Logo
>

Ford dan BYD Bahas Kerja Sama Pasokan Baterai Hybrid

Ford dan BYD tengah menjajaki kerja sama strategis pasokan baterai untuk model hybrid, di tengah perubahan strategi Ford dan peningkatan produksi BYD global.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Ford dan BYD Bahas Kerja Sama Pasokan Baterai Hybrid
Ford dekati BYD untuk pasok baterai mobil hybrid. Berikut tujuannya. Foto: Top Electric SUV

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Ford Motor Company tengah membuka peluang kerja sama strategis dengan raksasa otomotif Tiongkok, BYD. Kabar Ford untuk menggandeng BYD menyasar kerja sama dalam pasokan baterai bagi sejumlah model mobil hybrid Ford.

    Wall Street Journal dalam laporannya per 15 Januari menyebutkan, negosiasi Ford dan BYD masih berlangsung dan belum mencapai kesepakatan final. 

    Adapun salah satu skema yang tengah dibahas Ford dan BYD adalah pengiriman baterai produksi BYD ke fasilitas manufaktur Ford di luar Amerika Serikat.

    Jika kerja sama ini terwujud, Ford akan memperoleh akses langsung ke teknologi baterai BYD yang dikenal unggul dari segi ekonomis dan skala produksi. 

    Meski kedua negara asal perusahaan yaitu Amerika Serikat dan China tengah bersitegang, kolaborasi tersebut dinilai sejalan dengan strategi terbaru Ford yang mengalihkan fokus dari kendaraan listrik murni (BEV) ke segmen hybrid dan plug-in hybrid (PHEV).

    Desember lalu, Ford mengumumkan rencana strategis untuk menekan ekspansi BEV dan meningkatkan investasi pada kendaraan hibrida. Ford menargetkan kendaraan hybrid, PHEV, dan BEV secara kolektif menyumbang sekitar 50 persen penjualan global Ford pada 2030.

    Sebelum berkembang menjadi raksasa otomotif China, BYD membangun fondasi bisnisnya sebagai produsen baterai. Kini sebagian besar baterai BYD yang mengusung jenis Lithium Ferro Phosphate (LFP) atau biasa disebut Blade Battery masih diproduksi di Tiongkok. 

    Namun, BYD terus memperluas kapasitas manufakturnya ke luar negeri guna memperkuat penetrasi pasar Asia Tenggara, Eropa, dan Brasil. Bernstein Research memperkirakan pengiriman baterai BYD melonjak 47 persen sepanjang tahun lalu, mencapai 286 gigawatt-hour (GWh).

    Meski BYD pernah memproduksi baterai untuk kendaraan komersial di fasilitas pembuatan busnya di California, perusahaan tersebut belum memproduksi baterai kendaraan penumpang di Amerika Serikat.

    Di sisi lain, Ford masih menghadapi tekanan dari melemahnya permintaan kendaraan listrik global. Desember lalu, produsen otomotif asal AS itu memperkirakan akan menanggung biaya hingga USD19,5 miliar. Sebagian besar nilai tersebut berkaitan dengan lini kendaraan listriknya.

    Sebagai respons, Ford berencana memperluas jajaran kendaraan bermesin bensin sekaligus memperkuat portofolio hibridanya yang otomatis meningkatkan kebutuhan baterai khusus kendaraan hybrid.

    Berikutnya, penjualan mobil hybrid Ford menunjukkan tren positif, dengan penjualan kuartal IV tahun lalu tumbuh 18 persen secara tahunan, atau mencapai sekitar 55.000 unit.

    Potensi kerja sama ini bukanlah langkah baru sepenuhnya. Pada 2020, Ford mulai menggunakan baterai BYD pada kendaraan hasil usaha patungan mereka di Tiongkok bersama Changan. 

    Beberapa tahun kemudian, BYD kembali menawarkan pasokan baterai untuk pasar global, termasuk pada Ford Bronco PHEV yang menggunakan baterai dari anak usaha BYD yakni Findreams.

    Potensi kemitraan Ford dan BYD menandai pergeseran struktural industri otomotif global, khususnya dalam rantai pasok baterai. Kolaborasi pabrikan mobil lintas negara ini mencerminkan semakin terintegrasinya industri otomotif global meski di tengah tensi geopolitik.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.