KABARBURSA.COM — Pasar global langsung bereaksi cepat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menarik ancaman eskalasi perang dengan Iran. Harga minyak jatuh tajam, sementara bursa saham di berbagai kawasan melonjak dalam waktu bersamaan.
Harga minyak dunia sempat anjlok mendekati USD95 per barel (Rp1,60 juta), setelah sebelumnya sempat melonjak tinggi akibat ketegangan geopolitik. Di saat yang sama, indeks saham utama dunia mencatat penguatan signifikan.
Di Wall Street, indeks S&P 500 melesat 2,5 persen. Dow Jones melonjak 1.257 poin atau 2,7 persen, sementara Nasdaq menguat 2,9 persen. Penguatan juga terjadi di Asia dan Eropa, bahkan dengan lonjakan yang lebih agresif di beberapa negara.
Lonjakan ini dipicu pengumuman gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, yang disampaikan menjelang tenggat pembukaan Selat Hormuz.
Meski demikian, euforia pasar tidak berlangsung sepenuhnya stabil. Seiring berjalannya waktu, sebagian penguatan mulai terkoreksi, mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi.
“Ada alasan untuk optimistis, tetapi masih terlalu dini untuk memastikan, karena, seperti yang Anda tahu, ini Trump,” ujar Kepala Strategi MONEX, Takashi Hiroki, dikutip dari AP, Kamis, 9 April 2026.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap pasar yang masih berhati-hati. Meski ada sinyal damai, risiko konflik belum sepenuhnya hilang.
Analis bahkan menilai langkah Trump kerap berubah-ubah, memicu keraguan di kalangan investor. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, ancaman kebijakan keras kerap diikuti dengan penundaan atau pelonggaran.
“Apakah ini hanya menunda masalah, menggeser target, atau sekadar taktik sementara sebelum konflik kembali memanas? Siapa yang tahu? Tapi untuk saat ini, cukup untuk memicu respons positif dari pasar,” kata Chief Economic Strategist Annex Wealth Management, Brian Jacobsen.
Dari sisi energi, harga minyak mencatat penurunan tajam. Minyak mentah AS turun 15,9 persen ke USD95,01 per barel (Rp1,61 juta), setelah sempat menyentuh sekitar USD91 (Rp1,54 juta). Sementara minyak Brent turun 13,2 persen ke USD94,92 per barel (Rp1,60 juta).
Meski turun, harga minyak masih berada di atas level sebelum perang yang berada di kisaran USD70 (Rp1,18 juta). Artinya, tekanan energi global belum sepenuhnya mereda.
Di sisi lain, harga bensin di Amerika Serikat tetap tinggi. Rata-rata harga sudah menembus USD4,16 per galon (Rp70.304), naik dari sebelumnya di bawah USD3 sebelum konflik pecah.
Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada kondisi di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi kunci distribusi energi global, dan setiap gangguan akan langsung berdampak ke harga.
Pasar Asia menunjukkan respons paling agresif. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 6,9 persen, Nikkei Jepang naik 5,4 persen, dan Hang Seng Hong Kong menguat 3,1 persen. Di Eropa, indeks DAX Jerman naik 5,1 persen, sementara CAC 40 Prancis menguat 4,5 persen.
Sektor yang sebelumnya tertekan akibat lonjakan harga energi mulai bangkit. Maskapai penerbangan menjadi salah satu yang diuntungkan, seiring potensi penurunan biaya bahan bakar.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS turun ke 4,28 persen dari sebelumnya 4,33 persen. Penurunan ini mencerminkan harapan bahwa tekanan inflasi bisa mereda jika harga energi stabil.
Dengan kondisi ini, pasar berada dalam fase yang rapuh. Harapan damai memang memicu reli, tetapi arah selanjutnya masih sangat ditentukan oleh perkembangan konflik.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.