KABARBURSA.COM - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, membawa kabar segar usai melakukan pertemuan langsung dengan pimpinan dan para analis Morgan Stanley Capital International (MSCI) di Amerika Serikat. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting terhadap reformasi integritas yang tengah digencarkan otoritas pasar modal tanah air.
Hasan mengungkapkan bahwa pihak MSCI memberikan apresiasi terhadap berbagai progres yang telah dicapai Indonesia. Salah satu yang menjadi sorotan adalah transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen serta penerapan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration yang mulai dipublikasikan sejak April lalu.
"Itu sangat baik, konstruktif, dan positif mereka menyampai atau pengakuan atas berbagai progres dan capaian dari agenda-agenda utama awal reformasi integritas di pasar modal kita. Tentu yang dalam hal ini terkait langsung dengan catatan dan ekspektasi dari Indeks Provider Global, termasuk MSCI," ujar Hasan di Gedung BEI, Jakarta dikutip Rabu, 28 April 2026.
Langkah berani BEI dalam mengumumkan sembilan saham yang masuk dalam daftar konsentrasi tinggi ternyata langsung mendapatkan respons positif. MSCI berencana menggunakan data tersebut untuk menyaring atau tidak memasukkan saham-saham tertentu dalam perhitungan indeks mereka agar lebih mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.
"1-2 saham juga merupakan saham yang masuk dalam kelompok saham dalam Indeks MSCI, itu juga rupanya langsung mereka respon positif dan dinyatakan akan dimanfaatkan informasinya untuk pertimbangan, dan meng-exclude atau tidak memasukkan saham-saham yang masuk dalam High Shareholding Concentration itu," jelas Hasan.
Tak hanya soal transparansi kepemilikan, bursa juga melakukan terobosan dengan memperinci klasifikasi tipe investor dari yang semula 9 kategori menjadi 39 kategori. Hal ini krusial agar penyedia indeks global dapat memilah data free float atau saham yang beredar di publik dengan lebih akurat. Selain itu, ada komitmen besar untuk menaikkan ambang batas minimum saham publik secara bertahap.
"Dari sekarang 7,5 persen, secara bertahap nanti akan kita dorong ke minimum 15 persen. Nah kemudian fase berikutnya apa? Tentu mereka bersama kita akan terus melanjutkan pembahasan-pembahasan berkala yang lebih mengarah kepada pembahasan teknis," tambahnya.
Mengenai kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi perubahan bobot saham Indonesia di indeks global pada Mei 2026 mendatang, Hasan menilai pasar justru sudah melakukan antisipasi lebih awal. Ia melihat transparansi ini sebagai peringatan dini yang baik bagi investor untuk mengatur ulang strategi investasi mereka sesuai profil risiko masing-masing.
Selain itu, perihal kemampuan emiten untuk memenuhi aturan free float 15 persen dalam jangka waktu tiga tahun ke depan, Hasan memastikan OJK tidak akan gegabah. Otoritas akan terus melakukan evaluasi tahunan bersama asosiasi emiten dan pelaku pasar untuk melihat daya serap pasar agar tidak menimbulkan guncangan.(*)