KABARBURSA.COM - Pertumbuhan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam dua tahun terakhir. Peningkatan ini terjadi di tengah tekanan harga energi global dan ketidakpastian pasokan bahan bakar.
Kenaikan pangsa pasar dan peningkatan minat konsumen memberi sinyal awal adanya pergeseran preferensi dari kendaraan berbasis bahan bakar fosil ke elektrifikasi. Kendati demikian, peningkatan minat konsumen otomotif belum sepenuhnya menjadi peralihan massal.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pasar otomotif nasional masih tumbuh terbatas. Namun, segmen kendaraan listrik mencatat akselerasi yang jauh lebih cepat.
Gaikindo mencatat, penjualan mobil nasional secara wholesales (dari pabrikan ke dealer) sepanjang 2025 mencapai 865.723 unit. Sementara pada kuartal I 2026 tercatat sebanyak 209.021 unit, naik sekitar 1,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Di sisi lain, penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) justru melonjak signifikan. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan BEV pada 2025 mencapai 103.931 unit dan meningkat menjadi sekitar 33,15 ribu unit pada kuartal I 2026. Jumlah ini tumbuh sekitar 96 persen secara tahunan.
Dengan capaian tersebut, pangsa pasar kendaraan listrik naik dari sekitar 12 persen pada 2025 menjadi mendekati 15,9 persen pada awal 2026.
Tren pertumbuhan ini menunjukkan kendaraan listrik mulai mengambil porsi yang lebih besar dalam pasar otomotif nasional, meskipun dominasi kendaraan konvensional masih bertahan.
Wakil Ketua Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menilai tren pertumbuhan EV di Tanah Air masih terlalu dini. Karena, menurutnya, Gaikindo mengumpulkan data pertumbuhan EV secara bulanan.
Kukuh juga menampik tren kendaraan listrik juga muncul karena dampak krisis energi. “Apakah itu betul dampak dari krisis energi? Sejauh ini kan harga bahan bakar belum naik (di dalam negeri). Tapi intinya kita harus berhati-hati karena ada potensi bahwa harga bahan bakar akan naik setiap saat,” kata Kukuh saat dihubungi KabarBursa.com beberapa waktu lalu.
Kukuh mengakui jika tren EV meningkat signifikan karena berbagai faktor, termasuk efek domino kenaikan harga minyak global. “Betul (Tren EV dari tahun ke tahun tumbuh signifikan), EV sekarang itu market share-nya terakhir sekitar 15 persen dan itu bisa terus meningkat,” tuturnya.
Menurutnya, peningkatan tren EV juga karena masyarakat juga diminta untuk ikut melakukan tindakan-tindakan penghematan. Namun, menurutnya, EV saat ini masih konsentrasinya di perkotaan dan untuk kendaraan-kendaraan yang jauh, mungkin masih konvensional ataupun hybrid.
Meski demikian, pertumbuhan tersebut tidak terjadi tanpa dorongan faktor eksternal, terutama dari sisi energi dan biaya. Dalam beberapa bulan terakhir, pasar energi global mengalami tekanan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak dunia sempat menyentuh sekitar USD100 per barel pada Maret 2026, yang berdampak pada meningkatnya beban subsidi energi Indonesia hingga diperkirakan mencapai USD5,9 miliar.
Di dalam negeri, pemerintah masih menahan kenaikan harga BBM untuk menjaga daya beli, dengan harga Pertalite di kisaran Rp10.000 per liter dan Pertamax sekitar Rp12.300 per liter pada April 2026.
Efisiensi Biaya dan Tekanan Energi Dorong Minat Konsumen
Namun, sebagian harga BBM nonsubsidi mulai mengalami penyesuaian, menunjukkan beratnya tekanan global yang mulai merembes ke pasar domestik.
Selain faktor global, pertimbangan efisiensi biaya juga mulai menjadi faktor penting dalam keputusan konsumen. Secara perhitungan sederhana, kendaraan listrik menawarkan biaya operasional yang lebih rendah.
Dengan tarif listrik sekitar Rp1.444,70 per kWh, biaya penggunaan EV berada di kisaran Rp200–Rp250 per km, sementara kendaraan berbahan bakar bensin berada di kisaran Rp820–Rp1.230 per km, berdasarkan harga Pertamax dan konsumsi rata-rata kendaraan.
“Secara biaya sebenarnya secara umum kan memang udah terlihat ya. Satu liter bensin dan satu kwh listriknya memang udah kelihatan,” kata Brand Communication Senior Manager Wuling Motors, Brian Gomgom, kepada KabarBursa.com, beberapa waktu lalu.
Pria yang akrab disapa Gomgom itu menjelaskan, jika harga satu kWh di DC Charging berada di kisaran Rp2.400-an per kWh. Sedangkan satu liternya bensin aja bisa diangka Rp15 ribuan.
“Jadi dari sisi itu aja udah terlihat sih. Untuk operational costnya, energinya sendiri itu udah berbeda jauh sekali,” tuturnya.
Efisiensi inilah yang kemudian mulai memengaruhi cara pandang konsumen terhadap kendaraan listrik. Berdasarkan survei Ipsos Mobility Report Maret 2026 menunjukkan sekitar 60 persen responden di Indonesia menyatakan kendaraan listrik menarik untuk digunakan.
Namun, laporan PwC ASEAN-6 eReadiness 2025 mencatat hanya sekitar 14 persen yang telah memiliki EV, sementara 70 persen masih dalam tahap mempertimbangkan.
Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai, meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik tidak lepas dari kekhawatiran terhadap kondisi energi global yang tidak menentu.
Menurut dia, yang menjadi perhatian bukan hanya potensi kenaikan harga bahan bakar, tetapi juga kemungkinan terjadinya kelangkaan atau pembatasan distribusi pada masa depan.
“Yang dikhawatirkan itu bukan hanya harga naik. Kalau sampai terjadi kelangkaan atau pembatasan pembelian, orang akan berpikir, kalau punya kendaraan tapi tidak bisa mendapatkan bahan bakar, untuk apa,” kata Bebin kepada KabarBursa.com.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kondisi ekonomi domestik yang belum sepenuhnya pulih menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong adopsi kendaraan listrik.
“Daya beli belum pulih. Jadi tidak mudah bagi masyarakat untuk langsung beralih ke kendaraan listrik, apalagi harga awalnya masih relatif tinggi,” ujarnya.
Di tingkat pelaku industri, perubahan minat tersebut mulai tercermin dari pola permintaan di pasar. Manager PR dan Motorsport PT Toyota Astra Motor (TAM), Philardi Ogi, mengatakan bahwa pada model yang memiliki opsi elektrifikasi, komposisi pembelian varian hybrid kini telah mendominasi.
“Sejak tahun 2025, Toyota mencatat bahwa rata-rata komposisi pembelian varian Hybrid telah mencapai sekitar 80 persen dibandingkan varian non-hybrid pada model yang memiliki opsi elektrifikasi,” ujar Philardi kepada KabarBursa.com.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa preferensi konsumen terhadap teknologi elektrifikasi sebenarnya telah mulai terbentuk, bahkan sebelum adanya dinamika tekanan energi seperti saat ini.
Sementara itu, dari sisi kendaraan listrik murni, peningkatan minat juga mulai terlihat dari aktivitas konsumen di tingkat dealer.
Gomgom mengatakan, jumlah masyarakat yang mencari informasi terkait kendaraan listrik terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
“Memang belum bisa dilihat berapa persen kenaikannya, tapi minat bertanya dan mencari tahu soal mobil listrik itu meningkat. Orang jadi lebih aware dengan EV,” kata dia.
Ia menambahkan, konsumen saat ini semakin memperhatikan aspek efisiensi energi, mulai dari biaya pengisian daya, kapasitas baterai, hingga metode pengisian yang tersedia.
Sejalan dengan dinamika pasar tersebut, pemerintah juga mulai memperkuat arah kebijakan kendaraan listrik. Dari sisi kebijakan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menempatkan kendaraan listrik sebagai bagian dari agenda industrialisasi jangka menengah.
Dalam Laporan Kinerja (LAKIP) IMATAP 2025, porsi produksi kendaraan listrik roda empat tercatat mencapai 2,09 persen dari total produksi nasional, melampaui target sebesar 1,00 persen.
Kemenperin menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kendaraan listrik tidak lagi berada pada tahap awal, tetapi mulai menjadi bagian dari struktur industri otomotif nasional.
“Capaian ini menegaskan bahwa kebijakan pengembangan kendaraan listrik nasional telah berada pada arah yang tepat dan mulai terinternalisasi secara struktural dalam sistem produksi industri otomotif,” tulis Kemenperin dalam dokumen tersebut.
Minat Meningkat tapi Adopsi Terhambat
Ke depan, pemerintah menargetkan penguatan industri kendaraan listrik melalui peningkatan kapasitas produksi domestik. Kemenperin menyebut pada 2030 industri otomotif nasional ditargetkan mampu memproduksi 9 juta unit sepeda motor listrik dan 600 ribu unit kendaraan listrik roda empat atau lebih.
Namun, di balik tren tersebut, adopsi kendaraan listrik masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Salah satu yang paling menonjol adalah kesiapan infrastruktur pengisian daya.
Data PT PLN (Persero) menunjukkan jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) pada 2025 mencapai 4.655 unit dan meningkat menjadi 4.769 unit pada 2026 yang tersebar di lebih dari 3.000 lokasi. Meski bertambah, persebarannya masih belum merata di seluruh wilayah.
Kukuh Kumara mengakui, ketersediaan infrastruktur menjadi salah satu faktor yang masih perlu diperbaiki dalam mendorong penggunaan kendaraan listrik secara lebih luas.
“Infrastruktur harus diakui belum merata. Ini yang menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan kendaraan listrik,” ujarnya.
Selain itu, struktur pasar otomotif nasional yang masih didominasi segmen harga menengah ke bawah juga menjadi kendala.
Kukuh menyebut sekitar 70 persen konsumen membeli kendaraan di bawah Rp300 juta, sementara sebagian besar kendaraan listrik masih berada di atas kisaran tersebut.
Di sisi lain, konsumen juga masih dihadapkan pada ketidakpastian terkait nilai jual kembali kendaraan listrik serta kesiapan ekosistem pendukung.
“Sekarang ini belum ada gambaran jelas, mobil listrik yang dibeli hari ini nilainya berapa tiga sampai lima tahun ke depan. Ini yang membuat konsumen masih ragu,” kata Bebin.
Ia menambahkan, percepatan pengembangan kendaraan listrik juga membutuhkan kesiapan ekosistem industri yang lebih luas, termasuk dari sisi sumber daya manusia dan jaringan layanan.
“Kendaraan ini nanti akan tersebar ke berbagai daerah. Tapi siapa yang merawat? Ini membutuhkan kesiapan tenaga kerja dan ekosistem yang tidak kecil,” ujarnya.
Dengan demikian, meskipun tren kendaraan listrik menunjukkan arah yang semakin menguat, adopsi secara luas masih menghadapi berbagai tantangan.
Pergeseran preferensi konsumen memang mulai terbentuk, namun realisasi menuju pasar yang sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik masih memerlukan waktu serta dukungan ekosistem yang lebih matang.(*)