KABARBURSA.COM - Masuknya Indonesia ke jajaran 10 besar importir mobil elektrifikasi asal China dapat menjadi sinyal dari meningkatnya arus kendaraan listrik impor ke Tanah Air.
Tren ini berpotensi menekan harga pasar EV domestik, sekaligus meningkatkan persaingan bagi produsen dan perakit lokal.
Selain itu kebijakan bebas bea masuk untuk mobil listrik impor berstatus CBU (Completely Build Up) ke Indonesia pada 2025, juga mendukung hal tersebut.
Di sisi lain, derasnya ekspor NEV China memiliki peluang bagi Indonesia untuk mempercepat transfer teknologi, memperkuat ekosistem baterai, dan menarik investasi perakitan lokal.
Namun sebagai catatan, tanpa kebijakan industri yang tepat, lonjakan impor berisiko memperlebar defisit perdagangan otomotif dan melemahkan daya saing merek nasional.
Berikut daftar negara terbesar pengimpor mobil NEV China tahun 2025:
1. Belgia = 284.921 unit
2. Inggris = 231.181 unit
3. Meksiko = 221.027 unit
4. Brasil = 200.825 unit
5. Filipina = 200.544 unit
6. UEA = 191.946 unit
7. Thailand = 151.633 unit
8. Australia = 145.781 unit
9. Indonesia = 126.536 unit
10. India = 102.691 unit
Sebelumnya diberitakan, mobil-mobil asal China, baik yang bermesin konvensional, hybrid, maupun listrik berbasis baterai, kian mendominasi pasar domestik seiring membanjirnya merek dan model baru.
Pada saat yang sama, industri otomotif China juga semakin agresif menembus pasar global, termasuk Eropa dan Amerika, melalui ekspansi produk elektrifikasi.
Lonjakan terbesar terlihat pada kinerja ekspor kendaraan. Sepanjang 2025, ekspor mobil China meningkat signifikan, terutama pada segmen kendaraan energi baru (NEV). Data Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) mencatat total ekspor kendaraan China mencapai 8,32 juta unit pada 2025, tumbuh 30 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3,43 juta unit merupakan NEV. Angka ini melonjak 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan jauh melampaui laju pertumbuhan 2024 yang hanya sebesar 16 persen.
Meski ekspor melonjak tajam, Indonesia belum masuk dalam tiga besar negara tujuan utama kendaraan China pada 2025. Pasar terbesar masih ditempati Meksiko, Rusia, dan Uni Emirat Arab (UEA). (*)