Logo
>

YUPI Belum Eksekusi Dana Hasil IPO: Begini Strateginya

Dana IPO YUPI masih mengendap di bank hingga akhir 2025. Strategi konservatif ini memberi ruang persiapan, tetapi juga menunda pembuktian ekspansi yang dijanjikan kepada pasar.

Ditulis oleh Yunila Wati
YUPI Belum Eksekusi Dana Hasil IPO: Begini Strateginya
Laman website Yupi (Foto: Tangkapan Layar)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Penempatan dana hasil IPO PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) hingga akhir 2025 memberi gambaran yang cukup jelas tentang fase awal kehidupan emiten ini sebagai perusahaan terbuka. 

    YUPI berhasil mengumpulkan dana bruto sebesar Rp612,639 miliar dan hasil bersih setelah biaya emisi Rp596,674 miliar. Namun, dana tersebut belum direalisasikan satu pun sampai 31 Desember 2025. Seluruh dana masih disimpan di perbankan, tepatnya di Bank CIMB Niaga, dengan skema deposito jangka pendek satu bulan.

    Keputusan ini bukan tanpa makna. Dalam konteks pasar modal, fase pasca-IPO sering kali menjadi periode penyesuaian internal, terutama bagi emiten yang baru pertama kali berhadapan dengan tata kelola publik, kewajiban pelaporan, serta ekspektasi investor. 

    YUPI tampaknya memilih pendekatan konservatif, yakni menahan dana sambil memastikan kesiapan eksekusi proyek belanja modal dan kebutuhan modal kerja sesuai dengan prospektus.

    Struktur penggunaan dana yang telah direncanakan juga menunjukkan orientasi jangka menengah hingga panjang. Sebanyak Rp429,605 miliar atau sekitar 72 persen dialokasikan untuk belanja modal. 

    Ini mengindikasikan bahwa dana IPO bukan sekadar untuk memperkuat neraca, melainkan untuk ekspansi kapasitas, pengembangan fasilitas, atau peningkatan kapabilitas produksi. Sementara itu, Rp167,068 miliar atau 28 persen dialokasikan sebagai modal kerja, yang berfungsi sebagai pelumas operasional, bukan mesin pertumbuhan utama.

    Fakta bahwa hingga akhir 2025 realisasi penggunaan dana masih nol berarti YUPI belum memasuki fase eksekusi. Ini bisa dibaca dalam dua cara. Dari sisi konservatif, ini mencerminkan kehati-hatian manajemen agar dana tidak dipakai sebelum proyek siap secara operasional dan administratif. 

    Namun dari sisi pasar, ini juga berarti investor belum melihat wujud nyata dari janji pertumbuhan yang dijual saat IPO.

    Penempatan dana di deposito dengan bunga 5 persen memang menghasilkan pendapatan bunga, tetapi dalam skala Rp596,674 miliar, return tersebut bersifat protektif, bukan akseleratif. 

    Bunga deposito tidak akan mengubah profil pertumbuhan perusahaan, melainkan sekadar menjaga nilai uang agar tidak tergerus inflasi. Ini mempertegas bahwa YUPI saat ini masih berada dalam fase “menyimpan tenaga”, bukan “berlari”.

    Menariknya, transparansi dalam rincian biaya emisi menunjukkan bahwa YUPI cukup disiplin dalam pelaporan. Total biaya emisi sebesar Rp15,965 miliar, atau sekitar 2,6 persen dari dana bruto, masih berada dalam kisaran yang wajar untuk IPO. 

    Biaya terbesar berasal dari jasa profesi penunjang pasar modal sebesar Rp8,480 miliar, yang biasanya mencakup auditor, konsultan hukum, penilai, dan pihak-pihak yang memastikan kepatuhan regulasi. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar biaya bukan untuk promosi atau distribusi semata, melainkan untuk memastikan struktur perusahaan siap menjadi emiten publik.

    Dari perspektif tata kelola, laporan penggunaan dana yang ditandatangani langsung oleh Direktur Keuangan dan Presiden Direktur menunjukkan bahwa manajemen mengambil tanggung jawab penuh atas transparansi ini. Ini penting, karena fase awal sebagai emiten publik sering kali menjadi ujian kredibilitas.

    Namun, bagi investor, pertanyaan kuncinya bukan pada di mana dana disimpan, melainkan kapan dana tersebut mulai bekerja. Dana IPO yang mengendap terlalu lama akan memunculkan keraguan: apakah proyek ekspansi belum siap, atau justru ada penyesuaian strategi pasca-IPO?

    Jika dana belanja modal sebesar 72 persen benar-benar direalisasikan sesuai rencana, maka fase 2026 akan menjadi titik krusial bagi YUPI. Di sanalah pasar akan mulai menilai apakah IPO ini hanya mempercantik neraca, atau benar-benar mengubah skala bisnis.

    Untuk saat ini, YUPI berada dalam posisi sangat likuid, tanpa tekanan penggunaan dana, dengan bantalan kas besar, dan risiko eksekusi yang masih berada di depan. Ini memberi fleksibilitas, tetapi juga menunda pembuktian.

    Bagi pasar, ini bukan berita buruk, tetapi belum juga menjadi katalis. YUPI masih berada di fase janji, bukan hasil.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79