KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah melonjak sekitar 2 persen pada perdagangan Kamis. Pasar bergerak cepat. Kekhawatiran atas eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah—urat nadi energi global—mendorong harga ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Kontrak berjangka Brent, tolok ukur internasional, menguat USD1,31 atau 1,9 persen menjadi USD71,66 per barel, menurut laporan Reuters di New York, Jumat 20 Februari pagi WIB. Di sisi lain, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sebagai referensi Amerika Serikat, naik USD1,24 atau 1,9 persen ke USD66,43 per barel. Setelah reli lebih dari 4 persen pada sesi Rabu, Brent mencatat penutupan tertinggi sejak 31 Juli, sementara WTI mencapai posisi terbaiknya sejak 1 Agustus.
Reli ini bukan tanpa sebab. Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, menilai lonjakan harga dipantik oleh friksi geopolitik yang kian menajam serta spekulasi bahwa Washington dapat melancarkan aksi militer terhadap Teheran. Pasar, kata dia, bereaksi bukan hanya pada fakta, tetapi juga pada probabilitas. Selama risiko membayangi, harga cenderung bertahan di jalur menanjak.
Situasi memanas setelah Iran dilaporkan berencana menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia. Beberapa hari sebelumnya, Teheran sempat menutup Selat Hormuz selama beberapa jam untuk kepentingan manuver militer. Selat strategis itu merupakan koridor vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas di perairannya.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya atau menghadapi konsekuensi serius. Ia bahkan mengisyaratkan tenggat waktu 10 hari sebelum kemungkinan langkah lebih lanjut diambil Washington. Retorika keras itu menambah dimensi ketidakpastian di pasar komoditas.
Amerika Serikat telah mengerahkan kapal induk, kapal perang, serta jet tempur ke kawasan. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pemerintah tengah menimbang antara jalur diplomasi dengan Teheran atau opsi lain yang lebih tegas. Pesan yang tersirat jelas: seluruh skenario masih terbuka.
Dari Teheran, sinyal kesiapsiagaan juga mengemuka. Otoritas Iran mengeluarkan pemberitahuan kepada penerbang terkait rencana peluncuran roket di wilayah selatan negara tersebut, sebagaimana tercantum di situs Badan Penerbangan Federal Amerika. Sejumlah negara bahkan meminta warganya untuk meninggalkan Iran, mencerminkan peningkatan kewaspadaan internasional.
Di sisi fundamental pasokan, data menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi—eksportir terbesar dunia—turun menjadi 6,988 juta barel per hari, level terendah sejak September, berdasarkan Joint Organizations Data Initiative. Pada saat yang sama, kelompok produsen OPEC dan sekutunya dilaporkan tengah mempertimbangkan peningkatan produksi mulai April. Kombinasi risiko geopolitik dan dinamika suplai inilah yang kini membentuk lanskap harga minyak global.(*)