Logo
>

Moment Energy Buka Pabrik Baterai EV Bekas Terbesar di Dunia, Ini Dampaknya ke Industri

Pabrik bernama Megafactory 1 yang berlokasi di Vancouver, British Columbia, Kanada ini, mulai beroperasi hanya dalam enam minggu setelah proyeknya diumumkan.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Moment Energy Buka Pabrik Baterai EV Bekas Terbesar di Dunia, Ini Dampaknya ke Industri
Moment Energy dirikan pabrik baterai EV bekas terbesar di dunia. Olah limbah jadi penyimpanan energi komersial. (Foto: Dok. Clean Energy)

KABARBURSA.COM – Perusahaan teknologi energi asal Kanada, Moment Energy resmi mengoperasikan fasilitas daur ulang baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Fasilitas ini diklaim sebagai pabrik baterai EV bekas terbesar di dunia. Electrek melaporkan, hadirnya pabrik tersebut dapat menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri otomotif yang berkelanjutan.

Pabrik bernama Megafactory 1 yang berlokasi di Vancouver, British Columbia, Kanada ini, mulai beroperasi hanya dalam enam minggu setelah proyeknya diumumkan. Sementara peresmiannya dilangsungkan pada 23 Juni lalu.

Berbeda dengan pabrik baterai konvensional yang memproduksi sel baterai baru, Megafactory 1 memanfaatkan baterai kendaraan listrik yang sudah tidak lagi optimal.

Baterai EV bekas yang masuk ke pabrik tersebut kemudian diubah menjadi sistem penyimpanan energi (Battery Energy Storage System/BESS) untuk kebutuhan komersial.

Sistem dari limbah baterai EV yang diolah Moment Energy dapat dimanfaatkan untuk menyuplai cadangan listrik di sejumlah fasilitas seperti data center, rumah sakit, kawasan industri, microgrid, hingga infrastruktur strategis lainnya.

Dari sisi industri, kehadiran pabrik baterai EV bekas dinilai bertepatan dengan meningkatnya konsumsi listrik global, serta penggunaan baterai kendaraan listrik generasi awal yang memasuki masa akhir masa pemakaian.

Perusahaan menyatakan, hasil daur ulang baterai EV tersebut dinilai masih layak digunakan, meskipun kapasitasnya sudah menurun.

Selain itu, pemanfaatan limbah komponen EV sebagai media penyimpanan BESS juga tidak dibatasi oleh bobot maupun dimensi dari baterai yang dimanfaatkan.

Moment Energy kini menargetkan Megafactory 1 mampu memproduksi sistem penyimpanan energi hingga 1 gigawatt-jam (GWh) per tahun pada 2030.

Di samping itu, operasional pabrik ini diperkirakan mampu menciptakan lebih dari 100 lapangan kerja langsung, serta dapat menyerap sekitar 1.000 jenis pekerjaan tidak langsung di wilayah sekitar.

"Kami mengumumkan proyek ini enam minggu lalu. Hari ini sudah beroperasi," kata Edward Chiang, salah satu pendiri dan CEO Moment Energy dikutip Jumat, 3 Juli 2026.

Menurut Edward, permintaan akan penyimpanan energi BESS diproyeksikan dapat terus meningkat seiring bertambahnya pasokan limbah baterai EV bekas.

"Kami menunjukkan bahwa teknologi yang tepat dapat memungkinkan Amerika Utara untuk memindahkan kembali manufaktur domestik dalam hitungan minggu, bukan dekade, menciptakan ribuan lapangan kerja dan kemakmuran ekonomi," jelasnya.

Diketahui, Moment Energy berdiri pada 2020 dan berkembang dari perusahaan rintisan universitas menjadi pemain di sektor penyimpanan energi komersial.

Perusahaan tercatat memperoleh dukungan investasi sebesar 4,9 juta dolar Kanada dari pemerintah setempat melalui Pacific Economic Development Canada (PacifiCan).

Selain itu, pada awal 2026 perusahaan juga menutup pendanaan Seri B senilai USD40 juta, sehingga total pendanaan yang dihimpun telah melampaui USD100 juta atau sekitar Rp1,79 triliun.

Moment Energy juga mengklaim sebagai perusahaan pertama yang memperoleh sertifikasi keamanan produk dan keamanan fungsional untuk sistem manajemen baterai (Battery Management System/BMS) yang dirancang khusus untuk baterai EV bekas.

Beroperasinya Megafactory 1 diperkirakan akan mempercepat pengembangan ekosistem second-life battery yakni pemanfaatan kembali baterai kendaraan listrik setelah masa pakainya di mobil berakhir.

Adapun umur baterai mobil listrik umumnya mencapai lima sampai delapan tahun atau lebih, tergantung kondisi pemakaian, lingkungan hingga kebiasaan charging.

Bagi produsen otomotif global, kehadiran fasilitas seperti Megafactory 1 berpeluang menekan biaya pengelolaan limbah baterai sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari baterai bekas.

Di sisi lain, berkembangnya industri pemanfaatan baterai bekas berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap penambangan bahan baku baru seperti litium, nikel, dan kobalt. (*)


 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.