KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan bergerak melemah pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026.
Diketahui pada Senin, 8 Juni 2026, IHSG ditutup anjlok hingga 4,52 persen atau turun 252 poin ke level 5.432.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut pelemahan itu disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp588 miliar di pasar reguler. Penurunan itu pun membawa indeks ke level terendah sejak November 2020.
Sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan, seiring koreksi tajam pada saham-saham teknologi global yang menekan indeks Nasdaq dan KOSPI.
"Dari domestik, pelemahan cadangan devisa yang turun selama lima bulan berturut-turut menjadi USD144,9 miliar turut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar dan aliran modal asing," tulis BRI Danareksa dalam keterangannya.
Dalam jangka pendek, BRI Danareksa menyampaikan IHSG berpotensi melanjutkan tekanan pelemahan dengan area support di 5.200 dan resistance di 5.600.
Menurut mereka, pergerakan rupiah yang bertahan di atas Rp18.150 per dolar AS menjadi risiko utama bagi pasar, terutama jika diikuti berlanjutnya arus keluar dana asing.
"Di sisi lain, eskalasi kembali konflik Iran–Israel meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi mempertahankan sentimen risk-off di IHSG," tulisnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan secara teknikal, pergerakan IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI meskipun fase downtrend terbentuk.
"Sementara itu, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume," ujar dia dalam risetnya.
Nafan menyampaikan sentimen ketegangan di kawasan Timur Tengah mereda setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump via Truth Social secara terbuka mencoba meredakan situasi ketegangan di Lebanon, dan menyerukan Israel serta militan Hizbullah untuk menghentikan "penembakan".
"Namun sejauh ini, harga Brent Oil maupun WTI masing-masing mengalami penguatan sebesar 0,82 persen dan 0,11 persen, tentunya meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan risiko terhadap fiskal negara importir energi, termasuk Indonesia," katanya.
Sementara itu sentimen pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi faktor pemberat bagi penguatan IHSG. Menurut Nafan, nilai tukar rupiah yang sempat terdepresiasi dalam pada kisaran Rp18.187,5 per dolar AS memicu derasnya arus modal keluar oleh investor asing dari berbagai aset berisiko domestik.
Meskipun demikian, kata dia, sering muncul aksi short covering dan bargain hunting pada saham-saham big caps yang sudah oversold.
"Adapun para pelaku investor berpotensi mulai selektif masuk ke sektor dengan visibilitas laba lebih baik seperti banking, consumers, telekomunikasi, maupun komoditas yang masih ditopang harga global," terangnya.
Sementara itu MNC Sekuritas menyampaikan posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave (v) dari wave [v] dan wave 5 sehingga masih berpotensi melemah.
"Cermati 5,184-5,282 sebagai area koreksi berikutnya," tulis MNC Sekuritas.
Menurut MNC Sekuritas , support IHSG pada hari ini ada di level 5.261 hingga 5.191. Sementara area resistance diperkirakan di kisaran level 5.462 - 5,594.
Berikut rekomendasi saham hari ini:
BRI Danareksa: ADMR, MSIN
Mirae Aseet: ENRG, MEDC, PTRO
MNC Sekuritas: ASII, BULL, JPFA, dan NICL. (*)