Logo
>

Setahun IPO MINE: Bagikan Dividen di Tengah Laba dan Harga Tertekan

MINE tebar dividen Rp60,23 miliar setelah ekspansi alat berat Rp267 miliar, saat kinerja melandai dan saham masih terkoreksi dari puncak.

Ditulis oleh Yunila Wati
Setahun IPO MINE: Bagikan Dividen di Tengah Laba dan Harga Tertekan
Sudah lebih dari satu tahun melantai di BEI, MINE rencanakan pembagian dividen senilai Rp6,23 miliar. (Foto: dok Sinar Terang Mandiri)

KABARBURSA.COM – Sudah satu tahun lebih PT Sinar Terang Mandiri Tbk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mencatatkan saham perdana pada 10 Maret 2025, emiten yang memiliki kode saham MINE ini membawa kabar akan membagikan dividen tunai sebesar Rp60,23 miliar, atau Rp14,75 per saham.

Dividen tersebut setara 30 persen dari laba bersih 2025. Namun, data pasar dan fundamental berkata lain. MINE sedang berada pada fase penyesuaian setelah periode ekspansi agresif pasca-IPO.

Penggunaan Dana IPO dan Ekspansi

Dari sisi penggunaan dana, seluruh hasil IPO sebesar Rp129,61 miliar telah terserap penuh hingga akhir 2025. Alokasi terbesar diarahkan pada pengadaan alat berat serta pembelian aset berupa tanah dan bangunan, sementara sisanya digunakan untuk modal kerja. 

Langkah ini diperkuat dengan tambahan belanja alat berat mencapai Rp267 miliar sepanjang 2025, yang digunakan untuk mendukung kontrak baru. Artinya, dalam tahun pertama sebagai emiten, MINE langsung masuk ke fase ekspansi operasional dengan peningkatan kapasitas produksi.

Namun, ekspansi tersebut berjalan beriringan dengan perubahan struktur kinerja keuangan. Pada kuartal IV 2025, pendapatan tercatat Rp579 miliar, lebih rendah dibandingkan kuartal III 2025 sebesar Rp634 miliar. 

Laba bersih kuartalan berada di Rp56 miliar, relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp106 miliar. Secara margin, net profit margin berada di kisaran 9,76 persen, sementara pertumbuhan laba bersih secara tahunan tercatat negatif sekitar 46,85 persen.

Dari sisi rasio, efisiensi dan profitabilitas juga menunjukkan penyesuaian. Return on equity kuartalan berada di sekitar 6,04 persen, turun dari level dua digit pada periode sebelumnya. Interest coverage berada di kisaran 3,5–4,6 kali, masih menunjukkan kemampuan memenuhi kewajiban, namun lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mencapai di atas 10 kali. 

Sementara itu, struktur permodalan relatif konservatif dengan debt to equity ratio sekitar 0,20, mencerminkan leverage yang masih terkendali di tengah ekspansi.

Harga Saham Merosot

Jika ditarik ke pergerakan saham, pola yang terbentuk dalam 12 bulan terakhir menunjukkan fase penurunan setelah sempat mencapai puncak. Harga saham berada di kisaran 550 pada September–Oktober 2025, kemudian turun bertahap hingga berada di area 300–350 pada awal 2026. 

Secara year-to-date, saham masih mencatat penurunan sekitar 21 persen, dengan pelemahan 6 bulan mencapai lebih dari 30 persen. Pada April 2026, harga berada di kisaran 364, mencatat kenaikan bulanan sekitar 8,98 persen, namun masih berada di bawah level historis sebelumnya.

Dari sisi arus dana, pergerakan investor asing juga menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam. Pada Agustus 2025 tercatat net foreign buy mencapai Rp8,02 miliar, namun berbalik menjadi net sell dalam beberapa bulan berikutnya, termasuk tekanan signifikan pada Oktober dan November 2025. 

Memasuki 2026, arus dana kembali bergantian antara net buy dan net sell, dengan April 2026 mencatat net sell sekitar Rp109,61 juta. Pola ini menunjukkan belum terbentuknya arah aliran dana yang konsisten dalam jangka menengah.

XC Borong Saham Ratusan Juta Rupiah

Di level transaksi broker, periode April 2026 memperlihatkan distribusi yang relatif tersebar. Ajaib Sekuritas Asia (XC) muncul sebagai pembeli terbesar dengan nilai sekitar Rp195,1 juta di harga rata-rata 365, diikuti Mandiri Sekuritas (CC) dan Stockbit Sekuritas Digital (XL).

Di sisi penjual, Mirae Asset Sekuritas (YP) mendominasi dengan nilai Rp298,7 juta, diikuti UBS Sekuritas (AK) dan OCBC Sekuritas Indonesia (TP). Struktur ini menunjukkan bahwa aktivitas transaksi masih berlangsung dalam pola distribusi yang tidak terkonsentrasi pada satu pihak.

Di tengah dinamika tersebut, pembagian dividen menjadi salah satu penanda transisi fase perusahaan. Setelah satu tahun IPO yang diisi ekspansi agresif dan peningkatan kapasitas, MINE mulai mendistribusikan sebagian laba kepada pemegang saham. 

Keputusan ini muncul bersamaan dengan kondisi di mana kinerja keuangan menunjukkan stabilisasi, sementara harga saham masih berada dalam fase penyesuaian terhadap perubahan fundamental dan arus dana yang belum sepenuhnya stabil.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79