KABARBURSA.COM – Sebagai upaya memperkuat posisi Indonesia menjadi pemain kunci dalam ekonomi syariah dunia, Kabar Grup Indonesia, UIN Sunan Kalijaga, dan Business Leaders Network (B57+) resmi berkolaborasi menyelenggarakan Forum Ekonomi Regional Jawa Halal Ecosystem 2026.
Forum dengan tema "Penguatan Ekosistem Halal untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan" ini diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada Kamis, 4 Juni 2026.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan CEO PT Kabar Grup Indonesia (KGI Network), Upi Asmaradhana serta banyak banyak pembicara lainnya.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan ekosistem halal internasional.
Potensi tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari industri makanan dan minuman halal, modest fashion, wisata halal, industri kreatif, keuangan syariah, hingga akselerasi gaya hidup halal berbasis digital.
Pemerintah terus menunjukkan komitmen tinggi melalui berbagai kebijakan, seperti percepatan proses sertifikasi halal, penguatan daya saing industri, pemberdayaan UMKM, hingga program peningkatan literasi ekonomi syariah bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Nasaruddin Umar menekankan pentingnya umat Islam untuk tidak hanya mengonsumsi produk yang halalan thayyiban (halal dan baik), tetapi juga mubarakah (membawa keberkahan).
Menurutnya, ketiga dimensi tersebut merupakan kunci bagi setiap individu untuk menghasilkan energi positif yang mampu mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menag menjelaskan bahwa konsumsi yang tidak berkah berpotensi menghasilkan energi negatif atau energi campuran. Ia menegaskan bahwa setiap individu yang ingin menebarkan energi positif harus memastikan apa yang dikonsumsi memenuhi kriteria tersebut.
“Setetes daging haram di dalam tubuh kita, mustahil surga akan menerima kita. Maka, dimensi halal jangan dipisahkan dengan thayyibah dan mubarakah,” ujar dia.
Lebih lanjut, Nasaruddin meyerukan untuk mulai memposisikan Indonesia bukan sekadar sebagai konsumen pemikiran peradaban Islam dari Timur Tengah, melainkan menjadi produsen. Ia optimistis Indonesia mampu menciptakan peradaban Islam versi nusantara yang dapat menjadi rujukan bagi negara-negara lain.
"Sudah waktunya sekarang ini Timur Tengah belajar ke Indonesia," tegasnya.
Nasaruddin juga menyoroti tantangan kesadaran syariah di Indonesia yang masih perlu ditingkatkan. Ia membandingkan data perilaku syariah antara Indonesia dan Malaysia.
Berdasarkan penelitian, kata dia, tingkat perilaku syariah di Malaysia mencapai 67 persen dari total penduduk muslimnya. Sementara di Indonesia, angka tersebut masih berada di kisaran 7,5 persen.
"Saya mohon betul, mari UIN Yogyakarta menciptakan perubahan drastis. Jika bukan bersumber dari UIN, dari mana lagi? Saya minta UIN Yogyakarta untuk menjadi pelopor dalam mewujudkan ekosistem halalan thayyiban dan mubarakah ini," jelasnya.
Dalam kesempatan serupa, Upi Asmaradhana mengatakan Forum Ekonomi Regional Jawa 2026 merupakan upaya untuk terus memperbaiki dan berupaya berkontribusi untuk negeri.
"Sebuah upaya yang kami lakukan sebagai wujud partisipasi media, wujud partisipasi masyarakat, untuk memberi hal-hal yang bisa kami sumbangkan buat republik ini," ujar dia.
Dengan tema"Membangun Ekosistem Halal yang Komprehensif, Inklusif, dan Berkelanjutan" ia menyatakan hal ini bertujuan untuk memperkuat daya saing ekonomi daerah dan nasional.
Upi menegaskan rangkaian seperti Forum Ekonomi Regional Jawa ini akan terus diakukan sebagai upaya memberi pemahaman bahwa Indonesia sebenarnya memiliki sisi positif yang perlu disoroti.
"Dari Yogyakarta kita ingin menyebarluaskan ekosistem halal, ekonomi syariah dan juga potensi dunia Islam yang sesungguhnya sangat besar," pungkasnya. (*)