Logo
>

Analis: Konflik AS–Israel vs Iran Dorong Momentum Kendaraan Listrik

Lonjakan harga minyak akibat konflik AS–Israel vs Iran dinilai memperkuat dorongan transisi energi dan meningkatkan daya tarik kendaraan listrik.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Analis: Konflik AS–Israel vs Iran Dorong Momentum Kendaraan Listrik
Ilustrasi penjualan mobil listrik di Indonesia. Foto: dok KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Selain membuat harga minyak naik, dampak perang Amerika Serikat (AS)-Israel Vs Iran berdampak terhadap sektor otomotif. Kenaikan harga minyak yang masif bakal menciptakan ruang kebutuhan akan kendaraan listrik atau electric vehicle meningkat.

Data pasar menunjukkan harga minyak Brent saat ini berada di kisaran USD 81,40 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) sekitar USD 74,56 per barel.

Dalam sepekan terakhir, harga minyak melonjak sekitar 8–10 persen setelah eskalasi konflik di Timur Tengah. Brent bahkan sempat naik lebih dari USD 3,6 per barel dalam satu hari, mencerminkan meningkatnya premi risiko akibat ancaman gangguan pasokan, termasuk potensi gangguan jalur distribusi di Selat Hormuz yang mengangkut sekitar 20 persen minyak dunia.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, kenaikan harga minyak global memperkuat argumen percepatan transisi energi dan pengembangan kendaraan listrik.

“Ketergantungan pada energi impor membuat ekonomi dan APBN rentan terhadap gejolak geopolitik. Percepatan substitusi BBM melalui biofuel dan kendaraan listrik memang disebut sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi ketergantungan,” kata Josua kepada KabarBursa.com, Selasa, 3 Maret 2026.

Kendati demikian, diversifikasi pasokan minyak dari luar Timur Tengah juga tetap penting sebagai penyangga jangka pendek. “Logikanya sederhana: semakin rendah intensitas konsumsi BBM fosil, semakin kecil tekanan subsidi ketika harga minyak naik, dan semakin kecil pula tekanan defisit transaksi berjalan serta nilai tukar,” ujarnya.

Senada dengan Josua, Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono melihat ada peluang besar yang harus dimanfaatkan, terutama ketika momentum kenaikan harga minyak masih tinggi.

“Kenaikan harga minyak sering kali menjadi ‘marketing gratis’ bagi ekosistem EV,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Selasa, 3 Maret 2026.

Lonjakan Harga Energi Dorong Momentum Kendaraan Listrik

Di pasar domestik, adopsi kendaraan listrik menunjukkan tren meningkat. Penjualan EV pada Januari 2026 tercatat sekitar 10.061 unit dari total penjualan mobil nasional sekitar 66.477 unit, atau setara pangsa pasar sekitar 15 persen.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari–November 2025, penjualan EV mencapai 82.525 unit dengan pangsa sekitar 11,6 persen.

Angka tersebut menunjukkan penetrasi kendaraan listrik di Indonesia mulai memasuki level dua digit dan terus berkembang seiring hadirnya model baru serta insentif pemerintah.

Wahyu menjelaskan, ketika harga bensin melonjak, nilai ekonomis beralih ke kendaraan listrik menjadi lebih menarik.

Adapun paham yang terkait dengan nikel (bahan baku baterai) atau manufaktur EV (seperti NCKL, MBMA, atau emiten yang mulai merambah EV) biasanya mendapat sentimen positif karena percepatan transisi energi dianggap akan terjadi lebih cepat. 

Sentimen Positif bagi Saham Nikel dan Ekosistem EV

Sementara itu, harga nikel di London Metal Exchange (LME) tercatat sekitar USD 17.085 per ton pada 3 Maret 2026. Dalam sepekan terakhir, harga bergerak relatif stabil di kisaran USD 17.500–17.800 per ton dan cenderung melemah tipis sekitar 1–2 persen.

Meski tidak mengalami lonjakan signifikan dalam jangka sangat pendek, harga nikel sebelumnya sempat naik tajam dari kisaran USD14.000 menjadi hampir USD18.900 per ton pada awal 2026, mencerminkan sensitivitas logam baterai terhadap sentimen energi global.

Meski begitu, Josua menilai, percepatan ini perlu dibuat realistis. Insentif kendaraan listrik harus dibarengi kesiapan infrastruktur pengisian, pasokan listrik yang andal, serta penguatan rantai pasok manufaktur domestik agar manfaatnya tidak hanya pada sisi konsumsi, tetapi juga pada daya saing industri.

Lebih jauh, dari sisi infrastruktur, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia telah melampaui 5.000 unit hingga awal 2026, meningkat dari sekitar 3.223 unit pada 2024 dan 4.655 unit pada 2025.

Pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 9.633 unit pada 2026 dan 14.339 unit pada 2027, dengan proyeksi jangka panjang lebih dari 31.000 unit pada 2030.

Ekspansi ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan mengurangi kekhawatiran pengguna terhadap keterbatasan infrastruktur pengisian.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.