Logo
>

Dubai Tak Lagi Aman, Ekspor Otomotif China Tertekan

Konflik Iran melawan Israel dan AS mengganggu ekspor mobil China. Dubai sebagai hub distribusi global ikut terdampak setelah serangan ke Pelabuhan Jebel Ali.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Dubai Tak Lagi Aman, Ekspor Otomotif China Tertekan
Ilustrasi dampak konflik Iran vs Israel-AS terhadap industri otomotif global. Ekspor kendaraan China terganggu. Foto: Global Times

KABARBURSA.COM - Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah antara Iran melawan kejahatan Israel dan Amerika Serikar (AS), berdampak pada industri otomotif global.

CarNewsChina melaporkan, kini rantai ekspor dari industri otomotif China terkena imbasnya. Tidak hanya menghentikan penjualan langsung ke beberapa negara, seperti Iran, konflik tersebut juga mengganggu jalur distribusi strategis melalui Dubai.

Dalam hal ini, Dubai bagi bisnis otomotif China merupakan jantung  yanh menjadi pusat transit kendaraan menuju berbagai pasar global.

Sejumlah pelaku industri menyebut aktivitas ekspor mobil China kini harus mengalami tekanan serius.

“Bisnis kami di Iran benar-benar terhenti,” kata seorang manajer ekspor dari produsen mobil milik negara China kepada media bisnis Caixin, dikutip KabarBursa.com, Senin, 9 Maret 2026.

Gangguan ini tidak hanya berdampak pada pasar Iran. Seorang profesional perdagangan otomotif lainnya mengatakan, banyak produsen mobil China menggunakan Dubai sebagai titik transit untuk menjangkau negara lain di Timur Tengah hingga Afrika.

“Banyak perusahaan mobil Tiongkok menggunakan Dubai sebagai pusat transit untuk menjangkau pasar Timur Tengah lainnya atau Afrika Barat dan Utara. Sekarang titik transit ini menjadi tidak aman, seluruh operasi terpengaruh,” jelasnya.

Selama beberapa tahun terakhir, Uni Emirat Arab (UEA) terutama wilayah Dubai, telah berkembang menjadi salah satu pasar ekspor utama kendaraan China.

Berdasarkan data Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang China, Cui Dongshu, ekspor mobil China ke UEA mencapai 567 ribu unit pada 2025. Angka tersebut melonjak lebih dari 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menariknya, jumlah ini jauh melampaui penjualan mobil domestik di UEA yang kurang dari 400 ribu unit. Hal ini menunjukkan peran Dubai bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai pusat distribusi kendaraan China.

“Dubai pada dasarnya berfungsi sebagai gudang perantara. Banyak perusahaan mengirimkan kendaraan ke Dubai terlebih dahulu sebelum mendistribusikannya ke tujuan akhir. Pada tahun 2025 saja, perusahaan kami mengirimkan hampir 30.000 kendaraan ke Dubai,” kata seorang profesional perdagangan otomotif kepada Caixin.

Strategi ini memanfaatkan posisi geografis Dubai yang strategis, dukungan sistem keuangan yang efisien, serta berbagai insentif pajak yang memudahkan distribusi lintas negara.

Lebih lanjut, dampak perang Iran vs Israel-AS terkait vangguan rantai pasok semakin terasa setelah Pelabuhan Jebel Ali di Dubai mengalami serangan pada 1 Maret dini hari.

Pelabuhan terbesar di Timur Tengah tersebut selama ini menjadi hub utama pengiriman kendaraan jenis roll-on/roll-off yang digunakan untuk ekspor otomotif.

Meski operator pelabuhan DP World menyatakan sebagian operasi kembali berjalan pada hari yang sama, banyak perusahaan pelayaran menangguhkan layanannya. Kondisi ini membuat aktivitas pelabuhan praktis tersendar meskipun secara teknis tetap beroperasi

Dampak konflik juga menjalar ke jalur perdagangan menuju Eropa. Rute Laut Merah dan Terusan Suez yang semakin berisiko memaksa kapal pengangkut kendaraan memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Akibatnya, perubahan rute ini menambah waktu pengiriman sekitar 10 hingga 15 hari.

Lebih jauh lagi, Asosiasi Produsen Otomotif China (CAAM) menilai, China mencatat ekspor kendaraan sebesar 7,09 juta unit pada 2025, naik sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

CAAM sebelumnya memproyeksikan ekspor mobil China pada 2026 akan tumbuh moderat 4,3 persen menjadi sekitar 7,4 juta unit. Namun ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memaksa terjadinyan revisi proyeksi tersebut.

Produsen otomotif China sendiri telah menginvestasikan dana besar untuk memperkuat infrastruktur logistik di kawasan Timur Tengah.

Salah satunya adalah pembangunan gudang suku cadang otomotif di Zona Bebas Jebel Ali yang dikembangkan oleh perusahaan logistik COSCO Shipping bersama produsen mobil Chery. 

Fasilitas seluas sekitar 19 ribu meter persegi ini dirancang untuk mempercepat distribusi suku cadang ke pasar regional, dari sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu menjadi hanya beberapa hari.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.