KABARBURSA.COM — Lanskap industri otomotif Indonesia mulai berubah arah. Dalam beberapa tahun terakhir, dominasi panjang pabrikan Jepang perlahan tergerus oleh gelombang kendaraan listrik asal China yang masuk dengan strategi agresif dan terintegrasi dari hulu ke hilir.
Riset Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) yang disusun oleh Ronny P. Sasmita, Delly Ferdian, dan Antoni Putra mencatat, pergeseran ini bukan sekadar tren konsumsi, melainkan transformasi struktural dalam industri.
Di satu sisi, pasar mobil konvensional justru mengalami tekanan. Penjualan kendaraan berbasis mesin pembakaran internal turun sekitar 11 persen pada 2025. Namun di sisi lain, adopsi kendaraan listrik melonjak hingga 49 persen pada periode yang sama.
“Fenomena ini bukan sekadar perubahan preferensi konsumen, melainkan manifestasi dari strategi integrasi vertikal yang cukup canggih,” tulis ketiga peneliti tersebut dalam risetnya yang dirilis Rabu, 25 Maret 2026.
Lonjakan tersebut didorong oleh penetrasi masif produsen China yang berhasil menawarkan kendaraan listrik dengan harga lebih terjangkau. Data menunjukkan, sekitar 90 persen pasar kendaraan listrik nasional kini dikuasai oleh merek-merek asal Negeri Tirai Bambu.
Dominasi itu terlihat dari data penjualan. Hingga 2025, BYD memimpin dengan penjualan 31.046 unit, disusul Chery 16.667 unit, dan Wuling 15.728 unit. Total penjualan mobil listrik nasional bahkan telah mencapai 82.525 unit.
Angka tersebut menegaskan satu hal. China tidak hanya masuk ke pasar Indonesia, tetapi mulai mengendalikan arah masa depan industri otomotif nasional.
“Hal ini mengonfirmasi bahwa Tiongkok tidak hanya masuk ke pasar Indonesia, tetapi telah secara efektif mengambil alih kepemimpinan dalam narasi masa depan otomotif nasional,” tulis para peneliti ISEAI.
Namun kekuatan China tidak berhenti di pasar. Strategi yang digunakan jauh lebih dalam, yakni menguasai rantai pasok dari hulu hingga hilir. Indonesia, dengan cadangan nikel terbesar di dunia, menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Pada 2024, produksi nikel Indonesia mencapai sekitar 2,3 juta ton atau sekitar 70 persen pasokan global.
Di sisi lain, investor China diperkirakan mengendalikan sekitar 75 persen kapasitas pengolahan nikel di Indonesia sehingga menjadikan negara ini sebagai basis utama rantai pasok baterai kendaraan listrik. “Keunggulan komparatif Tiongkok dalam industri kendaraan listrik global tidak bisa dilepaskan dari penguasaan material kritis di sektor hulu,” tulis riset tersebut.
Kondisi ini membuat produsen mobil listrik China memiliki keunggulan biaya yang sulit ditandingi. Dengan mengendalikan bahan baku, mereka mampu menjual kendaraan dengan harga lebih kompetitif dibandingkan pesaing dari Jepang atau Eropa.
Persaingan pun berubah arah. Jika sebelumnya Jepang mendominasi lewat mesin konvensional, kini China mengambil alih lewat elektrifikasi penuh. Korea Selatan yang sempat unggul di awal pun mulai terdesak oleh strategi harga dan produk yang lebih agresif dari China.
Namun di balik pertumbuhan yang terlihat menjanjikan, riset ISEAI mengingatkan adanya risiko yang tidak bisa diabaikan.
Dominasi yang terlalu kuat berpotensi menciptakan ketergantungan industri dalam jangka panjang. Indonesia bisa berada dalam posisi sebagai penyedia bahan baku dan pasar, tanpa benar-benar menguasai teknologi inti.
“Dominasi Tiongkok yang hampir absolut di sektor hulu dan hilir kendaraan listrik Indonesia membawa sejumlah risiko struktural bagi ekonomi nasional dalam jangka panjang,” tulis Ronny, Delly, dan Antoni.
Risiko lain datang dari perubahan teknologi global. Tren penggunaan baterai lithium iron phosphate atau LFP yang tidak menggunakan nikel mulai meningkat, terutama di kalangan produsen China. Jika tren ini semakin dominan, maka investasi besar Indonesia di sektor hilirisasi nikel berpotensi kehilangan relevansinya di masa depan.
“Pergeseran tren teknologi baterai global berpotensi membuat aset hilirisasi nikel menjadi tidak relevan,” tulis mereka.
Selain itu, aspek lingkungan juga menjadi tantangan. Industri nikel Indonesia yang masih bergantung pada energi berbasis batu bara berisiko tidak memenuhi standar global, sehingga membatasi akses pasar ke negara-negara Barat.
Meski demikian, peluang tetap terbuka. Investasi besar yang masuk telah mendorong penciptaan lapangan kerja, pengembangan kawasan industri, serta percepatan adopsi teknologi kendaraan listrik di dalam negeri.
Ke depan, Indonesia diproyeksikan akan menjadi basis produksi dan ekspor kendaraan listrik dengan kapasitas yang dapat menembus lebih dari satu juta unit dalam beberapa tahun ke depan. Namun arah akhirnya akan ditentukan oleh kebijakan yang diambil hari ini.
“Keberhasilan kita bukan diukur dari seberapa banyak mobil Tiongkok yang terjual di jalanan kita, melainkan dari seberapa besar nilai tambah dan kedaulatan teknologi yang bisa kita petik,” tulis para peneliti ISEAI.
Di tengah gelombang elektrifikasi global, Indonesia kini berada di persimpangan. Menjadi pemain utama dalam rantai industri, atau sekadar menjadi bagian dari permainan besar negara lain.(*)