KABARBURSA.COM – PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan penurunan pendapatan yang menyebabkan laba bersih anjlok sepanjang tahun 2025 akibat tekanan segmen tambang dan kenaikan beban operasional.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan konsolidasian, United Tractors membukukan pendapatan bersih Rp131,3 triliun, menurun 2 persen daripada tahun 2024 sebesar Rp134,4 triliun.
Dalam dokumen disebutkan, penurunan pendapatan terutama disebabkan pelemahan lini bisnis utama. Penekan pertama dari segmen kontraktor penambangan yang mencatat pendapatan turun 7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp54,1 triliun.
Selanjutnya segmen mesin konstruksi juga mengalami pelemahan 2 persen menjadi Rp36,6 triliun. Selain itu, segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi merosot 7 persen jadi Rp24,2 triliun.
Di tengah pelemahan tersebut, segmen pertambangan emas dan mineral lainnya justru tumbuh signifikan sebesar 41 persen menjadi Rp14 triliun.
Dari sisi profitabilitas, laba bruto UNTR tercatat Rp29,7 triliun, melorot 12 persen dari Rp33,8 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan tekanan biaya yang meningkat dalam kegiatan operasional.
Beban penjualan tercatat melambung hingga 51 persen, sementara beban umum dan administrasi naik 8 persen dari Rp5,59 triliun menjadi Rp6,04 triliun. Kenaikan beban semakin mempersempit margin keuntungan anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) tersebut.
Dampaknya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun tajam 24 persen menjadi Rp14,8 triliun dari Rp19,5 triliun pada 2024.
Penurunan laba bersih turut dipengaruhi merosotnya kontribusi entitas asosiasi, yang sebelumnya mencatat laba Rp637 miliar, namun pada 2025 berbalik menjadi rugi Rp245 miliar. Selain itu, tekanan harga komoditas juga membebani kinerja segmen pertambangan.
Sejalan dengan itu, laba bersih per saham (EPS) juga menyusut 24 persen dari 5.378 menjadi 4.082 per lembar saham.
Meski demikian, kondisi keuangan UNTR masih tergolong solid. Total aset perusahaan meningkat 5 persen menjadi Rp177,6 triliun dari Rp169,5 triliun pada akhir 2024. Kenaikan ini didorong pertumbuhan aset tetap, investasi jangka panjang, serta aset pajak tangguhan.
Di sisi lain, total liabilitas naik 4 persen menjadi Rp74,5 triliun, terutama akibat lonjakan pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun dari Rp2,29 triliun menjadi Rp9,68 triliun.
Sementara itu, ekuitas perseroan tetap tumbuh 5 persen menjadi Rp103,1 triliun dari Rp98 triliun, ditopang akumulasi laba ditahan yang masih positif di tengah pembagian dividen dan aksi pembelian saham treasuri.
Dari sisi likuiditas, arus kas dari aktivitas operasi pada 2025 tercatat Rp27,1 triliun, turun 10 persen dari Rp30 triliun pada tahun sebelumnya. Posisi kas dan setara kas meningkat menjadi Rp26,6 triliun dari Rp25,1 triliun, mencerminkan pengelolaan kas yang tetap efektif.
Sepanjang 2025, perseroan juga menyalurkan dividen lebih dari Rp9,5 triliun kepada pemegang saham.
Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi United Tractors. Meski menghadapi tekanan pada margin dan penurunan laba bersih, perusahaan masih mampu menjaga fundamental keuangan yang kuat, tercermin dari pertumbuhan aset, ekuitas yang solid, serta arus kas operasional yang tetap terjaga. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.