KABARBURSA.COM - Pergerakan bisnis PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) mulai menunjukkan perubahan arah yang lebih terstruktur, seiring pergeseran komposisi pendapatan dari distribusi energi menuju sumber yang lebih berulang.
Indikasi ini terlihat jelas dari lonjakan pendapatan segmen utilitas yang tumbuh 129 persen sepanjang 2025. Angka ini secara langsung mengubah peta kontribusi lini usaha di dalam grup.
Segmen utilitas yang mencakup penyediaan listrik dan layanan energi di kawasan industri JIIPE kini mulai mengambil peran lebih besar dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan ini berjalan beriringan dengan peningkatan pendapatan kawasan industri secara keseluruhan, yang melonjak 113 persen secara tahunan menjadi Rp2,54 triliun.
Di dalamnya, penjualan lahan menjadi kontributor utama dengan nilai Rp1,82 triliun atau naik 107 persen. Sementara, pendapatan listrik dan utilitas mencapai Rp727 miliar, tumbuh 129 persen.
Operasional Smelter Freeport Dorong Permintaan Utilitas
Perubahan komposisi ini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung langsung dengan pengembangan ekosistem industri di JIIPE. Aktivitas tenant yang meningkat, termasuk potensi beroperasinya smelter Freeport secara penuh pada kuartal IV-2026, menjadi salah satu pendorong utama permintaan utilitas.
Selain itu, masuknya Xinyi Solar sebagai bagian dari tenant, juga memperluas basis konsumsi energi. Kombinasi sentiment ini pada akhirnya memperkuat karakter pendapatan berulang bagi AKRA.
Target Pertumbuhan Utilitas di 2026
Sejalan dengan arah tersebut, manajemen menargetkan pertumbuhan pendapatan utilitas sebesar 50 persen pada 2026. Target ini menempatkan segmen utilitas sebagai salah satu mesin pertumbuhan utama, melengkapi lini trading dan distribusi yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis.
Dalam struktur saat ini, trading dan distribusi masih mendominasi dengan kontribusi Rp41,31 triliun pada 2025. Namun, pertumbuhan utilitas menunjukkan laju yang lebih cepat dalam mengubah komposisi total pendapatan.
Kinerja Keuangan AKRA
Dari sisi kinerja kuartalan, AKRA mencatat laba bersih Rp822 miliar pada kuartal IV-2025, naik 75 persen secara kuartalan dan 9 persen secara tahunan. Peningkatan ini mendorong total laba bersih sepanjang 2025 menjadi Rp2,47 triliun, tumbuh 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan mencapai sekitar 98 persen dari estimasi konsensus.
Pada saat yang sama, EBITDA tercatat Rp3,61 triliun atau naik 18 persen secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan operasional yang tetap terjaga.
Lonjakan laba pada kuartal IV tidak terlepas dari kontribusi penjualan lahan JIIPE yang mencapai 62 hektare, dibandingkan tidak adanya penjualan pada kuartal sebelumnya dan hanya 6 hektare pada periode yang sama tahun lalu.
Secara tahunan, total penjualan lahan mencapai 84 hektare atau naik 121 persen, setara dengan 84 persen dari target yang ditetapkan perusahaan. Data ini menunjukkan bahwa kontribusi kawasan industri terhadap profitabilitas mulai meningkat secara signifikan, meskipun bersifat tidak berulang.
Di sisi lain, segmen trading dan distribusi tetap mencatatkan kinerja positif dengan laba sebelum pajak sebesar Rp803 miliar pada kuartal IV-2025, naik 58 persen secara kuartalan.
Kinerja ini terjadi di tengah kondisi yang sebelumnya diwarnai potensi gangguan suplai, namun aktivitas produksi sektor pertambangan yang meningkat untuk mengejar kuota RKAB turut menjaga permintaan energi tetap stabil.
Meski demikian, margin perusahaan menunjukkan dinamika yang relatif terbatas. Margin EBITDA tercatat 7,8 persen pada 2025, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, margin laba bersih berada di kisaran 5,4 persen.
Pada tingkat kuartalan, margin sempat melebar di kuartal IV seiring peningkatan kontribusi penjualan lahan, namun secara tahunan pergerakannya masih berada dalam rentang yang sempit.
Rekomendasi Analis dan Target Harga
Dari sisi rekomendasi analis, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli dengan menaikkan target harga saham AKRA menjadi Rp1.600 dari sebelumnya Rp1.525. Penyesuaian ini mencerminkan perubahan valuasi yang mempertimbangkan potensi pertumbuhan dari segmen utilitas dan kawasan industri.
Di sisi pasar, harga saham tercatat berada di level Rp1.420, atau masih di bawah target tersebut pada saat laporan dirilis.
Sementara itu, pendekatan lain menunjukkan posisi yang lebih berhati-hati. Dengan realisasi kinerja yang telah sejalan dengan ekspektasi, ruang katalis jangka pendek dinilai masih terbatas.
Perhatian selanjutnya tertuju pada realisasi penjualan lahan tambahan sekitar 20 hektare pada semester I-2026, yang dikaitkan dengan masuknya tenant baru di kawasan JIIPE. Untuk sepanjang 2026, target penjualan lahan berada di kisaran 90 hingga 100 hektare.
Di tengah rencana tersebut, faktor eksternal tetap menjadi bagian dari variabel yang memengaruhi kinerja, terutama terkait kepastian suplai diesel. Kondisi geopolitik global yang masih berfluktuasi dapat berdampak pada segmen trading dan distribusi, yang hingga kini masih menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan.
Dengan kombinasi antara percepatan utilitas, kontribusi kawasan industri, serta stabilitas distribusi energi, struktur bisnis AKRA mulai bergerak ke arah yang lebih berimbang. Data kinerja 2025 menunjukkan adanya pergeseran yang mulai terbentuk, dengan segmen berulang meningkat perannya di dalam keseluruhan portofolio pendapatan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.