KABARBURSA.COM — Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, setelah pasar mulai melihat peluang meredanya konflik Iran. Harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai membuat tekanan di pasar minyak sedikit berkurang, sekaligus meredakan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya mendorong lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Dilansir dari Reuters, harga emas spot tercatat naik 1,1 persen menjadi USD4.531,99 per ons (sekitar Rp80,06 juta) pada pukul 18.10 GMT. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan.
Sementara kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Juni ditutup naik tipis 0,1 persen ke USD4.535,30 per ons (sekitar Rp80,12 juta).
Kenaikan harga emas kali ini bukan semata dipicu permintaan aset aman (safe haven), melainkan perubahan ekspektasi pasar terhadap suku bunga dan inflasi.
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan kenaikan emas terjadi setelah pasar melihat tekanan pada imbal hasil obligasi mulai mereda.
“Kami melihat jeda dari kenaikan imbal hasil yang terus berlanjut. Karena itu, harga emas terlihat memantul dari posisi terendah baru-baru ini,” kata Meger.
Emas dan Obligasi Bergerak Berlawanan
Pasar emas beberapa pekan terakhir berada dalam tekanan karena imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) terus naik.
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun AS bahkan sempat menyentuh posisi tertinggi sejak Januari 2025 sebelum akhirnya turun tipis pada perdagangan terbaru.
Hubungan keduanya cukup sederhana. Ketika imbal hasil obligasi naik, investor cenderung memilih instrumen yang memberikan bunga tetap dibanding emas yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding asset). Akibatnya, emas biasanya kehilangan daya tarik.
Sebaliknya, saat ekspektasi suku bunga mulai turun, emas kembali diburu.
Meger menilai setiap sinyal perdamaian di Timur Tengah dapat menjadi faktor positif bagi logam mulia.
“Segala bentuk penyelesaian perang atau pembukaan kembali Selat Hormuz akan menjadi sentimen positif bagi pasar emas karena ekspektasinya suku bunga akan turun, dan kondisi itu akan membantu pasar emas,” ujarnya.
Trump Optimistis soal Iran, Tapi Pasar Belum Sepenuhnya Tenang
Pasar energi ikut memberi pengaruh terhadap emas. Harga minyak Brent melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengatakan perang dengan Iran akan berakhir “sangat cepat”.
Namun investor tetap berhati-hati karena pasokan minyak dari Timur Tengah masih terganggu dan hasil negosiasi damai belum jelas.
Situasi ini penting bagi pasar emas karena perang Iran berpotensi memicu inflasi baru melalui lonjakan harga energi.
Risalah rapat Federal Reserve bulan April menunjukkan pejabat bank sentral Amerika mulai memperingatkan konflik Iran dapat memperparah inflasi.
Kondisi tersebut membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika inflasi tetap bertahan di atas target 2 persen.
Mayoritas pembuat kebijakan The Fed menilai pengetatan moneter masih mungkin dilakukan bila tekanan harga belum reda.
Artinya, pasar sedang menghadapi dua kekuatan yang saling bertabrakan:
- Perang Iran → dorong inflasi → potensi suku bunga naik → negatif untuk emas
- Harapan damai → inflasi mereda → peluang suku bunga turun → positif untuk emas
Tarik-menarik ekspektasi ini membuat pergerakan emas sangat sensitif terhadap berita geopolitik.
Data CME FedWatch menunjukkan investor kini memperkirakan peluang sekitar 89,6 persen bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya di Juni.
Sementara peluang kenaikan suku bunga pada Desember berada di kisaran 48,6 persen.
Ekspektasi bahwa bank sentral AS tidak terburu-buru menaikkan bunga menjadi salah satu alasan emas kembali memperoleh dukungan.
Meski demikian, bank investasi Citi tetap berhati-hati. Dalam proyeksi jangka pendek nol hingga tiga bulan, Citi memperkirakan harga emas berada di kisaran USD4.300 per ons (sekitar Rp75,98 juta).
Prediksi tersebut mengindikasikan ruang koreksi masih terbuka apabila tekanan geopolitik berkurang dan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot melonjak 3,1 persen menjadi USD76,06 per ons (sekitar Rp1,34 juta).
Platinum naik sekitar 1,6 persen ke USD1.952,30 per ons (sekitar Rp34,49 juta), sementara palladium bertambah 1,5 persen menjadi USD1.373,62 per ons (sekitar Rp24,27 juta).
Kenaikan logam mulia secara bersamaan menunjukkan pasar masih mencari perlindungan di tengah ketidakpastian arah perang, inflasi, dan kebijakan suku bunga global.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.