KABARBURSA.COM — Wall Street akhirnya bernapas lega setelah beberapa hari dihantam kekhawatiran perang Iran dan lonjakan imbal hasil obligasi. Bursa Amerika Serikat ini ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026 karena ditopang turunnya harga minyak serta meredanya tekanan di pasar surat utang pemerintah AS.
Dilansir dari AP, Kamis, 21 Mei 2026, Indeks S&P 500 naik 1,1 persen dan kembali mendekati rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pekan lalu. Dow Jones Industrial Average melonjak 645 poin atau 1,3 persen menjadi 50.009,35. Sementara Nasdaq Composite, yang sarat saham teknologi, melesat 1,5 persen ke level 26.270,36.
Kenaikan ini menjadi reli pertama setelah tiga hari berturut-turut pasar saham AS tertekan. Pelaku pasar mulai kembali masuk ke aset berisiko setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,57 persen dari sebelumnya 4,67 persen. Dalam pasar obligasi, pergerakan 0,1 poin persentase tergolong besar dan cukup mengubah sentimen investor global.
Lonjakan yield sebelumnya dipicu kekhawatiran perang Iran akan mempertahankan harga minyak di level tinggi lebih lama. Jika energi mahal bertahan, inflasi global dikhawatirkan kembali mengeras dan membuat bank sentral menunda pemangkasan suku bungaa.
Artinya, harapan pasar terhadap penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) tahun ini perlahan memudar. Bahkan muncul risiko bank sentral dunia justru kembali menaikkan bunga pada 2026. Yield tinggi biasanya menjadi musuh berbagai instrumen investasi.
Selain membuat bunga kredit rumah dan pinjaman korporasi lebih mahal, kondisi ini dapat menghambat investasi jumbo sektor teknologi, termasuk pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi AS.
Salah satu penyebab utama meredanya tekanan pasar adalah koreksi harga minyak. Harga minyak Brent turun 5,6 persen menjadi USD105,02 per barel (sekitar Rp1,86 juta). Kendati turun, level tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum perang Iran pecah yang berada di sekitar USD70 per barel (sekitar Rp1,24 juta).
Pasar minyak masih bergerak liar akibat spekulasi apakah AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan yang memungkinkan jalur pengiriman minyak dari Teluk Persia kembali normal. Perang Iran sebelumnya mendorong investor khawatir pasokan energi global terganggu dan memicu inflasi baru.
Tekanan terhadap pasar obligasi juga sedikit reda setelah data inflasi Inggris keluar lebih rendah dari perkiraan ekonom.
Saham Teknologi Kembali Jadi Mesin Penggerak
Meredanya yield obligasi langsung menghidupkan kembali saham teknologi, sektor yang sangat sensitif terhadap suku bunga. Produsen chip AI Nvidia naik 1,3 persen sebelum merilis laporan kinerja terbarunya. Setelah pasar tutup, perusahaan melaporkan laba dan pendapatan yang kembali melampaui ekspektasi analis serta memberikan proyeksi pendapatan kuartal berjalan yang lebih optimistis dari perkiraan.
Tak hanya Nvidia. Advanced Micro Devices (AMD) melonjak 8,1 persen, sedangkan Intel menguat 7,4 persen.
Reli saham teknologi ini memperlihatkan investor kembali bertaruh bahwa ledakan industri AI masih berpotensi menopang ekonomi AS meski tekanan geopolitik meningkat.
Menariknya, saham perusahaan kecil mencatat kenaikan lebih besar dibanding raksasa teknologi. Indeks Russell 2000, yang merepresentasikan perusahaan kecil AS, naik 2,6 persen—lebih dari dua kali lipat penguatan S&P 500.
Fenomena ini terjadi karena perusahaan kecil cenderung lebih bergantung pada pembiayaan utang untuk tumbuh. Saat yield obligasi turun, tekanan biaya pinjaman ikut berkurang
Pasar juga mendapat sentimen positif dari laporan keuangan sejumlah emiten ritel. Pemilik jaringan TJ Maxx dan Marshalls, yakni TJX Companies, melonjak 5,7 persen setelah mencetak laba dan pendapatan di atas ekspektasi.
CEO TJX, Ernie Herrman, menyebut kuartal berjalan dimulai dengan baik sehingga perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan dan laba tahun ini. Sementara saham Red Robin Gourmet Burgers melesat 18,2 persen dan Cava Group naik 3,1 persen setelah membukukan laba lebih tinggi dari prediksi pasar.
Kinerja itu memberi sinyal penting bahwa rumah tangga AS masih sanggup belanja meski harga bensin naik dan sentimen ekonomi memburuk.
Di tengah reli pasar, tidak semua emiten menikmati euforia. Saham Target turun 3,9 persen meski perusahaan melaporkan laba dan pendapatan yang lebih baik dari estimasi analis.
Investor tampaknya menilai ekspektasi terhadap pemulihan perusahaan terlalu tinggi. Saham Target sebelumnya sudah melonjak lebih dari 30 persen sejak awal tahun—empat kali lipat kenaikan S&P 500. CEO baru Target, Michael Fiddelke, kini menghadapi tekanan untuk membuktikan strategi pemulihan bisnis dapat berjalan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.