KABARBURSA.COM — Harapan meredanya perang Iran mulai memberi napas bagi Wall Street. Penguatan terjadi hampir serempak. Dilansir dari AP, Kamis, 2 April 2026. indeks S&P 500 naik 0,7 persen, melanjutkan lonjakan sehari sebelumnya yang menjadi kenaikan terbaik sejak musim semi tahun lalu. Indeks Dow Jones pun ikut naik sekitar 232 poin atau 0,5 persen, sedangkan Nasdaq menguat 1 persen.
Di Asia dan Eropa, penguatan bahkan lebih terasa. Bursa Korea Selatan melonjak hingga 8,4 persen, mengikuti reli yang lebih dulu terjadi di Wall Street.
Kenaikan ini dipicu ekspektasi bahwa konflik bisa segera mereda. Harga minyak pun mulai turun, mendekati level USD100 per barel (Rp1,69 juta), setelah sebelumnya melonjak tajam sejak perang pecah.
Optimisme pasar muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut operasi militer berpotensi dihentikan dalam waktu dua hingga tiga minggu.
Sentimen positif juga datang dari pernyataan Presiden Iran yang disebut memiliki “kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri perang”, dengan syarat tertentu terpenuhi.
Namun, harapan tersebut belum sepenuhnya solid. Sejumlah pernyataan saling bertentangan, membuat pasar bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.
Kekhawatiran utama investor sebenarnya belum berubah. Pasar masih mencermati risiko perang berkepanjangan yang bisa mengganggu pasokan energi global, terutama dari kawasan Teluk Persia.
Ketegangan ini berpotensi mendorong lonjakan inflasi secara global, mengingat jalur distribusi energi menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap konflik geopolitik.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar bahkan bergerak ekstrem. Setiap sinyal damai langsung direspons positif, namun cepat berbalik arah ketika eskalasi kembali terjadi.
Trump sendiri sempat mengklaim Iran meminta gencatan senjata. Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran.
Harga minyak memang turun dari puncaknya, tetapi masih berada di level tinggi. Minyak Brent kini bertahan di atas USD101 per barel (Rp1,70 juta), jauh di atas kisaran USD70 sebelum perang dimulai.
Di sisi lain, harga bensin di Amerika Serikat juga terus naik, mencapai rata-rata USD4,06 per galon (Rp68.614), mencerminkan tekanan biaya energi yang masih berlangsung.
Di tengah dinamika tersebut, konflik belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar mereda. Iran dilaporkan masih menyerang target energi di kawasan Teluk, sementara kontrol atas Selat Hormuz—jalur penting yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—tetap dipertahankan.
Kondisi ini membuat pasar berada dalam posisi serba waspada. Harapan akan de-eskalasi memang mengangkat sentimen, tetapi risiko jangka menengah masih sulit diabaikan.
“Harapan de-eskalasi telah mengangkat pasar, tetapi dampak perang kemungkinan tetap terasa meski konflik segera berakhir,” kata Thomas Mathews, Kepala Pasar Asia Pasifik di Capital Economics.
Ia menilai potensi pemulihan pasar masih terbuka, meski sangat bergantung pada perkembangan situasi ke depan. “Perlu dipikirkan bagaimana pasar akan bereaksi jika perang benar-benar segera berakhir. Kemungkinan besar masih ada ruang pemulihan,” ujarnya.
Dengan situasi yang masih berubah cepat, pasar global kini bergerak di antara dua kutub. Harapan damai di satu sisi, dan bayang-bayang krisis energi serta inflasi di sisi lain.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.