KABARBURSA.COM – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sedang on fire. Setelah mencatatkan tekanan laba pada kuartal IV-2025, kinerja di awal tahun ini mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026 (Q1-2026), laba bersih PGAS tercatat sebesar USD90 juta. Angka ini meningkat sebesar 46 persen secara tahunan, dari USD62 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Analis Stokbit Theodorus Melvin, menyebut bahwa capaian ini sedikit melampaui ekspektasi pasar karena sudah merepresentasikan sekitar 27 persen dari estimasi konsensus sepanjang 2026.
“Kinerja ini mencerminkan pemulihan laba bersih setelah tekanan non-operasional pada akhir 2025,” tulis Theodorus dalam risetnya, Senin, 27 April 2026.
Tidak hanya laba bersih, laba usaha juga tumbuh 17 persen secara tahunan menjadi USD119 juta, meskipun mengalami penurunan secara kuartalan.
Di balik pertumbuhan tersebut, ekspansi margin menjadi faktor yang paling menonjol. Margin laba usaha naik menjadi 12,8 persen, dari sebelumnya 10,5 persen pada kuartal I 2025. Peningkatan ini ditopang oleh lonjakan spread gas trading sebesar 37 persen secara tahunan menjadi USD2,07 per MMBTU, yang mengimbangi penurunan volume perdagangan gas.
Volume operasional justru menjadi sisi yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Realisasi volume gas trading tercatat sebesar 777 BBTUD atau turun 10 persen secara tahunan dan berada di bawah target manajemen.
Kondisi serupa juga terjadi pada segmen hulu dan transportasi minyak yang masing-masing masih berada di bawah guidance yang telah ditetapkan.
Namun, tidak semua segmen mengalami tekanan. Aktivitas regasifikasi justru melampaui target dengan realisasi sekitar 20 persen di atas guidance.
Perbedaan kinerja antar segmen ini menunjukkan bahwa pemulihan PGAS belum merata dan masih bergantung pada dinamika operasional di masing-masing lini bisnis.
Selain faktor operasional, perbaikan laba juga dipengaruhi oleh komponen non-operasional. Beban lain-lain tercatat relatif rendah hanya sekitar USD1 juta, jauh di bawah periode sebelumnya yang sempat terbebani impairment hingga USD99,5 juta. Kerugian selisih kurs juga menyusut signifikan menjadi USD2 juta dari sebelumnya USD20 juta.
Kontribusi dari entitas asosiasi turut memberikan tambahan dorongan terhadap laba. Pendapatan dari joint venture tercatat sebesar USD22 juta. Angka ini meningkat, baik secara tahunan maupun kuartalan.
Dari sisi sentimen pasar, kinerja ini ditempatkan dalam posisi netral hingga positif. Pemulihan laba tanpa adanya beban besar dinilai dapat membuka ruang respons jangka pendek dari investor. Namun perhatian utama tetap tertuju pada kemampuan perusahaan dalam memulihkan volume operasional pada paruh pertama tahun ini.
Potensi Dividen
Selain kinerja, faktor dividen juga mulai menjadi perhatian. Dengan asumsi dividend payout ratio di kisaran 80 hingga 100 persen, dividen tahun buku 2025 diperkirakan berada di rentang Rp121 hingga Rp151 per saham.
Pada harga saham sekitar Rp1.930, angka tersebut mencerminkan potensi imbal hasil sekitar 6,3 hingga 7,8 persen.
Skenario lain juga masih terbuka, jika perusahaan mempertahankan dividen seperti tahun sebelumnya sebesar Rp182,08 per saham. Dalam skenario tersebut, potensi yield dapat mencapai sekitar 9,4 persen, dengan kebutuhan dana sekitar USD260 juta.
Posisi kas PGAS yang mencapai USD1,36 miliar per kuartal I 2026 menunjukkan kapasitas pendanaan yang masih memadai.
Perkembangan ini menempatkan PGAS dalam fase transisi antara pemulihan dan konsolidasi. Di satu sisi, struktur laba mulai menunjukkan perbaikan yang lebih stabil. Di sisi lain, realisasi volume operasional masih menjadi variabel utama yang akan menentukan arah kinerja berikutnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.