KABARBURSA.COM – Kinerja PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya sejalan antara pertumbuhan pendapatan dan tekanan profitabilitas.
Di satu sisi, capaian pendapatan melampaui proyeksi analis. Namun di sisi lain, margin dan laba bersih bergerak di bawah ekspektasi awal.
NHKSI Research mencatat, pendapatan SMDR pada tahun buku 2025 mencapai USD802 juta atau setara 101 persen dari target proyeksi. Realisasi tersebut ditopang oleh kontribusi kuat dari pasar regional di luar Indonesia, khususnya Asia Tenggara, yang mencatat pertumbuhan 17 persen secara tahunan menjadi USD265 juta.
Sementara itu, di kawasan Timur Tengah dan India mencatat kenaikan 8 persen menjadi USD91 juta. Begitu pula dengan segmen negara lain yang tumbuh 13 persen menjadi USD8 juta.
Kontribusi Indonesia tetap menjadi yang terbesar dengan porsi sekitar 55 persen terhadap total pendapatan. Tapi sayangnya, pertumbuhannya tercatat paling rendah dibandingkan wilayah lain.
Pendapatan dari pasar domestik hanya meningkat 5 persen secara tahunan menjadi USD439 juta. Hal ini mencerminkan perlambatan relatif dibanding ekspansi regional.
Margin Tertekan, Laba Bersih Tumbuh Dua Persen
Di tengah pertumbuhan tersebut, tekanan mulai terlihat pada sisi margin. Gross margin SMDR pada 2025 tercatat turun menjadi 18 persen dari sebelumnya 20 persen pada 2024. Penurunan ini terjadi seiring dengan naiknya biaya operasional, terutama pada komponen shipping dan agency cost yang meningkat 15 persen menjadi USD524 juta.
Dari sisi laba, kinerja menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya, namun belum mencapai target proyeksi. Net profit margin turun menjadi 6,5 persen dari 6,9 persen pada 2024.
Tapi jika dilihat secara tahunan, laba bersih tumbuh sekitar 2 persen setelah sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 32 persen pada 2024. Capaian ini setara dengan sekitar 81 persen dari target yang ditetapkan analis.
Perbedaan arah antara pendapatan dan laba ini menegaskan bahwa tekanan biaya menjadi faktor dominan dalam membentuk kinerja 2025. Kenaikan biaya operasional terjadi dalam konteks meningkatnya aktivitas logistik, namun belum sepenuhnya diimbangi oleh efisiensi atau penyesuaian tarif.
Startegi Ekspansi 2026
Memasuki 2026, SMDR mulai mengarahkan strategi ekspansi ke pasar baru sebagai upaya diversifikasi. Perusahaan membentuk joint venture melalui Samudera Japan K.K. bersama Imoto Corporation dengan nama Blue Ocean Shipping Co. Ltd (BOS).
Entitas ini difokuskan untuk menangkap peluang pendapatan logistik kontrak di Jepang.
Sebagai bagian dari penguatan operasional, BOS telah mengakuisisi dua kapal dari Imoto Lines pada 17 Maret 2026, yaitu MV Sagami dan MV Hyogo. Langkah ini menandai ekspansi langsung SMDR ke pasar Jepang di tengah kondisi geopolitik global yang mempengaruhi jalur distribusi logistik.
Di sisi lain, aktivitas operasional di dalam negeri juga mengalami penguatan melalui keterlibatan di Patimban Global Gateway Terminal. Pada Maret 2026, SMDR melayani kapal MSC Hanisha III dengan kapasitas 2.500 TEUs untuk rute Shanghai–Patimban.
Aktivitas ini menjadi bagian dari pengembangan konektivitas logistik yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan layanan, khususnya untuk rute Singapura–Patimban.
Rekomendasi NHKSI
Dalam riset terbarunya, NHKSI mempertahankan rekomendasi buy untuk saham SMDR dengan target harga dinaikkan menjadi Rp500 per saham dari sebelumnya Rp400. Penyesuaian target tersebut mempertimbangkan dinamika eksternal yang mempengaruhi industri pelayaran.
Faktor geopolitik menjadi salah satu variabel utama, terutama konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur pelayaran global dan biaya logistik. Kondisi tersebut mendorong kenaikan tarif pengiriman, yang pada sisi tertentu memberikan dukungan terhadap pendapatan perusahaan.
Di saat yang sama, tekanan dari sisi pasokan global dinilai mulai mereda. NHKSI mencatat bahwa kebijakan tarif global sebesar 15 persen serta kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia pada awal 2026 menjadi faktor yang berpotensi menahan tekanan dari kenaikan harga energi.
Dari sisi valuasi, saham SMDR saat ini diperdagangkan pada level price to earnings ratio (P/E) sebesar 6,91 kali, berada sekitar satu standar deviasi di atas rata-rata tiga tahun terakhir. Posisi ini mencerminkan penyesuaian pasar terhadap perubahan ekspektasi kinerja dan dinamika sektor logistik global.
Namun demikian, sejumlah risiko tetap tercatat dalam proyeksi ke depan. Di antaranya potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz yang dapat mempengaruhi jalur distribusi energi dan logistik, kenaikan harga bahan bakar yang berdampak langsung pada biaya operasional, serta potensi perlambatan pengiriman domestik seiring kondisi makroekonomi.
Pergerakan kinerja SMDR saat ini menunjukkan kombinasi antara ekspansi pendapatan lintas wilayah dan tekanan biaya yang masih berlangsung. Data sepanjang 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan bagaimana faktor eksternal seperti geopolitik, tarif perdagangan, dan harga energi berinteraksi langsung dengan struktur biaya dan strategi ekspansi perusahaan di sektor pelayaran.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.