KABARBURSA.COM – Potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat peningkatan eskalasi perang Amerika Serikat (AS)-Israel Vs Iran diprediksi berdampak terhadap penurunan daya beli rumah tangga.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, penurunan daya beli rumah tangga terjadi karena pengeluaran energi dan transportasi adalah kebutuhan yang sulit dikurangi.
Menurutnya, kesulitan mengurangi biaya energi dan transportasi membuat sisa pendapatan untuk belanja kebutuhan kian menyempit.
“Pada fase awal, rumah tangga biasanya menunda pembelian barang tahan lama seperti mobil, karena keputusan membeli kendaraan sangat peka terhadap perubahan biaya hidup, biaya operasional kendaraan, dan cicilan,” kata Josua kepada KabarBursa.com, Selasa, 3 Maret 2026.
Data industri pembiayaan menunjukkan, perlambatan pada kredit kendaraan bermotor. Outstanding pembiayaan kendaraan tercatat sekitar Rp404,94 triliun dengan pertumbuhan hanya sekitar 0–2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan dua digit yang sempat terjadi pada 2024. Secara bulanan, pertumbuhan juga relatif terbatas di kisaran 1 persen, mencerminkan permintaan pembiayaan yang belum sepenuhnya pulih.
Menurutnya, jika penyesuaian BBM memicu inflasi lebih tinggi, bank sentral cenderung lebih berhati-hati menurunkan suku bunga, sehingga bunga kredit cenderung bertahan lebih tinggi dan kemampuan mencicil melemah, terutama bagi kelompok berpendapatan menengah yang mengandalkan pembiayaan.
“Tekanan ini biasanya memperlebar kesenjangan permintaan: kendaraan segmen atas relatif lebih tahan, tetapi segmen mass market lebih cepat melemah karena lebih ditopang kredit dan lebih sensitif terhadap kenaikan biaya hidup,” ujarnya.
Sementara itu, kinerja industri multifinance turut mencerminkan dinamika tersebut. Total piutang pembiayaan multifinance pada akhir 2025 tercatat sekitar Rp506,5 triliun dengan pertumbuhan hanya sekitar 0,6 persen secara tahunan.
Segmen kendaraan bermotor masih mendominasi lebih dari 76 persen portofolio industri, namun pertumbuhannya sangat tipis. Di sisi lain, rasio pembiayaan bermasalah (NPF) berada di kisaran 2,51 persen, relatif terkendali meski menunjukkan kenaikan tipis dibanding bulan sebelumnya. Kondisi ini membuat lembaga pembiayaan cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit baru.
Penjualan Mobil Masih Tumbuh, Namun Rentan
Di sisi penjualan, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan wholesales mobil pada Januari 2026 mencapai 66.447 unit atau tumbuh 7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Retail sales tercatat 66.936 unit atau naik 4,5 persen secara tahunan. Meski masih mencatat pertumbuhan tahunan, penjualan secara bulanan turun tajam dibanding Desember 2025, mencerminkan normalisasi setelah lonjakan akhir tahun.
Tren ini mengindikasikan pasar otomotif belum melemah secara struktural, namun masih rentan terhadap perubahan daya beli dan kondisi pembiayaan.(*)