KABARBURSA.COM – Kenaikan harga sejumlah kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia mulai memunculkan tantangan baru bagi pasar otomotif nasional. Jika mobil listrik berharga terjangkau masih mampu menarik minat konsumen, kelompok kelas menengah justru dinilai semakin sulit menjangkau model-model EV dengan harga di atas Rp300 juta.
Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan pasar kendaraan listrik saat ini tidak bergerak secara seragam. Daya tarik produk sangat bergantung pada segmen harga yang dibidik.
“Harga EV masih masuk akal hanya untuk segmen middle upper class. EV di bawah Rp250 juta masih berpeluang menarik konsumen urban, pembeli mobil pertama, atau pengguna yang menghitung biaya listrik dan servis lebih rendah,” kata Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 19 Juni 2026.
Pandangan tersebut muncul di tengah tren penyesuaian harga sejumlah model kendaraan listrik sepanjang 2026. Beberapa produsen mulai menaikkan harga atau menghentikan program promosi agresif yang sebelumnya digunakan untuk memperluas pangsa pasar.
BYD Atto 1 varian Dynamic misalnya, naik dari Rp195 juta menjadi Rp199 juta. Chery Omoda E5 Pure meningkat dari Rp369,9 juta menjadi Rp379,9 juta, sementara Wuling Air ev naik dari Rp206 juta menjadi Rp214 juta. Geely EX2 Pro juga beralih dari harga promosi Rp229,9 juta menjadi harga reguler Rp239,9 juta.
Meski demikian, Yannes menilai kendaraan listrik pada rentang harga di bawah Rp250 juta masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar, terutama di kawasan perkotaan.
Selain biaya operasional yang lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar minyak, segmen tersebut juga mulai menjadi alternatif bagi konsumen yang sebelumnya mempertimbangkan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC).
Segmen Rp300-500 Juta Mulai Tertekan
Di sisi lain, Yannes melihat tantangan justru mulai muncul pada kendaraan listrik dengan rentang harga Rp300 juta hingga Rp500 juta.
Segmen tersebut selama ini menjadi sasaran utama kelas menengah perkotaan. Namun kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat keputusan pembelian kendaraan menjadi semakin selektif.
“EV di atas Rp300–500 juta makin berat bagi middle class karena cicilan tinggi, daya beli melemah, bunga leasing mahal, dan resale value belum terbukti,” ujarnya.
Menurut dia, tingginya cicilan pembiayaan menjadi salah satu faktor yang membatasi kemampuan konsumen untuk beralih ke kendaraan listrik pada rentang harga tersebut.
Selain itu, ketidakpastian nilai jual kembali kendaraan listrik masih menjadi pertimbangan sebagian calon pembeli. Berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal yang memiliki rekam jejak pasar lebih panjang, pasar mobil listrik bekas di Indonesia masih relatif muda.
Kondisi tersebut membuat sebagian konsumen memilih menunda pembelian atau tetap bertahan dengan kendaraan konvensional.
Pasar Premium Tetap Ada
Sementara itu, segmen kendaraan listrik premium dinilai masih memiliki pasar tersendiri meski jumlahnya terbatas.
Produk-produk dengan harga di atas Rp600 juta masih mampu menarik minat konsumen yang mengutamakan teknologi, fitur, dan pengalaman berkendara dibanding pertimbangan biaya.
"Untuk EV premium di atas Rp600 juta, pasar tetap ada tetapi terbatas pada early adopter dan konsumen upper class yang mapan," kata Yannes.
Menurut dia, kelompok konsumen tersebut umumnya memiliki daya beli yang lebih kuat sehingga tidak terlalu sensitif terhadap kenaikan harga maupun perubahan skema pembiayaan.(*)