dari ING menyebut tingkat imbal hasil obligasi saat ini masih berada pada level yang relatif tinggi sehingga tetap menjadi perhatian pelaku pasar.

Menurut mereka, penurunan imbal hasil dalam jangka pendek dapat terjadi sebagai dampak dari pembalikan posisi perdagangan sebelumnya, meskipun pasar belum melihat adanya peluang reli struktural yang kuat pada pasar obligasi.

Di pasar mata uang Asia, pergerakan relatif bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat. Yen Jepang tercatat melemah 0,08 persen ke posisi 157,79 per dolar AS. Dolar Singapura juga turun tipis 0,06 persen ke level 1,2754 per dolar AS.

Dolar Australia melemah 0,21 persen ke posisi 0,7061 per dolar AS. Sebaliknya, rupiah Indonesia menguat 0,38 persen ke level 16.885 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya juga mencatat penguatan terhadap dolar. Rupee India naik 0,16 persen ke posisi 92,1788 per dolar AS, yuan China menguat 0,29 persen ke level 6,8867 per dolar AS, dan ringgit Malaysia naik 0,75 persen ke posisi 3,9325 per dolar AS.

Sementara itu baht Thailand tercatat melemah 0,38 persen menjadi 31,787 per dolar AS.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79