KABARBURSA.COM – Perdagangan saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) pada Rabu, 19 November 2025, lebih terasa seperti fase tarik napas ketimbang babak baru sebuah reli. Harganya ditutup melemah tipis 0,51 persen di level 392, turun dua poin dari penutupan sehari sebelumnya di 394.
Fase tarik napas ini juga terlihat dari nilai transaksi yang hanya sekitar Rp1,32 miliar dengan volume 33,53 ribu lot. Angka ini jauh mengecil dibanding lonjakan likuiditas pada 18 November yang menembus Rp13,64 miliar, dengan volume lebih dari 346 ribu lot.
Secara harian, kondisi ini menggambarkan sebuah pola klasik, di mana setelah satu sesi dengan aktivitas besar dan distribusi yang cukup kencang, pasar masuk ke mode “pending order”. Ya, pasar sedang menunggu arah berikutnya dengan langkah yang lebih pelan.
Rentang harga hari ini pun sangat sempit, hanya bergerak di 396–392 dengan rata-rata transaksi di 393. Tidak ada kepanikan, dan juga tidak ada dorongan kuat untuk mengangkat harga kembali mendekati 400.
Jika menengok ke orderbook, gambaran psikologis pelaku pasar tampak lebih gamblang. Di sisi bid, antrean beli di sekitar area 390 terlihat sangat tebal, ada 130 ribu lot yang sedang mengantre. Sementara di area 392 masih ada lebih dari 35 ribu lot.
Di bawahnya, level 388, 386, dan 384 juga diisi dengan puluhan ribu lot. Artinya, ada minat yang cukup serius untuk membentengi zona bawah 388–390 sebagai area pertahanan jangka pendek.
Di Tahan Offer, Butuh Katalis Baru sebagai Gebrakan
Namun, di sisi offer, tekanan jual ikut menumpuk di atas 396 hingga kisaran 398–400. Di 398 misalnya, antrean jual mencapai hampir 58 ribu lot, dan di 400 sekitar 34 ribu lot. Struktur seperti ini biasanya menggambarkan pola konsolidasi dalam kotak sempit.
Artinya, pembeli siap mempertahankan area bawah, tetapi penjual juga disiplin menahan harga di area atas. Untuk menembus 400 dan berlari ke target-target lebih tinggi, SMRA membutuhkan katalis baru dan volume yang menggelembung, bukan sekadar transaksi tipis seperti hari ini.
Broker summary juga memberi petunjuk bahwa pergerakan SMRA saat ini lebih bercorak “ramai tapi tanpa pengendali tunggal”. Sejumlah broker ritel dan institusi domestik seperti BB, BY, XL, YP, dan AK tercatat aktif dengan nilai transaksi ratusan juta hingga miliaran rupiah, di mana mayoritas bermain di kisaran harga 392–396.
Tapi, tidak tampak satupun broker yang mendominasi secara ekstrem, sehingga pergerakan hari ini lebih mirip perdagangan reguler dengan distribusi dan akumulasi ringan, Bukan sebuah akumulasi massif yang biasanya menjadi fondasi tren naik baru.
Jika diperluas ke data historis 10–15 hari terakhir, karakter SMRA makin jelas,saham ini cenderung terjebak dalam rentang 390–398 dengan fluktuasi harian yang kecil. Pada beberapa hari tertentu, likuiditas memang sempat menggelembung, utamanya pada 5 November dan 18 November. Tetapi sering kali dibarengi dengan net sell asing yang cukup besar.
Contohnya, pada 5 November, nilai transaksi mencapai Rp21,86 miliar dengan net foreign sell lebih dari Rp3,6 miliar. Pada 14 November dan 18 November, pola serupa terulang. Nilainya besar, namun asing justru melepas saham.
Ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan jangka pendek kerap dimanfaatkan sebagai ajang distribusi, bukan akumulasi jangka panjang oleh investor besar.
RHB Sekuritas: Buy on Support
Dalam konteks itulah, rekomendasi teknikal SMRA – Buy on Support dari RHB Sekuritas perlu dibaca dengan kepala dingin. RHB memasang strategi beli di area 386 dengan dua target, yaitu 410 dan 426, serta stop loss di bawah 362.
Secara struktur, area 386 memang tidak jauh dari cluster bid kuat di 388–390 yang tampak di orderbook. Level ini bisa dibaca sebagai zona “buffer” di bawah harga wajar konsolidasi saat ini. Jika harga turun menguji area itu dan bid tetap tebal, skenario pantulan teknikal sangat mungkin terjadi.
Namun dari sudut pandang risk-reward, peta risikonya tidak bisa dibilang ringan. Dengan entry di 386, stop loss di 362 berarti risiko sekitar 6,2 persen. Sementara target pertama di 410 menawarkan potensi kenaikan sekitar 6–7 persen, dan target kedua di 426 sekitar 10 persen dari area beli.
Rasio imbal hasil terhadap risiko hanya sedikit di atas 1:1 untuk TP1 dan sekitar 1,5:1 untuk TP2. Rasio ini masih layak untuk swing trader yang disiplin, tetapi bukan setup yang luar biasa menarik di tengah volatilitas pasar saat ini.
Selain itu, target 410 dan 426 mengandaikan bahwa SMRA mampu menembus kembali zona psikologis 400 yang dalam beberapa pekan terakhir justru konsisten menjadi atap. Tanpa dukungan volume besar dan perubahan pola broker summary, skenario ini lebih cocok dibaca sebagai kemungkinan, bukan baseline utama.
Singkatnya, performa harian SMRA hari ini lebih menggambarkan fase istirahat setelah sesi super-aktif kemarin. Orderbook menunjukkan adanya minat beli di bawah yang cukup sehat, tetapi juga tekanan jual berlapis di atas menahan laju harga.
Broker summary dan histori transaksi mengindikasikan bahwa saham ini masih bermain di arena konsolidasi, dengan kecenderungan distribusi di saat-saat volume membesar.
Rekomendasi “buy on support” di 386 bisa menjadi strategi rasional bagi trader jangka pendek yang siap disiplin pada stop loss. Tetapi bagi investor yang mencari sinyal tren naik yang lebih solid, SMRA sejauh ini baru memberi bahan untuk waspada, bukan untuk euforia.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.