KABARBURSA.COM – Saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) baru saja mengalami volatilitas tinggi. Hal itu membuat manajemen menyampaikan dua surat resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Surat resmi itu diberikan untuk menanggapi volatilitas transaksi saham serta pemberitaan media terkait perubahan pengendalian perusahaan.
Direktur SGRO, Eris Ariaman mengatakan, fluktuasi harga saham yang terjadi belakangan ini berkaitan dengan pengambilalihan 65,721 persen saham SGRO oleh AGPA Pte. Ltd., anak usaha Posco International Corporation, yang efektif pada 19 November 2025.
Menurut dia, SGRO menjelaskan bahwa sebelum 19 November 2025, perusahaan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi keputusan investasi atau harga saham sebagaimana diatur dalam POJK 31/2015.
Namun, pada tanggal tersebut, Twinwood Family Holdings Limited atau pemegang saham lama yang menguasai 1.195.217.500 saham atau 65,721 persen modal ditempatkan, memberitahukan bahwa seluruh kepemilikannya telah diambil alih AGPA Pte. Ltd.
“Sebelum tanggal 19 November 2025, Perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi harga efek Perseroan. Informasi material baru kami terima pada tanggal tersebut terkait pengambilalihan oleh AGPA Pte. Ltd," kata Eris dikutip Senin, 24 November 2025.
Ia menegaskan, SGRO telah disampaikan resmi kepada OJK, BEI, dan publik melalui Laporan Informasi atau Fakta Material No. 1654/SA/XI/25/RO/GC.
Perseroan juga memastikan tidak mengetahui fakta atau kejadian material lain selain yang terkait transaksi akuisisi. “Tidak ada informasi atau kejadian material lain yang belum kami ungkapkan kepada publik,” tegas manajemen.
Ia menyebut bahwa perusahaan juga tidak mengetahui adanya aktivitas pemegang saham tertentu sebagaimana dimaksud dalam POJK 11/2017 terkait perubahan kepemilikan saham, kecuali transaksi akuisisi yang sudah disampaikan.
Selain itu, SGRO menegaskan tidak memiliki rencana aksi korporasi apa pun dalam tiga bulan ke depan, dan rencana pemegang saham utama terkait kepemilikan sahamnya akan mengikuti proses penawaran tender wajib (MTO)
“AGPA Pte. Ltd. menginformasikan bahwa kepemilikan sahamnya dapat meningkat, tunduk kepada penyelesaian proses MTO,” tulis perusahaan.
Sementara dalam surat kedua keduanya, Eris menjelaskan mengenai perubahan pengendalian perusahaan. Perseroan menjabarkan alasan Twinwood melepas kepemilikan sahamnya.
“Latar belakang pelepasan saham adalah fokus pada lini bisnis yang ada serta menjajaki peluang baru yang sejalan dengan kebutuhan bisnis dan tren pasar yang menjanjikan untuk berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Struktur kepemilikan setelah akuisisi berubah signifikan, dengan AGPA Pte. Ltd. kini menguasai 65,721 persen saham, sisanya dimiliki publik.
SGRO juga memaparkan bahwa pemilik manfaat (ultimate beneficial owner) mengikuti struktur Posco Holdings sebagai perusahaan publik, di mana Inhwa Jang, selaku Chairman Posco Holdings, memenuhi definisi pemilik manfaat dalam konteks regulasi Indonesia.
SGRO menegaskan tidak terdapat hubungan afiliasi antara pemegang saham baru dengan perusahaan maupun manajemen. Transaksi ini juga dipastikan wajib disertai penawaran tender wajib (MTO) sesuai POJK 9/2018, yang akan dilaksanakan sesuai prosedur dan ketentuan OJK.
Ia juga memastikan isu itu tidak akan mempengaruhi operasional perusahaan, hal itu tetap berjalan normal. “Pengambilalihan tidak berdampak negatif terhadap operasional dan strategi bisnis. Perseroan berkomitmen mencapai pertumbuhan berkelanjutan melalui kepatuhan terhadap peraturan dan standar ESG global,” ucapnya.
Terkait dampak bagi pemegang saham publik, manajemen memberikan jaminan bahwa tujuan akuisisi adalah memperkuat fondasi bisnis.
“Pengambilalihan tidak akan berdampak negatif terhadap kepentingan pemegang saham publik. Fokus kami adalah memperkuat profitabilitas jangka panjang dan meningkatkan nilai pemegang saham melalui tata kelola yang transparan," katanya.
Menilik data perdagangannya, saham SGRO memang mengalami kenaikan tajam selama 3 bulan terakhir. Sebelumnya, saham sektor perkebunan kelapa sawit ini berada di Rp4.270 per lembarnya.
Namun, hanya dalam waktu 3 bulan, sahamnya terus mengalami bullish 2.380 poin atau 63,33 persen ke harga Rp7.350 pada penutupan perdagangan Jumat, 21 November 2025.(*)