KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Hingga pukul 09.57 WIB, IHSG merosot 288,30 poin atau 4,85 persen ke level 5.652,76, memperpanjang tren pelemahan tajam yang telah terjadi sejak perdagangan sebelumnya.
Sepanjang sesi perdagangan pagi, aksi jual terjadi hampir di seluruh sektor seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar keuangan domestik. Koreksi tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya IHSG juga anjlok lebih dari 4 persen dan sempat menyentuh level terendah di kisaran 5.882.
Data perdagangan menunjukkan volume transaksi di seluruh pasar mencapai 130,18 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp7 triliun dari 773 ribu kali transaksi. Di pasar reguler, volume perdagangan tercatat 126,41 juta lot dengan nilai Rp6,73 triliun dan frekuensi transaksi mencapai 772,95 ribu kali.
Tekanan terhadap indeks terutama berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan IHSG. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), emiten petrokimia dan bahan baku, terkoreksi 9,9 persen. Sementara PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dari sektor pertambangan logam turun 9,37 persen.
Di sektor perbankan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 3,17 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 3,1 persen, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 2,22 persen. Pelemahan saham-saham perbankan tersebut turut memperdalam penurunan indeks karena kontribusinya yang besar terhadap kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.
Tekanan di pasar saham juga terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Morningstar pada Kamis pagi, kurs rupiah berada di level Rp18.023 per dolar Amerika Serikat, menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar.

Pelemahan mata uang domestik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas makroekonomi nasional, terutama terkait biaya impor, beban utang luar negeri korporasi, serta risiko kenaikan inflasi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan aktivitas bisnis.
Dari eksternal, sentimen pasar turut dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global. Mayoritas bursa saham regional Asia dan pasar global bergerak di zona merah menyusul perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko.
MNC Retail Research menyebut koreksi yang terjadi pada perdagangan hari ini merupakan kelanjutan dari tekanan jual yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir. "IHSG pada 4 Juni 2026 kembali dikoreksi lebih dari 4 persen, melanjutkan tekanan penjualan pada perdagangan sebelumnya," tulis MNC Retail Research dalam riset hariannya.
Menurut MNC Retail Research, pelemahan IHSG dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, TPIA, BMRI, BBRI, dan AMMN yang mengalami koreksi signifikan pada sesi perdagangan pagi.
Lembaga riset tersebut juga menilai pelemahan pasar domestik sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang bergerak di zona negatif akibat meningkatnya ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi Amerika Serikat dan Iran. "Pelemahan pasar domestik selaras dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang berada di zona merah," tulis MNC Retail Research.
Selain itu, MNC Retail Research menyoroti pelemahan rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar AS sebagai faktor yang memperbesar kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi nasional. Tekanan tambahan juga datang dari aksi jual investor asing yang masih berlangsung.
Pada perdagangan 3 Juni 2026, investor asing tercatat membukukan net foreign sell sebesar Rp993,23 miliar. MNC Retail Research menyebut tekanan jual asing tersebut masih menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan IHSG di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
Kombinasi pelemahan rupiah, arus keluar dana asing, tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar, serta sentimen global yang kurang kondusif membuat pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan stabilitas nilai tukar dan sentimen global untuk melihat peluang meredanya tekanan jual dalam jangka pendek.(*)