Logo
>

Wall Street Kehilangan Tenaga, Sektor Chip Jadi Biang Tekanan Pasar

Di saat bersamaan, ketidakjelasan arah perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran memantik kegelisahan baru

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Wall Street Kehilangan Tenaga, Sektor Chip Jadi Biang Tekanan Pasar
Ilustrasi wall street. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Perdagangan saham di Wall Street berakhir lesu pada Kamis waktu setempat. Koreksi tajam di sektor semikonduktor—dipimpin Intel—menghentikan laju reli yang sempat menggelegak beberapa sesi sebelumnya. Di saat bersamaan, ketidakjelasan arah perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran memantik kegelisahan baru di kalangan pelaku pasar, menciptakan atmosfer perdagangan yang sarat kehati-hatian.

Indeks acuan S&P 500 ditutup melemah 0,38 persen atau terkikis 28,01 poin ke level 7.337,11. Nasdaq Composite ikut terseret turun 0,13 persen atau 32,74 poin menjadi 25.806,20. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average merosot lebih dalam, kehilangan 313,62 poin atau 0,63 persen dan parkir di posisi 49.596,97. Data tersebut merujuk laporan Reuters dari New York, yang di Indonesia tercatat pada Jumat 8 Mei 2026 pagi WIB.

Arah pelemahan terutama dipicu aksi ambil untung di saham-saham chip. Setelah melesat dalam beberapa hari terakhir, euforia di sektor ini mulai meredup. Intel dan Advanced Micro Devices sama-sama tergelincir sekitar 3 persen, memangkas sebagian penguatan impresif yang sebelumnya tercipta di awal pekan.

Indeks Philadelphia Semi konduktor—barometer penting industri cip global—ikut terjerembap 2,7 persen. Kendati demikian, secara kuartalan indeks tersebut masih membukukan lonjakan signifikan hingga 47 persen, mencerminkan bahwa antusiasme terhadap industri kecerdasan buatan belum benar-benar padam.

Tekanan juga menghantam Arm Holdings yang tercatat di bursa Wall Street. Saham perusahaan itu ambles setelah pasar mempertanyakan kemampuan Arm dalam mengamankan rantai pasokan bagi chip AI generasi terbaru. Situasi tersebut muncul meskipun perusahaan sempat melontarkan proyeksi pendapatan yang terdengar optimistis dan ambisius.

Berbanding terbalik dengan tekanan di sektor cip, Nvidia dan Microsoft justru melanjutkan penguatan dengan kenaikan hampir 2 persen. Pergerakan ini kembali menegaskan superioritas raksasa teknologi yang selama setahun terakhir menjadi lokomotif utama reli pasar berbasis kecerdasan buatan.

Dinamika geopolitik turut menyelimuti sentimen investor. Washington dan Teheran dilaporkan semakin mendekati sebuah kesepahaman sementara guna meredam konflik berkepanjangan. Namun, rancangan kesepakatan tersebut masih dipenuhi persoalan sensitif yang belum menemukan titik temu, sehingga pasar memandang proses negosiasi itu dengan penuh kewaspadaan.

Di sektor energi, harga minyak yang bertahan di kisaran USD100 per barel memperberat tekanan pasar. Indeks sektor energi menyusut 1,78 persen, sedangkan sektor material terkoreksi 1,83 persen. Secara agregat, sembilan dari sebelas sektor utama dalam S&P 500 ditutup di wilayah negatif. Meski demikian, sepanjang 2026 indeks S&P 500 masih membukukan penguatan sekitar 7 persen—sebuah capaian yang menunjukkan fondasi reli belum sepenuhnya runtuh.

Sejumlah analis menilai koreksi kali ini masih tergolong wajar dan belum mengubah lanskap besar pasar. Kepala Manajemen Portofolio Horizon Investments, Mike Dickson, menegaskan bahwa volatilitas jangka pendek merupakan bagian inheren dari siklus pasar yang tengah bergerak dalam fase pemulihan kuat.

“Pasar sesekali memang mengalami sesi seperti ini. Namun hal tersebut tidak menghapus kenyataan bahwa kuartal berjalan sangat solid dan tetap ditopang fundamental yang kokoh,” ujarnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.