Logo
>

PT Dharma Polimetal (DRMA) Respons Tren Baterai Sodium dari China

DRMA menilai baterai sodium ion berpotensi untuk EV murah, namun saat ini teknologi lithium LFP masih lebih efisien dan relevan bagi pasar massal.

Ditulis oleh Harun Rasyid
PT Dharma Polimetal (DRMA) Respons Tren Baterai Sodium dari China
DRMA bicara potensi dan industri baterai lithium hingga ion natrium di Indonesia. Foto: Harun/KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) bicara kemungkinan Indonesia dalam pengguna aki berbasis ion natrium.

Aki ion natrium atau sodium ion dapat menjadi alternatif lebih terjangkau dalam komponen penyimpanan energi listrik, termasuk untuk sektor otomotif.

DRMA sendiri sudah memiliki produk aki dengan basis lithium yang memiliki sejumlah keunggulan dalam hal bobot yang lebih ringan, sampai masa pemakaian lebih panjang dibanding aki konvensional.

Head of Business Development PT Dharma Polimetal Tbk, Eko Maryanto mengatakan, teknologi aki atau baterai kendaraan selalu berkembang, termasuk hadirnya ion natrium seperti yang terjadi di China.

"Kemajuan teknologi untuk penyimpanan energi itu kan cepat. Tapi, sebetulnya kalau kita melihat kondisi saat ini, secara energi penyimpanan itu paling efisien masih di LFP (Lithium Ferro Phosphate)," ujarnya kepada media di ajang IIMS 2026, belum lama ini.

Menurut Eko, baterai LFP seperti yang sudah dipasarkan DRMA, terhitung lebih fleksibel secara bobot dan volumenya ketimbang ion natrium saat ini. Sehingga, tidak memakan ruang besar untuk diletakkan di suatu kendaraan. 

"Kalau kita bicara sodium itu kebetulan karena density energinya lebih rendah. Sehingga ukurannya bisa dua sampai tiga kali dari ukuran LFP," sebutnya.

DRMA memutuskan akan mengikuti perkembangan basis baterai lithium maupun sodium. Sebab teknologi harus terus diikuti. Selain itu, DRMA menilai di masa depan ion natrium akan digunakan untuk mobil listrik dengan harga terjangkau di pasaran.

"Kita ikut keduanya. Kemungkinan sodium akan digunakan oleh mobil-mobil murah. Di sisi lain lithium juga ada pengembangannya yaitu LMPF yang ada mangan. Ini punya density lebih tinggi. Hanya saja harganya masih tinggi untuk sekarang," ungkap Eko.

Karena lebih relevan, DRMA akan lebih terfokus dengan produk baterai LFP. Sebab pasar otomotif secara massal masih lebih menyerap baterai lithium.

Hal ini bisa dilihat dari pasar mobil listrik dengan berbagai modelnya yang mengusung baterai jenis LFP, seperti halnya BYD, Wuling, Chery dan sebagainya.

"Untuk mobil produksi massal yang seperti sekarang, kemudian di mobil-mobil China itu semuanya menggunakan LFP. Bukan NMC (Nickel Manganese Cobalt). Jadi kita akan fokusnya di LFP saja dan berikutnya sama ion natrium," jelas Eko.

Namun, baterai ion natrium yang bahan bakunya diklaim lebih murah dan melimpah dibanding lithium, rupanya masih memiliki tantangan dalam proses produksinya. 

Eko menyebut, baterai ion natrium tantangannya berada di bahan baku grafit sebagai material anoda. "Grafitnya kan masih mahal ya. Kalau sodiumnya murah, air laut kan banyak. Tapi kan grafitnya untuk di anodanya kan masih perlu. Jadi secara teknologi dia perlu waktu untuk mendapatkan skala ekonominya," pungkasnya.

Sebagai informasi, kehadiran baterai ion natrium pertama kali diumumkan oleh industri otomotif China lewat perusahaan baterai CATL. Di China, baterai ion natrium terus dikembangkan dan mulai digunakan oleh kendaraan komersial hingga penumpang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.