KABARBURSA.COM – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mulai memanfaatkan material sisa tambang sebagai bagian dari rantai pasok bahan baku industri baterai kendaraan listrik melalui pengembangan fasilitas pengolahan Acid Iron Metal (AIM).
Fasilitas AIM tersebut dibangun oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), perusahaan patungan antara MBMA dan Eternal Tsingshan Group Limited. Pengembangan fasilitas itu menjadi bagian dari strategi MBMA dalam memperkuat praktik ekonomi sirkular di industri bahan baku baterai kendaraan listrik.
Dalam keterangannya, MBMA menjelaskan fasilitas AIM memanfaatkan bijih pirit sisa pengolahan Tambang Tembaga Wetar yang dioperasikan oleh anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Material sisa tambang tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan asam sulfat dan uap yang digunakan sebagai bahan baku dalam proses produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL).
Melalui integrasi tersebut, MBMA menyebut perusahaan berupaya mengoptimalkan pemanfaatan material tambang sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik nasional.
Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk Teddy Oetomo mengatakan pengembangan industri kendaraan listrik perlu didukung oleh rantai pasok yang lebih efisien dan bertanggung jawab.
“Pengembangan industri kendaraan listrik perlu didukung rantai pasok yang semakin efisien dan bertanggung jawab. Melalui integrasi operasional yang kami bangun, MBMA ingin mendorong praktik tersebut secara bertahap,” ujar Teddy dalam keterangannya, dikutip Jumat, 15 Mei 2026.
MBMA menyatakan pengembangan fasilitas AIM juga menjadi bagian dari upaya perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku eksternal melalui integrasi operasional di lingkungan Grup Merdeka.
Selain pengembangan ekonomi sirkular, MBMA menyebut seluruh entitas operasional perusahaan telah memperoleh sertifikasi ISO 14001:2015 untuk sistem manajemen lingkungan hingga akhir 2025.
Perseroan juga membentuk Tim Manajemen Energi di dua anak usaha, yakni PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) dan MTI, untuk mendukung implementasi efisiensi energi dan pengurangan emisi secara lebih terintegrasi.
Sepanjang 2025, MBMA juga mempertahankan Gold Rank dalam Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025, memperoleh predikat “Verified” dalam Indeks Integritas Bisnis Lestari (INSTAR) 2025 dengan skor tertinggi di sektor basic materials, serta mencatat perbaikan Sustainalytics ESG Risk Rating menjadi 34,07 dari sebelumnya 35,20.(*)