Logo
>

Efek Tekanan China, GM, Ford dan Hyundai Percepat Transformasi AI di Pabrik

General Motors, Hyundai, Ford, Honda, Nissan, hingga Stellantis memperluas penggunaan robot kolaboratif dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi produksi, sementara serikat pekerja menyoroti potensi berkurangnya lapangan kerja akibat otomatisasi

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Efek Tekanan China, GM, Ford dan Hyundai Percepat Transformasi AI di Pabrik
Ilustrasi pelibatan robot dengan kecerdasan buatan dalam produksi mobil. Foto: carscoops.

KABARBURSA.COM – Kecerdasan buatan (AI) mulai menjadi senjata baru produsen mobil global untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi. Hal ini mendorong General Motors, Hyundai, Ford, Honda hingga Stellantis memperluas penggunaan robot kolaboratif di pabrik sebagai respons atas ketatnya persaingan industri otomotif.

Langkah tersebut kini ditempuh sejumlah produsen besar, mulai dari General Motors (GM), Hyundai, Nissan, Ford, Honda hingga Stellantis. Otomatisasi dipandang menjadi salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas produksi, sekaligus memperkuat daya saing industri.

Di sisi lain, percepatan penggunaan AI dan robotika memunculkan kekhawatiran dari serikat pekerja otomotif Amerika Serikat (United Auto Workers/UAW). Presiden UAW Shawn Fain menilai revolusi teknologi di sektor manufaktur berpotensi mengurangi lapangan kerja apabila manfaat peningkatan produktivitas hanya dinikmati perusahaan.

Menurut UAW, produsen otomotif menghadapi tekanan persaingan global yang semakin besar, terutama dari produsen kendaraan asal China yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Tekanan tersebut membuat AI dan robotika menjadi instrumen penting bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional, menjaga kualitas produk, sekaligus menekan biaya produksi.

Perdebatan yang muncul bukan lagi mengenai apakah otomatisasi akan diterapkan, melainkan bagaimana manfaat peningkatan produktivitas tersebut dibagikan antara perusahaan dan tenaga kerja.

Robot Menjadi Bagian Produksi Massal

General Motors menjadi salah satu produsen yang telah memperluas penggunaan robot kolaboratif di fasilitas Factory ZERO di Detroit.

Perusahaan menyebut sekitar 50 cobot digunakan untuk meningkatkan keselamatan kerja, fleksibilitas proses produksi, dan efisiensi operasional. Meski demikian, GM juga baru-baru ini melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 1.000 pekerja yang berkaitan dengan produksi kendaraan listrik.

Selain GM, Hyundai, Nissan, Ford, Honda, dan Stellantis juga telah memanfaatkan robot dan cobot dalam berbagai tahapan produksi kendaraan untuk meningkatkan produktivitas pabrik.

Serikat Buruh Minta Produktivitas Tidak Dibayar dengan PHK

UAW menilai peningkatan produktivitas melalui AI dan robotika seharusnya tidak otomatis berujung pada berkurangnya lapangan kerja.

Serikat pekerja berpendapat bahwa pekerja juga berhak menikmati manfaat dari kemajuan teknologi melalui peningkatan kesejahteraan maupun jaminan keberlanjutan pekerjaan.

Sementara itu, produsen otomotif berpandangan bahwa otomatisasi diperlukan untuk mempertahankan daya saing pabrik dan menjaga investasi jangka panjang di tengah persaingan industri yang semakin ketat.

Perdebatan mengenai pembagian manfaat AI di industri otomotif diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan, seiring semakin luasnya penerapan teknologi otomatisasi di fasilitas produksi kendaraan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.