Logo
>

SSIA Cetak 235 Juta Saham Baru, Porsi Investor Menyusut

SSIA membuka jalan penerbitan 235 juta saham baru lewat program MESOP. Di balik insentif untuk manajemen, pasar mulai menghitung efek dilusi dan tekanan ke EPS.

Ditulis oleh Yunila Wati
SSIA Cetak 235 Juta Saham Baru, Porsi Investor Menyusut
Program MESOP SSIA bertujuan untuk menambah loyalitas karyawan terhadap perusahaan. (Foto: dok Surya Semesta Internusa)

KABARBURSA.COM – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 235,26 juta saham baru. Saham tersebut diterbitkan melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) dalam rangka program Management and Employee Stock Option Plan atau MESOP. 

Sebanyak 235,26 juta saham baru tersebut setara dengan sekitar 5 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perusahaan.

Di atas kertas, program ini terdengar sederhana. Manajemen dan karyawan tertentu akan diberikan hak membeli saham perusahaan dengan harga khusus. Namun di balik itu, ada potensi dilusi yang harus ditanggung investor lama.

Jika seluruh saham baru nantinya diterbitkan dan diserap peserta MESOP, maka porsi kepemilikan pemegang saham eksisting otomatis akan menyusut. Simulasi proforma SSIA menunjukkan bahwa kepemilikan publik dapat turun dari 53,79 persen menjadi 51,23 persen.

Nama-nama pemegang saham publik seperti Honky Harjo dan Ferry Sudjono akan ikut terdampak dalam simulasi tersebut. Kepemilikan sejumlah institusi juga ikut tergerus, mulai dari PT Henan Putihrai Asset Management, PT Dwimuria Investama Andalan, TPIA, hingga PT Gema Adhinusa Persada.

Saham Diskon 10 Persen

Bukan cuma soal dilusi, pasar juga mulai memperhatikan potensi harga pelaksanaan saham MESOP yang bisa berada di bawah harga pasar. SSIA menyebut, harga pelaksanaan nantinya ditetapkan paling sedikit 90 persen dari rata-rata harga penutupan selama 25 hari bursa sebelum pencatatan saham dilakukan.

Artinya, saham MESOP berpotensi ditebus dengan diskon hingga 10 persen dari harga rata-rata pasar acuan. Dalam praktiknya, skema seperti ini lazim digunakan emiten untuk menjaga loyalitas manajemen dan mempertahankan eksekutif kunci ketika perusahaan masuk fase ekspansi besar.

SSIA sendiri menyebut program tersebut ditujukan bagi manajemen dan karyawan strategis, termasuk di lingkungan grup usaha. Penentuan peserta nantinya akan dilakukan melalui Komite Program MESOP berdasarkan sejumlah kriteria tertentu.

Manajemen menyampaika,n program ini dirancang untuk meningkatkan loyalitas, mempertahankan sumber daya manusia berprestasi, sekaligus menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang. 

Dengan kata lain, perusahaan ingin para pengelola bisnis ikut “punya kepentingan” terhadap kenaikan nilai saham SSIA ke depan.

Potensi Tambahan Beban Karyawan

Meski begitu, efek program ini tidak berhenti di struktur kepemilikan saham. SSIA juga mengakui pelaksanaan MESOP akan memunculkan tambahan beban karyawan dalam laporan keuangan sesuai ketentuan PSAK yang berlaku.

Artinya, pemberian opsi saham kepada manajemen dan karyawan nantinya akan dicatat sebagai beban kompensasi secara bertahap di laporan laba rugi. Semakin besar realisasi program MESOP, semakin besar pula potensi tambahan beban yang muncul dalam laporan keuangan perusahaan.

Di sisi lain, dana hasil pelaksanaan program ini akan digunakan untuk memperkuat modal dan mendukung ekspansi usaha SSIA maupun entitas anak. 

Pasar kini mulai melihat apakah langkah ini menjadi sinyal perusahaan sedang bersiap masuk fase pertumbuhan yang lebih agresif di kawasan Subang Smartpolitan?

Rencana PMTHMETD dalam rangka MESOP tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham independen melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 19 Juni 2026.

Asing Jual Rp5 Miliar

Sementara itu, dalam tiga hari perdagangan terakhir, saham SSIA bergerak cukup fluktuatif di tengah perubahan arah arus dana asing. Pada 11 Mei 2026, SSIA ditutup turun 2,58 persen ke level 1.700 meski investor asing masih membukukan net foreign buy Rp4,11 miliar. Saham bahkan sempat menyentuh level 1.800 sebelum tekanan jual muncul menjelang penutupan pasar.

Pergerakan SSIA sempat berbalik pada 12 Mei 2026, setelah saham naik 3,53 persen ke level 1.760. Nilai transaksi melonjak menjadi Rp35,60 miliar dan investor asing kembali mencatat net foreign buy Rp5,18 miliar, dengan total pembelian mencapai Rp11,85 miliar sepanjang perdagangan. 

Momentum itu membuat SSIA kembali masuk radar pelaku pasar setelah beberapa waktu bergerak relatif terbatas.

Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama. Pada perdagangan 13 Mei 2026, SSIA kembali turun 2,84 persen ke level 1.710 di tengah perubahan arah transaksi asing menjadi net foreign sell Rp5,15 miliar. 

Tekanan distribusi terlihat setelah nilai penjualan asing mencapai Rp8,30 miliar, lebih besar dibanding pembelian yang berada di kisaran Rp3,15 miliar.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79