KABARBURSA.COM – Pergerakan bursa Asia hari ini ditentukan oleh faktor mata uang dan kebijakan moneter. Pada perdagangan pagi ini, Senin, 29 Desember 2025, penguatan yen menekan Nikkei 225. Sementara arus beli yang selektif menopang Kospi serta SSE Composite.
Di Tokyo, Nikkei 225 berada di level 50.572,49 atau turun 177,90 poin atau 0,35 persen dari sesi sebelumnya. Pergerakan ini berlangsung saat pasar regional merespons rally logam mulia yang sangat kuat dan likuiditas tipis menjelang akhir 2025.
“Bank-bank besar memperkirakan kenaikan lanjutan hingga 2026, kuatnya permintaan fisik serta ketidakpastian geopolitik dan moneter yang masih berlanjut menunjukkan bahwa reli logam mulia berpotensi berlanjut,” kata analis MUFG, Soojin Kim, dikutip dari Investing, pada Jumat, Desember 2025.
Kospi dan SSE Composite Menguat
Berbeda dengan penurunan di Jepang, Kospi Korea Selatan menguat +51,65 poin atau naik 1,25 persen menjadi 4.181,33.
Penguatan ini mencerminkan arah pasar yang tetap mempertimbangkan ekspektasi risiko secara selektif menjelang penutupan tahun buku, di mana beberapa investor masih menaruh minat pada aset berisiko moderat di tengah narasi risk-on tertentu di kawasan.
Sementara itu di Shanghai, SSE Composite ditutup pada harga 3.963,68, naik tipis +0,10 persen atau 4,06 poin. Pergerakan moderat ini terjadi di bawah bayang-bayang rally logam mulia yang menguat tajam, serta aktivitas pasar yang relatif tenang karena banyaknya bursa yang beroperasi dalam sesi pendek akibat libur akhir tahun.
Sentimen global yang mendasari pergerakan ini adalah rally logam mulia yang masih berlanjut, yang sering berkonotasi dengan preferensi investor terhadap aset “safe haven” saat pasar saham menghadapi ketidakpastian.
Dalam laporan Reuters, reli ini didukung oleh permintaan kuat dari bank sentral dan aliran masuk yang besar ke ETF berbasis emas, serta kekhawatiran atas depresiasi mata uang dan peningkatan utang global, yang juga turut mendorong reli harga logam mulia tahun ini. (*)